Ketika Menunda Kehamilan Menjadi Pilihan 

Oleh Ratna Hidayati

Tiba-tiba saya teringat percakapan dengan almarhumah mbah uti ketika masih 
duduk di bangku SD. "Kamu itu anak perempuan, kalau bangun tidur segera 
beresin tempat tidur. Jangan lupa rambut disisir yang rapi, jangan diurai 
kayak gitu. Gimana nanti kalau kamu sudah kawin?" nasihatnya. Ia tak senang 
melihat saya bangun siang, keluar kamar dengan rambut acak-acakan dan kamar 
tak dibereskan. Sebagai cucu yang bandel, saya selalu asal menjawab, "Tenang 
aja mbah. Nanti kalau sudah kawin, saya punya pembantu buat ngeberesin 
rumah." Tentu saja, sambil berbicara begitu saya harus segera kabur dari 
kamar. Saya harus melakukan nasihatnya karena saya perempuan. 

Beberapa tahun kemudian, target menikah pada usia 25 tahun dipatahkan 
keluarga. "Apa bedanya menikah sekarang dan lima tahun lagi? Toh kamu 
menikah dengan orang yang sama?" begitu kata mereka. Ketika saya putuskan 
untuk menikah, teman-teman menganggap aneh. "Kamu MBA (married by accident) 
Rat? Nggak mungkinlah kamu bisa kawin muda begini," begitu kalimat yang 
selalu dilontarkan. 

Beberapa bulan kemudian, pertanyaan baru muncul. "Kok kamu belum hamil?" 
begitu kata orang-orang. Saya berharap dapat menunda kehamilan pertama. Saya 
masih punya target yang lain dan bukan harus hamil. Sebulan, dua bulan, tiga 
bulan, pertanyaan mereka selalu sama, "Kamu mandul Rat? Kok nggak 
hamil-hamil?" Saya berharap tidak melakukan kunjungan ke rumah keluarga 
karenanya. Tiap kali berkunjung, tiap kali itu pula saya harus mendengarkan 
pertanyaan, nasihat dan keluhan yang sama. Ketidakhamilan itu karena 
kemandulan saya, ketidakmampuan saya bereproduksi. Padahal, saya sehat-sehat 
saja. Entahlah, bagaimana mereka bisa men-judge saya seperti itu. Akhirnya, 
hampir setahun berikutnya saya pun hamil. 

Ketika anak saya berumur tiga tahun, pertanyaan serupa muncul lagi. "Anakmu 
sudah mulai besar lho. Nggak buat lagi?" Sabar. Empat tahun, sabar juga. 
Saat anak saya berumur tujuh tahun, tuntutan mulai meningkat. "Kamu gimana 
sih? Nggak mikirin suami namanya. Ntar suamimu keburu tua. Keburu pensiun. 
Masa' anak masih sekolah, bapak udah pensiun?" begitu kata tetangga. Eh, 
ternyata keluarga sama saja. Sebagai anak tertua di keluarga suami, saudara 
saya selalu mempertanyakan "keputusan" beranak satu. Keempat adik ipar saya, 
masing-masing sudah beranak dua. Kenapa kakaknya cuma satu? Padahal, saya 
tak memutuskan beranak satu. Saya hanya menunda kehamilan berikutnya. 

Datanglah saya ke psikolog. "Semua meminta saya hamil lagi, tapi saya belum 
berminat untuk hamil," ujar saya. Ia malah menyarankan, "Anak Ibu sudah 
besar. Memang sudah seharusnya punya anak lagi. Nggak baik lho. Nggak baik 
buat Ibu, juga anak Ibu." 

Nggak puas, saya berbincang dengan teman psikiater. "Apa yang kamu 
khawatirin? Kalau urusan rejeki, tiap anak ada rejekinya masing-masing. 
Nggak usah dipikirin." Waduh. Kalau begitu kan mending saya punya anak 
banyak ya? Curhat ke teman kantor, sama saja. Ngobrol dengan sahabat lama, 
sarannya juga sama. 

Saya jadi berpikir, apa nggak boleh saya menunda kehamilan ini lebih lama 
lagi? Ini bukan perkara banyak anak, banyak rejeki atau tiap anak ada 
rejekinya masing-masing. Ini masalah pilihan dan saya memilih menunda 
kehamilan berikutnya. Nggak perlu dipautkan dengan umur, rejeki atau yang 
lain. Ini pilihan saya. Masih banyak hal lain yang harus dipikirkan untuk 
memutuskan hamil kembali. 

Saya berpikir, menjadi hamil adalah pilihan dengan kesadaran dan kemauan 
yang tinggi. Menjadi hamil sangat membanggakan buat saya. Dalam perut yang 
bisa melar ini, saya membawa kehidupan baru. Pengalaman melahirkan buat saya 
lebih dari nikmatnya ber-bungy jumping dari ketinggian 60 m di Kuta. 
Melahirkan bayi imut membuat saya tertarik melakukannya lagi. Tapi, saya 
punya pilihan. Pilihan saya, kehidupan baru itu haruslah selalu lebih baik 
dan indah. Jika hamil karena tekanan pihak luar, bagaimana saya bisa membawa 
kehidupan baru yang lebih baik dan indah itu? 

Saya ingat pesan ibu saat hamil dulu. Waktu itu, saya diminta bersabar 
karena sikap tetangga yang tak menyenangkan. "Jangan mbatin ya. Sing sabar. 
Nanti anakmu jadi anak yang suka mbatin lho," nasihatnya. Meski mengiyakan, 
toh tetap saja saya mbatin. Akhirnya, anak saya pun lebih suka menutup diri 
dan memendam masalahnya sendiri. Itulah sebabnya, saya percaya kuatnya 
hubungan ibu dan janin dalam kandungan. Itu sebabnya pula, saya harus punya 
kesadaran dan kemauan yang kuat dari dalam diri untuk hamil lagi.. Dengan 
kesiapan fisik dan mental yang matang, saya bisa membawa kehidupan baru yang 
lebih baik itu. Bukan karena desakan keluarga, tetangga, psikolog, psikiater 
atau rekan sejawat. Tapi karena saya memang memilih untuk hamil. 

Siang itu, ketika saya bertemu seorang teman aktivis di Westin Resort Nusa 
Dua, Bali dan mengutarakan ini, dia tertawa. "Ini masalah hak atas tubuhmu 
ya?" katanya pendek. Saya jadi teringat Eko Bambang Subiyantoro dalam 
tulisannya, "Perempuan dan Perkawinan: Sebuah Pertaruhan Eksistensi Diri" 
(Jurnal Perempuan edisi 22, 2002). Ia menulis, Â…Perempuan memilih menikah 
adalah haknya, tetapi bukan sesuatu yang kodrati seolah-olah menjadi 
kewajiban. Perempuan mempunyai hak untuk tidak menikah. Karena pilihan 
menikah adalah pilihan rasionalitas individu bukan pilihan yang ditentukan 
oleh masyarakat. 

Jika begitu, hamil atau menunda kehamilan pun saya pikir sama saja. 


Ratna Hidayati Jurnalis Koran Mingguan Tokoh di Denpasar Bali


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list.

Cara kirim cerita di website Sarikata.com :
http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke