Gay, Ada di Sekitar Kita Tetapi Sulit Dikenali KABAR mengejutkan datang dari Jeanny Stavia alias Avi (34). Waria model videoklip Naif ini beberapa waktu lalu mengumumkan akan melangsungkan pertunangan dengan seorang lelaki indo bernama Paul Jureen (30). Tak sampai di situ, setelah bertunangan, mereka berencana menikah di Belanda agar pernikahannya dilegalkan.
Pertunangan yang sedianya akan dilaksanakan 17 Juli 2005, - bertepatan dengan ulang tahun Ny. Marina, ibunda Avi-, akhirnya dibatalkan. Banyak pihak yang menentang, karena kultur di Asia, khususnya Indonesia, sangat menabukan pernikahan sesama jenis. Lelaki kelahiran Jakarta, 17 Februari 1975, yang memiliki nama asli Joko Wiryanto Suwito ini tidak sendirian. kasus hubungan sejenis banyak terjadi di tengah-tengah masyarakat kita. Namun, karena mereka bukan public figure, kondisinya tidak terekspose dan mencuat ke muka publik. Selain itu, tidak sedikit pasangan yang sudah menikah normal (heteroseksual), memiliki relasi dengan sesama jenis dan akhirnya mendorong ia melakukan hubungan biseksual. Artinya, hubungan dengan istri/suami berjalan terus, dengan pasangan sejenispun ia lanjutkan. Perilaku homoseksual, mungkin saja berada di tengah-tengah keluarga kita. Berdasarkan catatan LSM Abiasa dan Komisi Penanggulangan AIDS Jawa Barat yang terlibat pendampingan untuk HIV/ AIDS, di Kota Bandung saja, tak kurang dari 656 orang tercatat sebagai pria homoseksual (gay -red), dan di Jawa Barat diperkirakan tak kurang dari 6.000 orang. Jumlah tersebut cenderung terus bertambah. Pasalnya, berdasarkan penuturan beberapa orang yang terlibat dalam komunitas yang mereka bentuk, ternyata ada yang baru tahu bahwa ada komunitas gay sehingga baru bergabung. Padahal mulanya perilaku itu dipendamnya, karena ia berada di lingkungan keluarga yang tampak harmonis. Bagi kebanyakan orang, kaum homoseks masih seperti misteri. Hanya sedikit yang diketahui tentang mereka. Bila sudah mengenalnya, ternyata mereka sama dengan orang kebanyakan. Yang berbeda cuma pada orientasi seksual dan sedikit pada cara berpenampilan dan berperilaku. Kalaupun ada yang kemudian berdandan mengidentifikasi diri sebagai pembeda. Misalnya laki-laki berpenampilan "cantik" atau berdandan dengan kostum tertentu, atau sebaliknya, perempuan yang berdandan tomboi dan sama dengan laki-laki, hal itu hanya diakui sebagai kebiasaan saja yang dilebih-lebihkan oleh orang tersebut. Penampilan tidak sepenuhnya identik dengan perilaku, karena ada juga di antara mereka yang gayanya seperti lawan jenisnya, namun ia sebenarnya pria/ wanita normal. Untuk mengetahui ciri-ciri para homoseksual tidaklah mudah. Di kalangan gay misalnya, mereka mempunyai ciri tertentu yang hanya bisa diketahui oleh kelompoknya atau orang-orang tertentu saja. Ciri-ciri khusus inilah yang sering disebut sandi, yaitu tanda-tanda yang sengaja dipasang para gay untuk menarik pasangannya. Bisa berupa gerakan ataupun aksesori yang dikenakan. "Yang paling biasa adalah mata, dan kami punya feeling," ujar seorang gay, Acil (bukan nama sebenarnya). Ada juga sebagian kalangan gay lebih menyukai pakaian pressbody atau ketat. Alasannya, selain praktis, juga bisa memperlihatkan lekuk tubuh si pemakai. Warna busananya seringkali juga mencolok. Gaya bicara mereka cenderung feminin. Pada pasangan suami istri juga tidak mudah mengenali apakah suami/istri kita memiliki perilaku homoseksual. Menurut psikolog klinis yang mengkaji masalah sosial, Gimmy Pratama, perilaku gay atau lesbian dalam hubungan seksual, sangat berbeda dengan pasangan heteroseksual. Namun bila didapati suami/istri meminta variasi seks di luar kebiasaan (oral/ anal, relasi seksual yang biasa dilakukan homoseksual -red), jangan curiga dulu. "Boleh jadi hal tersebut hanya sekadar coba-coba. Yang membatasinya hanya etis tidaknya dari sisi moral dan agama. Selain itu bila bermaksud demikian, harus dinikmati oleh kedua belah pihak," ujarnya. Menurut dr. Teddy Hidayat, Sp.,K.J., psikiater di RSHS Bandung, yang dimaksud dengan homoseksual adalah rasa tertarik secara perasaan (rasa kasih sayang, hubungan emosional) dan atau secara erotik, baik secara lebih menonjol (predominan) atau semata-mata (eksklusif), terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama, dengan atau tanpa hubungan fisik (jasmaniah). Kehidupan para homoseksual ada yang sukses dan ada pula yang tidak, profesi mereka beraneka ragam, demikian pula jenjang pendidikannya. Ada yang menikah ada pula yang tidak menikah. "Mereka ada di sekitar kita, tetapi belum tentu kita mengenalinya," kata Teddy. Mereka, lanjutnya, dapat menyerupai orang-orang yang heteroseksual dan menyangkal terhadap orientasi seksualnya. Perilaku mereka tidak ada bedanya dengan manusia lainnya. Adanya stigma di masyarakat menyebabkan mereka tersudut dan menjadi objek serta sasaran cemoohan atau celaan. Ini pun terjadi di lingkungan keluarga. Misalnya orang tua sulit untuk menerima kehadiran anak yang gay. "Maka tak salah bila kemudian para homoseksual mengalami problem psikologis. Seorang pria dewasa muda homoseksual yang tidak dapat berdamai dengan dirinya sendiri, akan menyebabkan munculnya gejala-gejala gangguan kejiwaan. Gejala gangguan jiwa tersebut dapat berupa depresi, ansietas, fobia, panik, bahkan dapat terjadi sampai gangguan psikotik," ujar Teddy. ** BILA mau mengkaji lebih dalam, menurut Gimmy ada 3 faktor yang menyebabkan seseorang berperilaku homoseksual. Pengalaman pertama relasi seksual yang dialami seseorang, kemudian dikuatkan pula oleh pola asuh. "Menghindarkan anak pada perilaku homoseksual bisa juga ditempuh dengan pola asuh yang egaliterian," ujar Gimmy. Jadi, jangan terjebak oleh kampanye penyetaraan gender yang akhirnya membuat anak memahaminya sebagai pendidikan homoseksualitas. Prinsip penyetaraan gender bukan dalam hal seksual, namun dalam melatih kemandirian. Karena secara kodrati masing-masing gender harus tetap berpegang pada fungsi dan perannya. "Anak laki-laki harus tetap dikenalkan peran kelaki-lakiannya, begitu pun anak perempuan. Masing-masing gender ada yang tidak bisa tergantikan, sehingga sisi maskulin dan femininnya tetap ada pada gender masing-masing. Misalnya saja peran wanita melahirkan dan menyusui," ujarnya. Faktor lingkungan dan pola asuh lebih berperan dalam proses identifikasi seksual seseorang. Misalnya saja ketika seseorang lebih sering bertemu dengan laki-laki dan jarang bertemu dengan wanita, maka kecenderungan menjadi gay lebih besar. "Hanya 16% yang diakibatkan genetik. Jadi keturunan bukan faktor hubungan sebab akibat. Bahkan pada kembar identik sekalipun hanya 50% perngaruhnya," ujar psikolog yang akrab dipanggil Kang Gimmy. Terdapat beberapa alasan untuk memercayai bahwa banyak orang memiliki suatu tingkat ketertarikan bawah sadar dengan kedua jenis kelamin secara genetik. Sigmund Freud berpendapat, kita semua memiliki biseksual bawaan, tetapi sebagian besar dari kita mengalami represi pada salah satu sisi. Faktor bawaan atau gen, yaitu adanya ketidakseimbangan jumlah hormon pada diri seseorang sejak lahir memengaruhi identifikasi seseorang. Jumlah hormon wanita cenderung lebih besar daripada laki-laki. Hal ini dapat berpengaruh pada sifat dan perilaku si laki-laki tersebut. Jati diri kewanitaan biasanya lebih kuat, sehingga mereka cenderung berperilaku feminin dan selalu tertarik terhadap aktivitas yang dilakukan wanita. Laki-laki yang menjadi gay karena faktor gen tersebut biasanya tidak bisa kembali menjadi laki-laki dalam arti sebenarnya. Tapi, sifat gay tersebut bisa berkurang frekuensinya. Tentunya, diperlukan usaha yang keras. Misalnya, tidak bergaul lagi dengan kaum gay, punya keyakinan yang kuat, dan harus tahan segala godaan. Faktor pengalaman pertama relasi seksual juga harus menjadi perhatian orang tua, terutama ketika seorang anak mengalami kematangan seksual. Biasanya mereka berawal dari coba-coba untuk berhubungan dengan sesama jenis dengan imbalan uang, karena dinilai tidak berisiko terhadap kehamilan. Jenis gay ini bisa hilang bila mereka telah menemukan pasangan hidup wanita, dan merasakan relasi seksual dengan lain jenis lebih memuaskannya. Atau, mereka keluar akibat terkena penyakit kelamin. Gay tersebut dapat kembali sebagai lelaki sepenuhnya bila punya komitmen kuat untuk menjauhi kehidupan gay.*** [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> <font face=arial size=-1><a href="http://us.ard.yahoo.com/SIG=12hlnb71m/M=362335.6886444.7839734.2575449/D=groups/S=1705019888:TM/Y=YAHOO/EXP=1124692962/A=2894362/R=0/SIG=138c78jl6/*http://www.networkforgood.org/topics/arts_culture/?source=YAHOO&cmpgn=GRP&RTP=http://groups.yahoo.com/">What would our lives be like without music, dance, and theater?Donate or volunteer in the arts today at Network for Good</a>.</font> --------------------------------------------------------------------~-> * http://www.sarikata.com/ * http://www.sarikata.biz/ * http://www.sarikata.net/ * Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
