"Lalu, dimanakah tempat aku bisa menemukan sang bijak?"

"di Cina", kata sinar mentari singkat

 Kembali awan biru dengan taatnya mengantarkan mereka keluar dari hutan, 
bergerak cepat di angkasa, meliuk-liuk, berbelok ke kanan dan kadang ke 
kiri,

kemudian berhentilah mereka di atas Cina.

Melalui keagungan karya Cina yang disombongkan, yang konon mereka percayai 
bisa melihat lingkar liak liuk tembok Cina jika dilihat dari bulan.

Berada di sebelah dalam tembok itu, sinar mentari memberi isyarat pada tulip 
untuk menunggu.

Menunggu di bagian sebelah dalam, dibawah tembok Cina.

 Beberapa ayunan dedaunan kemudian,

Sosok tubuh gemuk berbalut warna hitam, tampak turun dari salah satu lobang 
yang menganga di tembok.

Sang bijak tersenyum, dan dengan menepuk kedua tangannya berjatuhanlah buah 
segar dan air yang menghilangkan dahaga.

Ia membuka pembicaraan,

"Berjual belilah engkau dengan sang matahari", katanya

"Kalau tidak, engkau akan menjadi makhluk yang merugi. Sebab semuanya 
sebenarnya ada di dalam kerugian. Kecuali mereka yang mau berjual beli 
dengan sang matahari"

"bukankah tak ada yang bisa berjual beli dengan sang matahari?, kecuali 
mereka yang mau menerima kehendaknya? jika ia menghendaki sinarnya untuk 
dibagi, maka penerimaan terhadap pembagian itu merupakan penerimaan terhadap 
kehendaknya...", kata sinar mentari sambil memperkuat panas sinarnya

Sang tulip merasa gerah, tak memahami akan maksud pembicaraan ini.

Ia merasakan sebagian kulit ari luarnya mengelupas terkena sinar mentari.

 Sang bijak menimpali. 

"Tidak hanya itu yang harus dilakukan jika engkau berjual beli dengan sang 
matahari, melainkan sadarilah dan perhatikanlah, 

bahwa hutan tempat engkau tinggal itu adalah racun. Duniamu itu adalah 
racun, racun yang menggerogoti tubuh jasmanimu dan diri ruhanimu.

Kalau engkau tidak pandai-pandai menggunakannya, kalau engkau tidak mampu 
mengendarai duniamu itu, tunggulah racun dunia akan menyebar dan 
menghancurkan dirimu.

Hutanmu itu adalah tempat yang sementara, duniamu adalah tempatnya sendau 
gurau dan permainan saja.

 Sang tulip tercekat meski tak paham. Ia masih mencoba mengerti, apa yang 
dibicarakan dan untuk apa dibicarakan.

Tapi waktu sang bijak terbatas, ia berdiri dan kemudian segera berlari 
memasuki salah satu lobang yang ada di dalam tembok cina.

 Sang tulip melihat sinar mentari dan sinar mentari mengangguk dan berkata,

"Ayuk tulip, aku akan mengajarmu untuk mendengarkan suara bintang-bintang di 
langit"

"Untuk apa ?", Tanya tulip.

"Alam semesta memiliki bahasa yang universal.Bahasa bebatuanÂ…bahasa 
rerumputan..bahasa pepohonan..bahasa hewan-hewan..bahasa manusia semuanya 
ada di dalam pondasi bahasa universal. Semuanya bisa saling memahami dengan 
bahasa universal.

Cahaya sang matahari bersinar di dalam bahasa yang universal. Kalau engkau 
ingin bertemu sang matahari, kalau engkau ingin berbicara dengan sang 
matahari, maka engkau harus tahu bahasa universal yang dipakainya", terang 
sinar mentari.

 "Tapi haruskah aku tetap memakai balutan rumput-rumput padi istimewa ini?", 
tanyanya.

Sinar mentari tersenyum dan menggeleng,

"Tentu tidak, dan itu mesti di kembalikan ke gunung himalaya"

 Awan biru yang setia tetap menjadi sarana,

kembali ke himalaya dan kembali memasuki gua tempat asalnya,

keanehan terjadi ketika sang tulip keluar dari dalamnya,

kecantikannya berubah berbalut gelap daun pohon jati.


[Non-text portions of this message have been removed]



* http://www.sarikata.com/ * http://www.sarikata.biz/ * 
http://www.sarikata.net/ * 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke