Mengenang Cak Nur
Oleh Fachry Ali * Walau sudah menduga sebelumnya, toh saya -seperti banyak yang lainnya- terkejut menerima berita dari Abdul Hamid. Putra almarhum Kiai Fatah, pendiri Pesantren Al-Fatah di Sekaran, Siman, Lamongan, Jawa Timur, ini menyampaikan berita duka: wafatnya Nurcholish Madjid, seorang pemikir Islam dan cendekiawan Indonesia terkenal, yang populer dipanggil Cak Nur. Di Universitas Paramadina, "pesantren" yang didirikan Cak Nur, khalayak yang beduka sudah banyak berdatangan menunggu kedatangan jenazah tokoh pemikir ini. Secara pribadi, ingatan saya melayang ke Singapura. Di sebuah rumah sakit negara-kota ini, Cak Nur sudah bisa bicara ketika saya berkunjung akhir November tahun lalu. Mbak Omi, istri Cak Nur, meminta saya menunggu sebentar, karena Cak Nur sedang salat asar. Dengan bertayamum, seperti yang saya intip dari kaca pintu, Cak Nur yang tampak lemah itu memang sedang khidmat menunaikan ibadah. "Cak Nur itu lebih kuat dari saya," ujar Mbak Omi. "Malah dia yang menasihati agar saya bersabar. Penderitaan Nabi Ayyub belum seberapa dibandingkan dengan yang kita alami," kata Mbak Omi mengulang kembali kalimat Cak Nur. Setelah berbicara barang sejenak usai salat, dengan senyum manis sebagaimana biasa, Cak Nur berkata kepada saya, "Salam kepada kawan-kawan di Tanah Air." Itulah perjumpaan saya yang terakhir dengan Cak Nur. Sebab, entah karena kesibukan apa, saya tak sempat menjenguk tokoh ini justru ketika sudah berada di Tanah Air. *** Tetapi, seperti juga dengan lainnya, perjumpaan gagasan antara saya dan Cak Nur tak pernah berakhir. Walau sudah pasti ada beberapa komentar kritis saya terhadap gagasan dan analisis Cak Nur, secara keseluruhan gagasan-gagasannya telah membuka paradigma baru dalam cakrawala pemikiran Islam dan keindonesiaan di Tanah Air. Akar paradigma ini tertanam dalam perubahan drastis sosial-politik dan ekonomi Indonesia ketika transisi politik Orde Lama dan Orde Baru bergulir. Cak Nur dan kawan-kawan segenerasinya menyadari bahwa pertarungan ideologi yang mendominasi pergulatan politik di masa "Orde Lama" telah mengalami "sakralisasi", karena partai-partai politik telah diperlakukan sebagai bagian dari agama. Gejala semacam ini terutama terlihat pada kalangan Islam yang keanggotaan dan partisipasi seseorang di dalamnya menentukan apakah dia "beriman" atau tidak. Islam, dalam konteks ini, tidak lagi berfungsi sebagai "agama" -sebagaimana lazimnya- melainkan sebuah ideologi yang perlakuan atasnya mirip sebagai "agama". Dalam konteks inilah Cak Nur menyampaikan gagasan "pembaruan pemikiran Islam Indonesia" pada awal 1970-an. Intinya bahwa desakralisasi ideologi-ideologi politik, termasuk (ideologi parti-partai politik) Islam merupakan sebuah keharusan. Bahwa Islam adalah sebuah agama dan hak bagi setiap orang Islam mempunyai preferensi politik tersendiri; dan karenanya tidak gugur keislaman seseorang walau tak mempunyai preferensi politik terhadap partai-partai Islam. Dengan kata lain, menjadi anggota atau pendukung sebuah partai Islam tidak secara otomatis menjadi lebih Islam daripada seorang muslim yang mendukung partai lain; dan bahwa keislaman seseorang tidak ditentukan apakah ia anggota sebuah partai politik Islam atau tidak. Inilah saya kira inti paradigma baru pemikiran Cak Nur yang segera mempengaruhi kecenderungan afiliasi politik berbagai kaum terpelajar muslim Indonesia. Masuknya secara berbondong-bondong lapisan terpelajar santri Indonesia ke berbagai partai politik tanpa ideologi Islam pada masa Orde Baru, munculnya gagasan depolitisasi NU yang dikukuhkan dalam muktamar Situbondo pada 1984 dengan semboyan "Kembali kepada Khittah 1926", antara lain bersinggungan dengan gagasan desakralisasi ideologi politik yang dilancarkan Cak Nur dua dekade sebelumnya. *** Di atas paradigma desakralisasi ideologi inilah Cak Nur mengembangkan dua pemikiran berikutnya tentang masalah sosial-keagamaan dan politik Indonesia. Pada hal yang pertama, Cak Nur menekankan pluralisme dan toleransi; bahwa kebenaran interpretasi (penafsiran) sebuah kelompok atas ajaran sebuah agama, dalam hal ini Islam, bersifat tidak mutlak -karena kelompok lain juga mempunyai hak yang sama melakukan penafsiran tersendiri. Gagasan ini dikemukakan Cak Nur untuk menghindari konflik yang memang potensial terjadi seandainya setiap kelompok "ngotot" dengan kebenaran interpretasinya. Konflik atas nama Tuhan dengan sesama umat bisa menjadi ironi tersendiri, justru karena Tuhan adalah penganjur perdamaian. Dari lapangan internal ini, Cak Nur kemudian mengembangkan keharusan toleransi terhadap agama dan sistem kepercayaan lain. Kendati agama- agama non-Islam tidak "suci" secara teologis, kaum muslim harus mengembangkan sikap toleransi, karena kehadiran agama-agama tersebut telah menjadi fakta sosial-keagamaan yang tak bisa dielakkan. Kedua adalah visi politik yang didasarkan demokrasi dan moralitas. Hemat saya, gagasan terakhir inilah yang diperjuangkan Cak Nur bersama Abdurrahman Wahid serta lainnya, terwujud di Tanah Air, hingga akhir hayatnya. "Perlawanan" Cak Nur pada otoriterianisme kekuasaan masa Orde Baru, dan seruannya membangun sistem yang permanen bagi sistem demokrasi adalah inti pemikiran dan perjuangan Cak Nur. Ini justru disuarakan ketika rezim Orde Baru masih sangat kukuh. Dengan telak Cak Nur berucap: "Jangan percayakan nasib bangsa pada niat baik satu dua orang pemimpin. Percayakan nasib bangsa pada sistem yang transparan dan bisa dipertanggungjawabkan." Kini, Cak Nur telah tiada. Gagasan keislaman dan keindonesiaannya serta gagasan perjuangan menegakkan demokrasi akan dilanjutkan oleh generasi seangkatan yang masih hidup dan pasti disambung oleh generasi berikutnya. Jakarta, 29 Agustus 2005 * Fachry Ali MA, peneliti [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wnIolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list. Cara kirim cerita di website Sarikata.com : http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
