Greg Barton Melukis Gus Dur (4) Dia Juga Dekat dengan Tokoh Muhammadiyah *Ketika ayahandanya wafat, Gus Dur sebagai sulung sudah menjelang dewasa, sementara ibundanya sedang mengandung tiga bulan adik terakhirnya, Gus Iim (Hasyim Wahid). Sebagai kakak tertua, Gus Dur merasa dijatuhi amanat besar untuk meneruskan estafet perjuangan ayahanda dan kakeknya. Tidak ada pilihan lagi, selain sekolah dan nyantri. Ayahnya adalah putra tertua Hadratussyech KH Hasyim Asy'ari dan Gus Dur sendiri juga putra tertua KH Wahid Hasyim.* Namun kejadian aneh dan sedikit konyol tentang masa muda Gus Dur masih juga terjadi. Pada tahu 1954, setelah ia menamatkan sekolah dasar dan mulai sekolah menengah ekonomi pertama (SMEP), ia terpaksa mengulang kelas satu karena gagal dalam ujian. Kegagalan ini jelas disebabkan oleh seringnya menonton pertandingan sepak bola sehingga ia tak mempunyai cukup waktu untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Kesukaannya pada bola, pernah menjadikan Gus Dur sebagai pengamat piala dunia di RCTI pada tahun 1990-an. Ia sebenarnya sangat pandai walaupun pada saat yang sama cenderung bermalas-malasan saja, ia cepat bosan dengan pelajaran di kelas. Pelajaran-pelajaran yang diterimanya di kelas dirasanya tidak cukup menantang. Ia masih merasa sedih karena kehilangan ayah, namun ia tidak menunjukkan kesedihannya ini. Alih-alih, ia menghabiskan waktunya dengan menonton sepak bola dan membaca buku.
Soal kemalasannya di kelas pertama itu, Gus Dur hanya berkata bahwa ia malas dan lebih tertarik menonton sepak bola serta menonton film. Sebagai seorang dewasa, ia jarang mengakui dirinya pernah mengalami keraguan atau depresi. Namun demikian, ada tanda-tanda bahwa kematian sang ayah, yang lebih dekat terhadapnya daripada saudara-saudaranya, merupakan pukulan yang hebat. Walaupun ia selalu menggambarkan ayahnya sebagaimana adanya, ia selalu sangat menyayangi dan mengagumi sang ayah. Pada tahun 1954, sementara sang ibu berjuang sendirian untuk membesarkan enam anak, ia dikirim ke Jogjakarta untuk melanjutkan pelajarannya di SMP. Ketika di kota ini, ia berdiam di rumah salah seorang teman ayahnya, KH Junaidi. Yang menarik, KH Junaidi adalah salah seorang dari sejumlah kecil ulama yang terlibat dalam kegiatan Muhammadiyah pada periode ini. Ia anggota majelis Tarjih atau Dewan Penasihat Agama Muhammadiyah. Tinggalnya Gus Dur di rumah salah seorang pemimpin utama Muhammadiyah merupakan hal yang luar biasa. Pengalaman awal ini, yang merupakan warisan pandangan luas sang ayah, membentuk pandangan Gus Dur setelah dewasa nanti. Rumah KH Junaidi terletak di Kauman, tempat para santri Muslim berdiam di Jogjakarta, dekat dengan istana kesultanan, tempat kelahiran Muhammadiyah. Di Jogjakarta, untuk melengkapi pendidikannya, diaturlah agar ia dapat pergi ke pesantren Al-Munawwir di Krepyak tiga kali seminggu. Pesantren ini terletak sedikit di luar Jogjakarta. Di sini ia belajar bahasa Arab kepada KH Ma'shum. Kiai ini lahir pada bulan Maret 1915, setahun lebih tua dari Kiai Wahid Hasyim, dan terkenal sebagai seorang egaliter. Pada satu sisi, ia tidak memberikan perlakuan istemewa pada putera-putera kiai terkemuka yang dipercayakan kepadanya, malah ia berlaku keras terhadap mereka ini. Namun sebaliknya, ia bergaul bebas dengan murid-muridnya ini dan sering kali berkunjung ke tempat tinggal para murid ini pada waktu makan untuk memeriksa apa yang mereka masak dan kadang-kadang mencicipinya diam-diam. Kiai Maksum dikenal juga mempunyai pergaulan luas dan bergaul bebas dengan pemimpin-pemimpin Muhammadiyah, pejabat pemerintah, dan kerabat keraton Jogjakarta. Di sini juga Gus Dur mendapatkan suntikan perlunya bergaul dengan banyak kalangan. Ketika di Jakarta, kemampuan bahasa Arab Gus Dur masih pasif. Memang ia sudah dapat berbahasa Inggris dengan baik dan membaca tulisan dalam bahasa Perancis dan Belanda. Namun ketika ia di Jogjakartalah kemampuan membacanya melesat jauh dan ia melahap banyak buku. Menjelang pertengahan tahun 1950-an Jogjakarta telah mendapatkan ciri khasnya sebgai kota universitas. Oleh karena itu, bagi Gus Dur, yang sangat mencintai buku itu, toko-toko yang menjual buku-buku bekas di kota ini sangat membawa berkah bagi perkembangannya. Ketika tamat Sekolah Menengah Ekonomi Pertama di Jogjakarta pada tahun 1957, Gus Dur mulai mengikuti pelajaran di pesantren secara penuh. Ia masuk pesantren Tegalrejo di Magelang, yang terletak di sebelah utara Jogjakarta. Ia tinggal di sini hingga pertengahan 1959. di sini ia belajar pada Kiai Khudori, yang merupakan salah satu dari pemuka NU. Pada saat yang sama ia juga belajar paro waktu di pesantren Denanyar di Jombang di bawah bimbingan kakeknya dari pihak ibu, kiai Bisri Syamsuri. Gus Dur membuktikan dirinya sebagai siswa yang berbakat dengan menyelesaikan pelajarannya di bawah asuhan Kiai Khudori selama dua tahun di Tegalrejo ini. Padahal, kebanyakan siswa lain memerlukan empat tahun untuk menyelesaikan pelajaran ini. Bahkan di Tegalrejo ini Gus Dur menghabiskan sebagian besar waktunya di luar kelas dengan membaca buku-buku berat. Dari Kiai Khudlori, Gus Dur mengusung sikap egaliterian dan humanisme. Pada tahun 1959 ia pindah ke Jombang untuk belajar secara penuh di pesantren Tambakberas Jombang di bawah bimbingan Kiai Wahab Chasbullah. Ia belajar di sini hingga tahun 1963, dan selama kurun waktu itu ia selalu berhubungan dengan kakeknya, Kiai Bisri Syamsuri, secara teratur. Selama tahun pertamanya di Tambakberas, ia mendapat dorongan untuk mulai mengajar, dalam waktu singkat langsung mengajar di madrasah modern yang didirikan dalam kompleks pesantren dan juga menjadi kepala sekolahnya. Selama masa ini ia juga tetep berkunjung ke Krapyak secara teratur. Selama di Jogja, ia tinggal di kediaman Kiai Ma'shum. Pada masa inilah, sejak akhir tahun 1950-an hingga 1963 Gus Dur mengalami konsolidasi dalam studi formalnya tentang Islam dan sastra Arab klasik. Di kalangan pesantren ia dianggap sebagai siswa yang cemerlang. Studinya ini, yang banyak tergantung pada kekuatan ingatan, hampir-hampir tidak memberikan tantangan kepada Gus Dur yang mempunyai ingatan yang sangat kuat walaupun ia dikenal sebagai seorang yang malas dan kurang berdisiplin dalam studi formalnya. Berjalan 100 KM Pada saat ini ia menggabungkan studi keislamannya dengan pendekatan yang sama sekali lain terhadap ilmu dan pemahaman. Ia sangat tertarik pada sisi sufistik dan mistik dari kebudayaan Islam tradisional dan juga telah membiasakan diri untuk secara teratur berziarah ke makam-makam untuk berdoa dan bermeditasi, pada tengah malam. Kadangkala kedua pendekatan terhadap ilmu ini saling tumpang tindih. Di Jombang, misalnya, ia berhasil menghafal buku klasik standar mengenai tata bahas Arab. Walupun rangkaian puisi yang hapalnya tidak berisikan pemahaman agama, pengetahuan bahasa Arab dan hapalan teks-teks Arab sangat penting bagi seorang siswa sehingga penguasaan buku dan teks tersebut dianggap sebagai jasa keagamaan yang besar. Ketika menyiapkan dirinya untuk menghapal teks ini, Gus Dur bersumpah untuk melakukan ziarah dengan berjalan kaki ke makam-makam di Selatan Jombang, dengan puncaknya di daerah yang tidak rata dan berpenduduk jarang di pantai selatan Jawa. Ia berhasil dan berangkat melakukan ziarah pribadinya sambil menuju arah selatan lewat jalan-jalan yang tak banyak ditempuh orang karena ia kuatir dikenali dan kemudian diberi tumpangan. Perjalanan kaki ini menempuh jarak lebih dari 100 km. dan memerlukan beberapa hari. Bagi Gus Dur perjalanan ini benar-benar di luar batas kemampuan manusiawi tubuhnya yang kurang atletis, namun kekerasan hatinyalah yang membuatnya dapat menempuh jarak sejauh itu. Namun demikian, ketika baru memulai perjalanan pulangnya ia dikenali oleh beberapa orang yang menumpang mobil dan dengan gembira ia meneima tawaran tumpangan untuk kembali ke Jombang. Kutu Buku Tulen Ketika Gus Dur pindah dari Jogjakarta ke Magelang kemudian ke Jomabang, ia sedang tumbuh dari kanak-kanak menjadi remaja. Ia mulai secara serius memasuki dua macam dunia bacaan: pikiran sosial Eropa dan novel-novel besar Inggris, Perancis dan Rusia. Ia membaca apa saja yang dapat diperolehnya. Kadang-kadang ia memperoleh buku pemberian teman-teman keluarganya yang tahu benar kegemarannya membaca. Mengingat rasa hausnya yang besar akan ide-ide baru dan rasa ingin tahunya yang luas, tidaklah mengejutkan bahwa pada satu titik dalam perkembangan dirinya Gus Dur terpaksa harus bergulat menemukan identitas agamanya sendiri dan tempatnya di dunia. Minatnya yang besar pada teori sosial Barat liberal, ia mencoba iseng-iseng, sebagimana dikatakan kemudian, bergaul dengan fundamentalisme Islam. Dari apa yang dibacanya ia tahu bahwa masalah-masalah yang dihadapi umat manusia memerlukan tanggapan yang luas. Ia menemukan banyak ide menarik dalam pemikiran-pemikiran kaum Marxis tetapi juga terganggu oleh antagonisme Marxisme dengan agama. Sebagaimana remaja lainnya, Gus Dur juga menyenangi sastra picisan, tetapi baginya bacaan ini sering mengandung unsur penting bagi hidupnya. Ia sangat menyenangi cerita silat, cerita cerita mengenai pendekar silat Cina yang ditulis oleh penulis-penulis Indonesia keturunan Cina atau diterjemahkan dari tulisan-tilisan asli bahasa Cina. Tema utama yang biasa terdapat dalam suatu cerita silat adalah kesetiaan seorang murd kepada gurunya. Dalam dunia cerita silat, kesetiaan kepada seorang guru dan tindakan mengejar kebajikan sering kali mengalami cobaan tetapi pada akhirnya mengalami kemenangan. Sedangkan di pesantren, kesetiaan dan rasa hormat kepada kiai, atau guru spiritual, merupakan hal yang paling penting. Di pesantren pun pembentukan watak merupakan bagaian terpenting dari pendidikan. Kecantol Mbak Nuriyah Di Jombang, Gus Dur mengalami suatu pertemuan yang jauh lebih penting daripada pertemuannya dengan karya-karya sastra dan pengarang-pengarang terkenal yang dibacanya dengan penuh kegairahan. Sebagai remaja, Gus Dur belum pernah mengalami kisah cinta. Walaupun ia gemar menonton pertandingan sepak bola dan menonton film, ia tetaplah seorang penonton dan seorang pemuda kutu buku. Lebih lagi, ia tinggal dalam suatu dunia keagamaan yang secara nyata tidak menyetujui pemuda-pemuda yang cemerlang untuk bercinta dalam usia muda. Oleh karena itu, walaupun berusia dua puluhan, ia belum pernah berkencan, apalagi mempunyai pacar. Boleh dikatakan, semangat pemberontakan pemuda yang ada dalam dirinya disalurkan dengan kedekatannya yang singkat dengan Islam radikal. Hingga saat itu, wanita-wanita yang sempat digandrunginya hanyalah mereka yang menatapnya dari layar perak. Namun, ketika ia mulai mengajar di madrasah di Tambakberas Jombang pada awal tahun 1980-an, ia mulai tertarik kepada seorang siswiyang bernama Nuriyah. Gadis ini salah satu dari gadis-gadis yang paling menarik di kelasnya. Ia juga cerdas dan berpikir bebas dan menarik sejumlah perhatian sejumlah pemuda di lingkungan pesantren itu. Oleh karena itu, cukup mengherankan bahwa ia juga bisa tertarik pada sang guru yang agak canggung, seorang kutu buku, agak gemuk, dan lagi mengenakan kacamata besar dan tebal. Namun demikian, Nuriyah adalah produk masyarakat pesantren dan seorang gadis kelahiran Jombang. Tidaklah mudah baginya untuk menolak mentah-mentah putera Kiai Wahid Hasyim dan cucu Kiai Hasyim Asy'ari dan Kiai Bisri Syamsuri yang masih cucu Kiai Wahab Hasbullah, pengasuh Tambak Beras. Juga, baginya, Gus Dur bukanlah sama sekali tanpa daya tarik. Gus Dur menarik perhatiannya karena keintelekannya dan tujuan hidupnya yang kuat. Kisah cinta Gus Dur tergantung sampai di sini, karena pada bulan November 1963 ia berangkat ke Kairo Mesir untuk melanjutkan kuliah di Al-Azhar. Dengan perasaan berat, Gus Dur menuju Timur Tengah, meninggalkan Gadis Shinta Nuriah yang mengubah pelangi hidupnya semakin berwarna-warni. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wnIolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list. Cara kirim cerita di website Sarikata.com : http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
