Ratu Bunga Tulip [6] Berjalanan di atas awan biru diteruskan.
Udara malam yang berhembus tak terasa dinginnya, Terlihat tulip gelisah, tubuhnya sedikit bergetar, Sinar mentari hanya mengamati, dan kemudian bertanya, "Mengapa tulip?" Sang tulip berpikir sejenak kemudian menjawab, "Racun kalajengking menyebabkanku seperti ini. Masih tersisa sebagian racun di dalam diriku.Ketika suatu hari di dalam taman raja tempat aku berdiri dan tumbuh, seekor kalajengking mendatangiku dan kemudian mematuk bagian tubuhku. Aku tak bisa menghindari racunnya sampai sekarang. Meski kemudian si kalajengking meninggalkan diriku, tetapi racunnya ini tetap bersamaku. Kadang kambuh dan racun ini mengingatkanku pada pemiliknya.Bagaimana aku bisa terbebas dari racun ini?" Sinar mentari tersenyum, dan ia hanya bergumam lirih tak terdengar, "bagaimana engkau bisa terbebas dari racun itu? jika engkau sendiri yang sesungguhnya memang menghendaki racun itu selalu ada di dalam dirimu?" "engkau tahu, atau mungkin pura-pura tak tahu, atau mungkin engkau menganggap aku tak tahu, bahwa beberapa macam racun telah mengalir di dalam dirimu...sementara engkau memang tidak berniat untuk mengeluarkan racun itu dari dalam dirimu." "Akankah engkau terus menunggu si kalajengking membawakanmu penawar racunnya yang telah ditanamkan di dalam dirimu?agar kamu bisa merasakan kebahagiaan dengan terbebasnya racun itu?dan kamu merasakan kebahagiaan dengan kebersamaanmu dengan si kalajengking? Sementara sebab racun itu berada di dalam dirimu, maka, semua aktivitas kehidupanmu selalu diketahui oleh si kalajengking. Racun dan kalajengking bukanlah dua hal yang berbeda, melainkan itu adalah hal yang sama saja. Dan ketika racun itu hilang, sementara si kalajengkin bersamamu, maka satu waktu, resiko itu akan selalu ada. Bahwa dirimu akan kembali keracunan" Suasana kembali hening Sinar mentari mengajak tulip ke ujung hutan, diketinggian yang tak terukur, mereka berhenti sejenak dan kemudian mulai melangkah naik dan naik... Duduk di naungi malam dan dihembus angin pegunungan, langit tampat bersih, gelap pekat tapi berbintang.seolah lautan kegelapan yang luas, dengan perahu-perahu bintang yang berlabuh di dermaga langit. Bintang-bintang mulai berkerjapan, memancarkan cahaya yang berbeda-beda lama tidaknya, terang tidaknya....kuat tidaknya cahayanya "bagaimana aku bisa mendengarkan suara bintang-bintang?", tanya tulip kebingungan. "Tutuplah penglihatanmu, tutuplah pendengaranmu, tutuplah penciumanmu, tutuplah rasa lidahmu dan tutuplah sensitifnya permukaanmu, tutuplah semua panca inderamu, turunkan nafsumu dan biarkan kelelahanmu menghilang, keluar dari tubuhmu.. dan kini tutuplah bumi yang tampak ini dengan menguncupkan kelopakmu. Perhatikanlah menggunakan mata hatimu, lihatlah... Betapa cahaya bintang yang silih berganti bercahaya ...meredup...memancarkan sinar cukup..dan memancarkan sinar terang bergantian, selaras, harmonis, dan serasi, bukankah itu menimbulkan suara surgawi ? bukankah sekarang terdengar semua itu menjadi musik yang indah?" Tulip mengangguk, dan berkata,"belum pernah aku bisa merasakan hal yang seperti ini. Belum pernah aku mendengarkan musik seindah iniĀ .sungguh ajaib" Suasana kembali hening, ketika yang terdengar hanya suara dari bintang-bintang yang mengalun seperti musik jazz dari surgawi. Paduan alunan dawai-dawai harpa yunani, denting piano sayap-sayap malaikat, tabuhan genderang kerajaan Cina serasi bertemu di angkasa dengan hembusan terompet dan trombone debu-debu asteroid yang berbenturan dengan meteroit sang Maha. Membawa kenyamanan tersendiri bagi tulip di dalam relung perasaannya. Tulip berkata lembut diantara sela-sela suara indah bintang-bintang dilangit, "Aku tak tahu mengapa begitu mudah aku bercerita tentang diriku kepadamu. Dan aku tak tahu mengapa aku mau mengikuti kamu sinar mentari" Sinar mentari menjawab, "Keseimbangan di dalam alam menumbuhkan hal-hal yang diluar dugaan. Pertemuan ini bukanlah suatu kebetulan, sebab kebetulan itu sendiri memang tidak ada. Melainkan semua peristiwa itu, sudah ada di dalam benang-benang takdir yang dirajut oleh sang Maha Kuasa. Ini sudah menjadi tugasku untuk mengantarkanmu, entah sampai dimana engkau sanggup untuk menempuh perjalanan ini. Entah sampai dimana engkau akan sanggup menyertaiku. Meski tugasku bukan hanya mengantarkan kamu, tetapi inilah yang sudah semestinya terjadi" [Non-text portions of this message have been removed] * http://www.sarikata.com/ * http://www.sarikata.biz/ * http://www.sarikata.net/ * Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
