*Anak-Anak Pelacur* Beberapa hari setelah Jack mengembalikan fitrah sang penjagal, kini yang terbayang adalah anak-anak pelacur di pinggir rel kereta. Sepanjang rel kota, di masa krisis ini menjadi sasaran kelas bawah para penjaja cinta.
Di situ bercampur baur pencopet kelas teri, persembunyian pembunuh, para penjudi, tukang ojek, tukang becak dan pemulung. Tak satu pun manusia di Jakarta, yang menganggap mereka sebagai layaknya manusia. Sudah sejak setahun silam, Jack memasuki daerah kumuh itu bersama Parjo. Maka disana ia kenal preman Dulimin, Oscor dan si Kadal. Ia juga kenal dengan germo Sumi dan seorang pelacur yang beranak pinak dimana-mana. Setiap kali Jack datang ia menuju rumah Dulimin, dan mampir di germo Sumi. Jangan dikira masuk didaerah kumuh seperti itu gampang. Jack melakukan proses interaksi yang lama penuh dengan hati-hati, dan berhubungan dari hati ke hati pula. Mereka menganggap Jack adalah preman pula. Tapi preman berbaik hati. Di bulan puasa ini kedatangan Jack selain membawa oleh-oleh sekadar berbekal untuk buka puasa bagi masyarakat kumuh itu, Jack sedang membawa kabar gembira bagi mereka. Yaitu wujud impian masa depan mereka, yaitu anak-anak mereka. Anak-anak germo, anak pelacur, anak preman, anak maling, anak pemulung, siapa yang memikirkan mereka? Jack hanya geleng kepala pada penguasa negeri ini. Tapi Allah mentakdirkan bangsa ini memang demikian, diberi pemimpin dan menteri-menteri koruptor. Demi Sinisme Tuhan pada bangsa ini, yang katanya mayoritas Muslim. Tentu begitu cara Allah memberi pelajaran pada para Ulamanya, agar sadar bangkit kembali. "Nah, saudara-saudara, kita punya rumah baru, pondok baru, dan tak akan pernah tergusur. Anak-anak bisa sekolah, bisa mengaji dan bisa bermain ." Massa disana bertepuk tangan, sambil mencoba mengerti apa yang dimaksud dengan Jack itu, rumah baru, pondok baru, dan sekolah baru. "Jadi mulai besok, bukan hanya orang kaya saja yang bisa menempati villa mewah, bukan hanya pejabat saja yang punya villa indah di puncak. Tapi kita semua akan punya ." Suara gegap gempita disambut oleh anak-anak di sana. Lalu jack mengumpulkan pentolan-pentolan di sana, mendiskusikan nasib anak-anak mereka. Dan Jack bercerita tentang seseorang yang telah bertobat mewakafkan villanya yang besar untuk pesantren dan pendidikan anak-anak kumuh, anak-anak pelacur, yang tidak ingin bernasib seperti orang tuanya. Pesantren gratis, dari uang yang selama ini dikumpulkan oleh si penjagal, entah uang apa namanya. Sepulang Jack dari villa penjagal kemarin yang terbayang adalah nasib anak-anak itu. Dan Alhamdulillah, Tuhan memberi jalan keluar yang tak terduga. Dalam sekejab ada pesantren anak-anak kumuh, dan dalam sekejap mulai ada seorang pemimpin pesantren mantan penjagal. Tentu, si penjagal tidak duduk sebagai ustadz, tetapi cukup berhamburan bersama anak-anak itu, ikut belajar mengaji. Jack pun pamitan diiringi dengan rasa haru dan isak tangis. Anak-anak yang tak berdosa itu seperti melepaskan seluruh pandangan matanya untuk Jack. Dan Jack adalah harapan dan masa depan mereka. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12h48rn4e/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705019888:TM/Y=YAHOO/EXP=1123495262/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/">What would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer in the arts today at Network for Good</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> * http://www.sarikata.com/ * http://www.sarikata.biz/ * http://www.sarikata.net/ * Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
