SETIAP muslim yang mengimani agamanya pasti akan menyambut Ramadan dengan 
kerinduan yang menggelora. Sebab, Ramadan adalah bulan yang bertabur rahmat dan 
ampunan. Bulan ketika Tuhan menurunkan Alquran dan memberi berkah di malam 
lailatulkadar, yakni malam yang nilainya setara dengan seribu bulan.

Keistimewaan lain bagi umat muslim, puasa adalah bulan pembersihan jiwa. Jika 
saja puasa selalu menjadi telaga penyucian, semestinyalah jiwa yang korup, 
serakah, pendendam, dan destruktif kian terpinggirkan. Jika saja makna hakiki 
puasa mengaliri nadi para pemeluk teguhnya, kaum muslim mestinya berdiri di 
ujung paling depan dalam memelopori kehidupan yang bersih. Kaum muslim mestinya 
juga menjadi lokomotif perdamaian dan persaudaraan.

 

Namun, sejujurnya umat muslim belum menjadi kekuatan yang bisa menjadi 
penangkal berbagai praktik penyimpangan. Korupsi masih menjadi praktik yang 
kian mengerikan. Kian hari kian terungkap fakta bahwa korupsi melibatkan amat 
banyak pelakunya. Sementara itu, kekerasan juga kian akrab dan kian subur 
bersemai di Republik ini.

Itu artinya, ibadah puasa seperti bab terpisah dari rangkaian pelatihan 
pembersihan jiwa. Puasa hanya menjadi rutinitas tanpa memberikan peningkatan 
spiritual. "Banyak orang berpuasa yang tidak mendapat apa-apa, kecuali lapar 
dan haus belaka," kata Rasulullah.

 

Karena itu, agar makna hakiki puasa membekas di dalam jiwa, seluruh umat muslim 
mestinya terus mengoreksi diri sendiri. Bertanya jujur, apa yang telah 
dilakukan baik untuk kepentingan sesama umat maupun kepentingan bangsa?

 

Dalam konteks kebangsaan, misalnya, kita mengawali puasa dengan dua 
keprihatinan. Pertama, karena kehidupan yang kian sulit akibat kenaikan harga 
bahan bakar minyak yang amat tinggi. Kedua, Bali diserang bom yang amat 
destruktif untuk kedua kalinya.

Dalam konteks yang pertama, umat Islam harus terus mengasah kepekaan sosialnya. 

 

Indonesia dengan 62 juta penduduk miskin sungguh memerlukan kebajikan sosial 
yang tidak boleh putus. Dengan kemiskinan yang amat tinggi ini, pantaskah jika 
bagian bangsa ini punya hobi pamer kemewahan?

 

Yang kedua, bom Bali (dan bom-bom lainnya) yang amat leluasa meledak di negeri 
ini sejak 2000 haruslah kian mempersatukan umat beragama. Tidak hanya muslim, 
tetapi juga nonmuslim. Kita harus bersepakat bahwa kekerasan bukanlah perilaku 
orang-orang yang mengimani keagungan Sang Maha Pencipta.

 

Secara historis, puasa juga ajaran universal (ada di semua agama), maka sungguh 
amat tepat jika Ramadan dijadikan momentum untuk kian meningkatkan kerukunan 
antarumat beragama. Sebab, ini modal kebangsaan yang sungguh amat penting. 
Selamat berpuasa.


___________________________________________________  郔陔唳 Yahoo!✽藻撈�r籵�� 7.0 
betaㄛ轎愐鋒繚����¦斕湖ㄐ  http://messenger.yahoo.com.tw/beta.html

[Non-text portions of this message have been removed]





------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list.

Cara kirim cerita di website Sarikata.com :
http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke