Rabu, 07 September 2005

Waspada Bila Jari Manis Anda Pendek!

Oleh: Dr. Handrawan Nadesul, Dokter Umum

Tak banyak cara mengenali orang yang berisiko jantung koroner hanya dari 
melihat struktur luar badannya. Namun, ada studi yang melihat kaitan antara 
semakin pendeknya jari manis dibanding jari telunjuk, dengan risiko jantung 
koroner.

Seperti apa ceritanya?

Ciri fisik gemuk ternyata bukan pegangan lagi untuk mencurigai seseorang pasti 
bakal kena jantung koroner. Dr. John Manning dari Universitas Liverpool, 
Inggris, sudah lama menemukan kaitan panjang jari manis dengan risiko jantung 
koroner. Dan ciri itu sudah tampak sejak masih usia kanak-kanak. Semakin pendek 
jari manis seorang anak, semakin tinggi risiko jantung koronernya. Mengapa?

Lantaran panjang pendek jari manis sudah diprogram oleh hormon seks tubuhnya. 
Pada tubuh anak laki-laki didominiasi oleh hormon testosteron, sedang pada 
tubuh anak perempuan oleh hormon estrogen. Hormon inilah yang mengontrol 
pertumbuhan jemari. Kita sudah lama tahu memang ada kaitan antara hormon seks 
dengan kejadian jantung koroner. Setelah menopause, pada masa hormonnya sudah 
meredup, kejadian wanita kena jantung koroner sama dengan angka pada pria.

Temuan yang diperoleh Dr. Manning itu, bahwa nilai nisbah (ratio) normal antara 
jari telunjuk dibanding jari manis rata-rata di Inggris sebesar 0,97. Artinya, 
jari telunjuk harus lebih pendek dari jari manis. Bila nisbahnya lebih dari 1,0 
berarti memikul risiko bakal jantung koroner.

Gen yang mengontrol hormon seks, juga mengontrol pertumbuhan jemari. Normalnya 
jari manis lebih panjang dari jari telunjuk. Hanya 2 persen populasi yang jari 
manisnya lebih pendek dari jari telunjuk.

Itu berarti semakin panjang jari manis dibanding jari telunjuk, semakin besar 
perlindungannya terhadap ancaman pembentukan kondisi jantung koroner. Atau 
berarti semakin kecil risiko jantung koronernya. Pada orang yang jari manisnya 
lebih panjang dari jari telunjuk, kadar hormon testosteronnya lebih tinggi 
dibanding yang bukan.

Namun, anak dengan jari manis yang pendek tidak serta merta pasti terserang 
jantung koroner bila dilakukan upaya pencegahan. Jadi memang ada hikmahnya 
untuk mewaspadai apabila memiliki jari manis yang lebih pendek dari jari 
telunjuk. Dari indikasi faktor risiko berasal dari panjang jari manis ini 
bersifat independen, seperti halnya risiko merokok dan diet.

Dulu orang meramal nasib hidup seseorang dari analisis bentuk hidung, telinga, 
bibir, mata, atau ilmu phrenology, selain dari membaca garis tangan. Temuan Dr. 
Manning yang kerja bareng dengan Dr. Peter Bundred meramal kemungkinan 
seseorang terserang jantung koroner dari panjang jari manisnya. Dipastikan, 
sejak lahir sampai sepanjang hidup ukuran jari manis seseorang tidak berubah.

Sekali lagi, tentu nisbah jari manis dibanding jari telunjuk hanya satu faktor 
saja, sebagaimana halnya rokok dan juga diet. Ada faktor lain yang ikut bekerja 
dalam ihwal apakah risiko jantung koroner yang orang miliki bakal mengejawantah 
menjadi serangan jantung koroner ataukah justru menjadi batal.

Batal tidaknya serangan jantung pada orang yang memikul sekian risiko di 
tubuhnya, ditentukan pula oleh seberapa keras upaya orang tersebut menggagalkan 
risiko serangan jantung koronernya. Caranya, dengan meniadakan semua fakbr 
risiko yang ada. Dan itu bisa dilakukan selama faktor risiko bukan tergolong 
faktor turunan, yaitu panjang jari manis dan tingginya lemak dalam darah bawaan.

Ciri fisik lain yang tampak pada mereka yang berisiko jantung koroner, pernah 
disebut-sebut bisa dilihat dari ada tidaknya tumpukan lemak (cokelat

kekuningan) di pelupuk mata (xanthelasma), atau pada hitam-mata (kornea) yang 
bercincin kelabu sejak muda, serta bila tubuh lebih pendek dari rata-rata.

Dari sebuah studi terungkap kalau pada tubuh yang lebih pendek dari rata-rata, 
penampang pembuluh darah koroner lebih kecil dibanding orang bertubuh tinggi. 
Ini juga hanya salah satu faktor risiko. Artinya, apabila orang pendek memiliki 
faktor risiko lainnya, seperti lipidnya tinggi karena penampang koronernya 
lebih kecil, â??karatâ? lemak yang terbentuk pada dinding koronernya lebih 
lekas menyumbat dibanding pada koroner orang yang tubuhnya tidak pendek.

Sudah barang tentu lebih berat lagi andai profil tubuh pendek, jari manis lebih 
pendek, ada tumpukan xanthelasma di pelupuk mata, serta hitam-mata bercincin 
kelabu. Kompletlah faktor risikonya.

Orang yang memikul faktor risiko jantung koroner lebih banyak, tentu lebih 
besar kemungkinan untuk terbentuk jantung koronernya dibanding yang tidak 
sekomplet itu. Bahwa orang-orang seperti itu pasti terserang jantung koroner, 
tentu masih ikut ditentukan oleh kehadiran â??faktor pembelaâ? yang mungkin 
dimiliki tubuhnya. Selain seperti apa dominasi menu hariannya, seberapa lengkap 
dan cukup suplemen yang dikonsumsi, tipe mana pola dan gaya hidupnya.

Orang dengan kepribadian Tipe A yang tidak sabaran, irama hidupnya serba cepat, 
kerja keras, berisiko jantung koroner juga. Tidak demikian halnya bagi orang 
Tipe B, yang irama hidupnya serba alon-alon, membiarkan hidupnya seperti air 
mengalir saja.

Yang patuh menekan lipid darahnya, menu makannya ramah jantung, rajin minum 
suplemen yang menjaga kerja jantung, tekun bergerak badan, hidupnya easy going, 
banyak tertawa, dan berpikir positif kemungkinan lebih mampu menjinakkan sekian 
faktor risiko jantung koroner, termasuk faktor risiko jari manis pendek dan 
lipid darah yang tinggi sebab turunan, yang memang tak terelakkan itu. Mestinya 
akan seperti itu. *

Copyright @ PT. Kompas Cyber Media

 

 


                
---------------------------------
Yahoo! for Good
 Click here to donate to the Hurricane Katrina relief effort. 

[Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Life without art & music? Keep the arts alive today at Network for Good!
http://us.click.yahoo.com/FXrMlA/dnQLAA/Zx0JAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list.

Cara kirim cerita di website Sarikata.com :
http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke