Melepas Keperawanan Antara Cinta dan Kebodohan

"...pabila cinta memanggilmu...ikutilah dia walau jalannya berliku-liku. 
Dan, pabila sayapnya merangkummu...pasrahlah serta menyerah, walau 
pedang tersembunyi di sela sayap itu melukaimu..." (Kahlil Gibran)

"GUE ingin ngelepasin virgin gue!" kata Ketie. ''Untuk seks, apa duit?" 
tanya Stella. "Ya duit, dong!" tegas Ketie. "Tuh kan, gue tau lo nggak 
bertahan lama," ujar Stella yang dengan gembira menyambut jawaban Ketie.

Sepenggal dialog itu bukan omongan kosong, karena terjadi dalam dialog 
film remaja Virgin, yang sempat menuai kontroversi. Singkatnya, Ketie, 
seorang remaja yang tergila-gila pada tren dan gaya hidup mewah, 
bersedia melepaskan keperawanannya dengan lelaki seusia ayahnya di 
toilet mal. Kalau mau cerita lebih serem lagi, putarlah ingatan beberapa 
tahun silam, di mana ada opera sabun bernama the Melrose Place atau 
Beverly Hills.

Entah karena terinspirasi film-film Barat yang berbumbu esek-esek atau 
ingin mencampuradukkan soal cinta, nyatanya Yuni, 22, memberikan dengan 
sukarela keperawanannya kepada sang kekasih. Kalau Ketie dalam Virgin 
berorientasi pada fulus, maka Yuni melakukannya atas nama cinta. ''Saya 
melakukan ini karena cinta," kata Yuni, Sabtu (3/9).

Kalimat cinta menjadi begitu sakti untuk mendapatkan pembuktian. Karena 
Yuni yang sudah berpacaran sejak SMA, justru melakukan hal tersebut pada 
saat kuliah. Persetubuhan pertama dilakukan justru di rumah teman mereka 
di luar kota.

''Awalnya kami tidak pernah punya niat, tapi karena sikonnya mendukung 
jadi kelepasan deh," ujar Yuni santai. Dia mengaku saat itu bingung 
karena sang pacar menuntut pembuktian rasa cinta. Padahal Gibran sudah 
mengingatkan bahwa cinta itu bukan sesuatu yang mudah untuk dilakoni 
tanpa sebuah keyakinan.

Dan Yuni ternyata juga mulai khawatir karena dia mulai gundah dengan 
masa depannya. Terlebih bila suaminya, yang mungkin bukan pacarnya saat 
ini, nanti mendapatkan kenyataan dirinya tak lagi perawan.

Kalau Yuni kehilangan keperawanan sejak tiga tahun silam, lain lagi 
cerita Dini. Karena lingkungan pergaulan mudah saja melakukan begituan, 
dia pun enteng menjalaninya. "Karena teman-teman dan banyak orang yang 
sudah ngelakuin, jadi buat gue biasa aja," ungkap Dini polos.

Dunia malam dan bebas yang akrab dengannya, kehidupan bebas tanpa batas 
sudah melekat sejak 4 tahun belakangan ini. Dengan lugas Dini menilai 
bahwa hidup itu memang harus dinikmati. Jangan terlalu memusingkan 
hal-hal sulit atau mencoba menjadi manusia sempurna. "Hidup itu harus 
dinikmati, so jalanin aja. Yang penting kan enggak sampai hamil,'' tuturnya.

Boleh dibilang profil dua remaja ini seolah menjadi gambaran bahwa 
kehidupan the Melrose Place, yang begitu permisif soal seks, sudah 
melekat dalam benak mereka.

Tak urung psikolog Dadang Hawari harus mengusap dada melihat fenomena 
seperti itu. Fenomena hidup bebas seperti di Barat, adalah salah satu 
penyebab lunturnya nilai-nilai norma dan agama di kalangan anak muda. 
"Bombardir budaya Barat, adalah salah satu penyebab bebasnya pergaulan 
anak zaman sekarang," papar Dadang, Sabtu (3/9).

Kalau toh tidak karena budaya, maka situasi dan kondisi yang ada kerap 
menjadi pembenaran. "Makanya hindari kondisi di mana kita cuma berdua, 
atau di tempat yang sepi. Hal ini terjadi karena adanya kesempatan.''

Psikolog lainnya Clara Istiwidarum Kriswanto justru menyebut tindakan 
seperti Yuni adalah sebuah kebodohan. Sebab cinta tidak mengenal memaksa 
dan tak sama dengan seks. "Jika dia benar-benar cinta dengan kita, maka 
dia tidak akan merusak hidup kita dengan merenggut sesuatu yang belum 
saatnya," tuturnya.

Cinta, lanjut Clara, adalah salah satu bentuk ungkapan rasa sayang dan 
tidak perlu dibuktikan dengan berhubungan seks yang belum saatnya. Cinta 
itu selalu menciptakan kenyamanan dan ketenteraman, membiarkan pasangan 
berkembang menjadi diri sendiri yang lebih baik. ''Beda kok antara cinta 
dan nafsu,'' ujar Clara.

Seandainya orang tua Yuni dan Dini tahu, mungkin cerita makin seru. 
Setidaknya seperti yang dialami Hasyim, 45, yang harus menerima 
kenyataan putrinya hamil tiga bulan saat masih kelas 2 SMA. "Apa dosa 
saya sehingga dia salah langkah. Padahal saya sudah menanamkan 
nilai-nilai agama yang kuat," katanya lirih.

Namun Hasyim tak ingin berlumur dosa dengan menggugurkan kandungan 
putrinya. Dan dia pun menikahkah sang anak dengan pacarnya yang juga 
masih sama-sama sekolah.

Bagi Dadang, penanaman nilai-nilai agama harus dibarengi mengawasi 
segala aktivitas anak. Jangan pernah memberi izin keluar malam, terlebih 
tidak pulang dengan alasan menginap di rumah teman.

Mungkin Yuni atau Dini perlu membaca cerita cinta sang penyair Kahlil 
Gibran. "Apa yang telah kucintai laksana seorang anak kini tak 
henti-hentinya aku mencintai... Dan, apa yang kucintai kini... akan 
kucintai sampai akhir hidupku, karena cinta ialah semua yang dapat 
kucapai... dan tak ada yang akan mencabut diriku dari padanya."


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/FXrMlA/dnQLAA/Zx0JAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list.

Cara kirim cerita di website Sarikata.com :
http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke