Cak Nur, Pemelihara Ingatan
Selasa, 30 Agustus 2005 

*TEMPO Interaktif*, **: Bintang paling cemerlang di langit intelektual 
Indonesia itu --Dr. Nurcholish Madjid alias Cak Nur-- redup sudah. Senin, 29 
Agustus 2005, pukul 14.05, di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta, Cak Nur 
dipanggil Tuhan pulang. Bukan hanya kita di Indonesia yang berduka. Semua 
umat manusia pembela pluralisme dan kebebasan berpikir selayaknya 
kehilangan.

Setiap upaya mengenang tokoh besar sekaliber Cak Nur hampir selalu diintip 
ancaman dua persoalan: menggelembungkannya menjadi begitu besar sehingga 
yang terpotret bukanlah sosok historis melainkan mitologis; atau memereteli 
dan memotretnya dari salah satu dimensi kecilnya sehingga sang tokoh 
terbonsaikan. Keduanya mengidap persoalan yang kurang-lebih serupa: 
kegagalan memahami sang tokoh dan memposisikannya dalam centang-perenang 
hidup kebangsaan kita.

Jika saja masih hidup, Cak Nur akan menjadi orang pertama yang berupaya 
habis-habisan menghindari dua kemungkinan kekeliruan itu. Cak Nur adalah 
penganjur teguh keharusan memahami keadaan--termasuk sosok-sosok di 
dalamnya--secara saksama dan cermat berbasiskan kesahajaan fakta, kejujuran, 
dan obyektivitas. Maka bukan hanya ceramah agamanya yang terasa sejuk, 
analisis dan kesaksian Cak Nur atas keadaan hampir selalu tepat dan 
mencerahkan.

Maka, bagi saya, peran Cak Nur yang tetap penting melintasi batas usia 
hidupnya adalah pemelihara ingatan. Sampai akhir hayatnya, Cak Nur terus 
terjaga untuk memahami kemarin, hari ini, dan esok secara saksama. 
Sebagaimana St Agustinus, ia memahami waktu sebagai tiga lipat masa kini: 
masa lampau sebagai memori masa kini, masa kini sebagai arena kerja keras, 
dan masa depan sebagai harapan masa kini.

Bagi saya, salah satu ajaran terpenting Cak Nur adalah anjurannya agar kita 
memenangi perkelahian melawan waktu. Berbaik-baik dalam perkelahian dengan 
masa lalu, berbaik-baik berkelahi dengan banyak persoalan hari ini. 
Berbaik-baik merumuskan dan merebut esok.

Di tengah krisis ekonomi 1997 yang kemudian membidani kelahiran reformasi, 
Cak Nur sempat mengajukan konsep Khusnul Khotimah. Di tengah samudra cacian 
atas Orde Baru dan terutama Soeharto, Cak Nur justru mengingatkan perlunya 
memahami aspek baik dan buruk Orde Baru dan Soeharto secara proporsional. 
Dengan modal itu, Cak Nur menyarankan agar Soeharto diberi jalan yang lapang 
untuk mengakhiri kekuasaannya secara baik.

Sejak masa itu, Cak Nur juga mengingatkan pentingnya merumuskan bangunan 
rekonsiliasi nasional yang layak bagi Indonesia. Ia termasuk salah seorang 
yang gigih mengajak tak melupakan masa lalu yang kelam tapi sambil 
menganjurkan agar semua pihak mengumpulkan ruang maaf yang luas atas masa 
lalu yang penuh keliru.

Cak Nur mengampanyekan rumusan rekonsiliasi semacam itu sambil tetap 
mengingatkan betapa pentingnya "batas". Masa lalu dan hari ini mesti dijaga 
oleh batas yang tegas. Jika tidak, kita sebagai bangsa akan dengan mudah 
terjerumus ke dalam lubang yang sama berkali-kali. Maka rumusan Cak Nur 
tentang masa lampau kurang-lebih adalah jangan pernah lupakan, maafkan, dan 
dirikan batas tegas.

Bagi sebagian orang, di tengah euforia reformasi masa itu, anjuran Cak Nur 
boleh jadi terasa lunak. Tapi setelah reformasi berjalan lebih dari tujuh 
tahun, terbukti bahwa rumusan itulah yang sejatinya paling layak untuk 
demokratisasi Indonesia dengan segala konteksnya. Sayangnya, tujuh tahun 
lebih kita alpa pada anjuran Cak Nur itu. Banyak kesempatan emas bagi 
rekonsiliasi akhirnya lenyap tertelan waktu.

Tentang "hari ini", Cak Nur terus mengampanyekan perlunya sikap realistis 
dalam menjalani demokratisasi. Sambil menimbang modal sosial-politik-ekonomi 
bagi demokrasi yang kita miliki, ia kerap mengingatkan betapa demokratisasi 
Indonesia tak akan mudah, murah, sederhana, dan sebentar. Ia menganjurkan 
agar Indonesia ikhlas menerima hasil demi hasil dari setiap tahapannya tanpa 
tergopoh-tergesa hendak memetik hasil besar, dramatis, sekejap.

Pemikiran Cak Nur tentang demokratisasi Indonesia mau tak mau mengingatkan 
saya pada permainan Jumanji. Setiap pemain menentukan langkahnya sendiri 
segera setelah melempar dadu. Setiap langkah senantiasa punya risiko; 
ancaman bahaya tersedia di setiap tahapan. Namun, permainan tak boleh 
dihentikan hingga para pemain mencapai Jumanji: sebuah kota idaman dengan 
gedung-gedungnya yang bermahkotakan menara-menara terbuat dari emas.

Bagi Cak Nur, tak ada langkah mundur dalam menjalani demokratisasi. 
Kesadaran, kesabaran, dan kesediaan kerja keras mesti disediakan untuk 
menjalani jalan demokratisasi yang berat, panjang, dan berliku. Untuk 
menggarisbawahi kesadaran akan keterbatasan modal, perlunya kesabaran dan 
kerja keras, dalam berbagai kesempatan Cak Nur mengingatkan bahwa sangat 
boleh jadi Indonesia membutuhkan rentang hidup satu generasi untuk 
mengkonsolidasikan demokrasi.

Tentang masa depan, Cak Nur merumuskannnya dengan ringkas sebagai "membangun 
kembali Indonesia" yang perinciannya sudah banyak diberitakan dan dibahas di 
tengah persiapan pemilu presiden, 2003-2004. Bagi Cak Nur, Indonesia yang 
demokratis, terbuka, dan adil bukanlah sesuatu yang mustahil.

Dalam pesannya untuk peringatan 60 tahun Indonesia merdeka, 12 hari sebelum 
wafat, Cak Nur menandaskan, "Diperlukan kekuatan besar dan tangguh untuk 
mengatasi persoalan bangsa kita. Kekuatan itu, insya Allah, bisa terwujud 
dengan adanya peneguhan kembali ikatan batin semua warga negara pada 
cita-cita nasionalnya, disertai pembaruan tekad bersama untuk 
melaksanakannya."

Selamat jalan, Cak Nur. Semoga kita yang ditinggalkan pandai memelihara 
ingatan dan dengan itu bisa memenangi perkelahian dengan waktu.


*Eep Saefulloh Fatah*
Pengajar di Universitas Indonesia


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/FXrMlA/dnQLAA/Zx0JAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list.

Cara kirim cerita di website Sarikata.com :
http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke