Dua Obat Penawar Asmara
"Hai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kalian sudah memiliki kemampuan, segeralah menikah, karena menikah dapat menundukkan pandangan dan memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum sanggup menikah, berpuasalah, karena puasa akan menjadi benteng baginya." (HR Muttafaq 'alaih). Penjelasan: Hadis ini diriwayatkan oleh Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa'i, Ahmad, dan Ad-Darimi. Hadis ini bersumber dari sahabat Abdullah bin Mas'ud RA. Islam tidak mengingkari adanya cinta seorang manusia kepada lawan jenisnya. Ia adalah fitrah dan kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi bila waktu pemenuhannya telah tiba. Hanya saja, demi terpeliharanya kehormatan dan harga diri manusia, Islam menyerukan agar pemenuhannya dilakukan dengan cara yang benar, yaitu lewat pernikahan. Lewat hadis ini Rasulullah SAW menganjurkan para pemuda yang sudah berkemampuan untuk segera menikah. Mampu di sini bisa diartikan mampu secara fisik, keilmuan, mental, ataupun secara finansial. Rasul mencela orang yang hidup membujang ataupun yang menunda-nunda pernikahan karena alasan yang tidak syar'i, padahal ia sudah mampu. Dari Siti 'Aisyah RA Rasulullah SAW bersabda, "Nikah termasuk sunnahku. Barangsiapa tidak mengamalkan sunnahku, ia tidak termasuk golonganku. Menikahlah kalian, karena aku bangga dengan banyaknya umatku. Barangsiapa memiliki kemampuan untuk menikah, maka menikahlah." (HR Ibnu Majah). Abu Dzar meriwayatkan, bahwa Rasul pernah mencela seorang sahabat bernama 'Akkaf bin Basyar At-Tamimi, seorang pemuda kaya tapi enggan menikah: "Wahai 'Akkaf, (kalau begitu) engkau termasuk saudaranya syetan. Seandainya engkau beragama Nasrani, engkau termasuk golongan pendeta. Sesungguhnya sunnah kami adalah menikah. Sejelek-jelek kalian adalah orang yang membujang, dan orang yang paling hina dari kalian adalah yang mati dalam keadaan membujang. Apakah engkau bersahabat dengan syetan?" (HR Ahmad) Adapun bagi mereka yang (benar-benar) belum sanggup menikah karena alasan ekonomi, beliau menganjurkan agar ia berpuasa. Sebabnya, puasa dipandang mampu mengendalikan motif seksual dan keinginan yang menggebu kepada lawan jenis. Puasa akan menyebabkan kadar gizi yang dikonsumsi seseorang menjadi berkurang. Otomatis, hal ini akan menyebabkan hasrat seksualnya melemah. Jadi, puasa dalam konteks hadis ini dianggap sebagai pengalihan dan sifatnya tidak permanen. Di dalamnya termasuk pula ibadah-ibadah yang biasanya menyertai aktivitas puasa tersebut, seperti membaca Al-Quran, dzikir, doa, dan aktivitas pengalihan lainnya. Ada sebuah komentar menarik yang diungkapkan Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah tentang hadis ini. Menurutnya, Rasulullah SAW. telah menawarkan dua obat untuk mereka yang dimabuk asmara : obat asli dan obat pengganti. Obat asli adalah obat yang memang diciptakan untuk itu. Dan obat ini tidak boleh diganti jika telah didapatkan. Pendapat ini sesuai dengan sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas, "Tidak ada obat mujarab bagi yang dimabuk cinta selain menikah." (HR Ibnu Majah). Wallahu a'lam bish-shawab. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good! http://us.click.yahoo.com/FXrMlA/dnQLAA/Zx0JAA/wnIolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list. Cara kirim cerita di website Sarikata.com : http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
