MENGAPA MAMA INGIN AKU PERGI Bunda Suhana*
Warna-warna ceria dikamar Qibty, seorang anak berusia lima tahun enam bulan itu, sama sekali tidak menggambarkan hatinya. Hatinya saat ini sedang sedih, melihat mamanya yang sedang mengepak pakaiannya "Buat apa sich, mama beresin pakaian ku?" tanya Qibty yg melihat mamanya sibuk sedang memasukan beberapa pakaiannya ke dalam tas. "Ayah mau ajak kamu pergi ke rumah nenek, katanya... nenek kangen sama kamu dan minta kamu pergi ke sana" jawab Aida sambil terus membereskan pakaian anaknya. Rio, Ayah Qibty..., tadi pagi datang memberitahu kalau neneknya Qibty ingin melihat cucunya. "Rio, nama itu pernah singgah dihati ku, pernah mengisi hari-hari ku, pernah menjadi orang yang paling kucintai, dulu.... " Aida membatin. "Ma..., tapi aku enggak mau pergi ke rumah nenek ah..?" jawab Qibty acuh "Lho kok, Qibty nggak boleh gitu dong sayang..? Itukan nenek kamu juga? Nanti kalau kamu enggak mau pergi... ayah marahnya sama mama? Nanti ayah pikir, mama yg ajarin kamu untuk tidak mau ikut dengannya.." bujuk Aida pada anaknya yang baru berumur lima tahun setengah itu. "Mama ikut juga kan..?" sambil memperhatikan wajah mamanya Qibty kembali mengajukan pertanyaan buat mamanya. "Eemm... mama nggak bisa ikut? Karena besok mama harus ke kantor, dan belum ijin sama bos mama? Terus nanti mama kena marah sama bos mama?, emang Qibty pengen mama dimarah sama bos mama ya?" Aida kembali harus memberi penjelasan pada anak semata wayangnya itu. "Ya..udah kalo mama enggak ikut, aku juga enggak pergi?!" Qibty mulai merengut, sebenarnya dengan gayanya seperi itu qibty terlihat lucu degan pipinya yang tembem dan bibir yang mengerucut dari pada orang yang sedang ngambek.. "Sayang... kamu enggak ingin kan, mama dituduh mengajar Qibty yang enggak-enggak oleh ayah..? Qibty sayang mama kan nak..? Kalau nenek jadi benci sama mama, gara-gara kamu enggak mau ikut sama ayah ke sana..?" rayu Aida pada anaknya. Tanpa menunggu reaksi Qibty, Aida kembali melanjutkan kalimatnya "Ya sudah... sekarang kamu pergi sama ayah ya? Disana tidak lama, toh nanti kamu balik lagi ke sini sama mama? Nenek hanya kangen dan pingin lihat kamu aja koq...? Mosok Qibty enggak mau...? kan nenekmu bukan yg ada di sini aja...? kalau kamu tetap nggak mau, berarti kamu enggak adil sama nenek di sana...?" Aida mencoba menjelaskan panjang lebar, agar Qibty mau ikut besama ayahnya. "Ayo... sudah selesai belum?" terdengar suara Rio dari luar sedang menunggu Qibty, tapi... bukan Aida. "Tuch... ayah sudah teriak di luar, sekarang kamu pergi sama ayah ya...? Mama akan antar kamu sampe terminal bis, gimana...?". Rayu mama sambil mengusap rambut anaknya dan menatap wajah protesnya, tanpa bicara sang anak berlalu keluar kamar dan menuju pintu keluar tanpa menoleh pada ayahnya yang sedang duduk di ruang tamu. Kemudian diikuti oleh Rio sambil menoleh ke arah Aida, meminta jawaban atas permintaannya membawa Qibty ke rumah ibunya. Aida hanya ikut berlalu menyusul Qibty keluar rumah hingga berjalan bersisian dengan buah hatinya tersebut, tak lama kemudian sang ayah sudah berada di belakang, dan berjalan. Sunyi... tak ada suara apapun dari mereka baik Aida, maupun Ayah. Pun diatas kendaraan umum yg ditumpangi sama sekali diam, tak ada sapa di sana, tak ada tawa bahkan hanya untuk sekedar senyum. Di dalam bis, sesaat hampir sampai pada terminal bis. "Sayang... kenapa kamu menangis..?" Aida memecah kesuyian dengan pertanyaan kepada Qibty, sambil mengusap air mata yg menetes di pipi buah hatinya, yang tiba-tiba menangis. "Ma..., kenapa... mama pingin aku pergi..?" tanya Qibty seraya menatap wajah mamanya. Deg..!! Ya Allah... kenapa anakku sampai berfikir seperti itu, jerit Aida dalam hati, kalau lah barusan ia yang menghapus air mata dari sudut mata Qibty maka sesungguhnya ialah sekarang yang ingin menangis. "Kenapa... Qibty kok bertanya seperti itu..?" tanya mama yg masih mengusap air mata sang anak yang terus mengalir "Kenapa mama pingin aku pergi dengan ayah..?" masih tanya Qibty dalam isaknya tanpa mengindahkan pertanyaan mamanya. "Mama enggak pingin kamu pergi sayang...? Tapi... ayah meminta kamu untuk ikut dengannya..?" jelas mama sambil menahan sesak di dadanya yang menghimpit. Tak terlukis perasaannya kala itu, sungguh!! Aida tak ingin membiarkan Qibty hanya pergi dengan Ayahnya. "Kalau mama enggak pingin aku pergi, kenapa mama suruh aku pergi...?" masih dalam isak, Qibty mencoba mendapatkan jawaban mamanya. "huuu..." Helaaan nafas berat seorang ibu terdengar dalam desahan nafas Aida. "Ya sudah... sekarang kamu maunya apa sayang...?" tanya Aida, sambil mencoba merangkul Qibty, dan meletakkan kepala buah hatinya tersebut di dadanya, sementara tak jauh dari situ sang Ayah hanya memperhatikan adegan itu, seorang ibu dengan anaknya. "Qibty enggak pingin pergi... Qibty pingin disini, sama mama..?" jawab anak sambil mengusap air matanya sendiri dan membersihkah lelehan air dari hidngnya. Aida berada pada posisi yang membingungkan, disatu sisi ia tidak ingin mengecewakan nenek Qibty, ibunya Rio dan Rio sendiri, sementara ia juga tidak kuasa untuk menolak permintaan Qibty. "Mengkomunikasikan ini sama rio??" kata hatinya. "nggak mungkin lah" hati lainnya menolak. Aida menghela nafas berat, "mengapa harus seperti ini??" "bismillah" Aida berusaha mengambil keputusan. "Kalau gitu ya sudah... sekarang kamu enggak usah pergi ya? Kamu disini aja sama mama?" Aida berusaha mengusap wajah anaknya dan menengok ke arah ayah sang anak, seolah-olah meminta pengertian dari sang ayah untuk anaknya, tidak dengan kata-kata, hanya tatapan mata seorang ibu, demi pinta sang buah hati. Ayah hanya terdiam menatap wajah sang anak dengan penuh pertanyaan, yang akhirnya meminta kendaraan umum yang mereka tumpangi untuk berhenti dan membiarkan seorang ibu dan anaknya turun dari kendaraan yang ditumpangi oleh satu keluarga yang dulu pernah utuh. Ya Allah..., tidak ada satu kebahagiaan dari seorang ibu yg mampu menandingi kebahagiannya selain melihat senyum manis dan bahagia dari wajah polos dan lugu buah hatinya. Ya Allah..., tidak ada luka yg lebih perih dari seorang ibu yg melihat tetesan air mata protes ketidak adilan dari buah hatinya. Ya Allah..., janganlah Engkau biarkan diri ini menjadi seseorang yg tidak adil, meskipun pada seseorang yg dibawah kekuasaannya. "Maafkan mama ya sayang" Aida memeluk Qibty... "Mama sayang Qibty". Bunda Suhana adalah ibu dari salah satu mahasiswa indonesia yang belajar di Univ AlAzhar. [Non-text portions of this message have been removed] * http://www.sarikata.com/ * http://www.sarikata.biz/ * http://www.sarikata.net/ * Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
