Dia menghinaku setiap malam

 Semula, kehidupan rumah tanggaku berjalan normal. Kesibukan nyaris membuat
pertengkaran tak hadir di rumah. Apalagi, kelucuan anak kami yang baru
berumur 2,5 tahun, Sista, membuat rumah selalu penuh tawa. Karena itu, aku
acap merasa memiliki keluarga yang sempurna. Sebagai istri, aku punya suami
yang sayang, sebagai ibu, aku punya anak yang manis, sebagai wanita, aku pun
berkarier, punya penghasilan sendiri, yang membuatku punya nilai lebih
daripada wanita atau istri yang lain. Sungguh, puji Tuhan atas karunia itu.

Oh ya, suamiku, Rinaldi termasuk lelaki penyabar. Mungkin karena itulah,
kariernya di kantor juga sabar sekali naik. Kadang aku berpikir, Aldi --itu
panggilannya-- seorang pria yang gampang merasa bahagia. Ia enteng saja
menjalani hidup. Pagi ke kantor, sore di rumah, bermain dengan Sista.
Berbeda dari aku yang cukup sibuk, pagi ke kantor, sore aku masih pergi
kerja lagi, bisnis MLM. Dan hasilnya, secara finansial aku mandiri.
Penghasilanku lebih banyak dari Aldi. Dan hal itu tak membuat keretakan apa
pun. Aldi tak menjadi kecil hati, aku tak berbangga diri. Semua itu rezeki
keluarga kami, terutama Sista.

Dua bulan setelah Sista ulang tahun ke-3, Aldi ditugaskan ke Cilacap. dan
seperti biasa, ia menerima. Alasannya, sebagai PNS dia tak punya posisi
tawar. Dalih yang dicari-cari, padahal aku yakin, dengan "pelicin" sedikit,
Aldi akan tetap dapat bertugas di Semarang. Ya begitulah, Senin-Jumat ia di
Cilacap, Sabtu pagi, kadang Jumat malam, ia telah kembali ke Semarang.
Praktis, kami hanya bertemu dua hari dalam seminggu. Dan Aldi tampaknya
lebih banyak kangen ke Sista daripada aku. Aku maklum, dan tak cemburu.

Kejarangan bertemu ini tak membuat masalah pada kami berdua, pada awalnya.
Aku kian disibukkan dengan bisnis MLM-ku yang memang sangat menjanjikan,
meski kadang harus membawa Sista, jika dia rewel. Kesibukan ini juga yang
membuat aku dapat melupakan saat-saat ketiadaan Aldi, sampai...

Suatu hari, aku bertemu dengan Agung, dalam sebuah pertemuan bisnisku. Agung
ini mantan pacarku. Kami berpisah karena perbedaan keyakinan dan
ketaksetujuan orang tua karena perbedaan itu. Perjumpaan ini membuat semua
kenanganku bersamanya kembali lagi. Seperti aku, dia juga sudah menikah,
dengan dua anak. Tapi, jalinan bisnis itu yang membuat kami kembali dekat.
Kami bahkan acap pergi bersama, mempresentasikan produk, bahkan kadang
berbagi *downline*. Kerja menjadi mengasikkan bagiku. Dan, jika sudah sampai
di rumah, barulah aku merasakan betapa sepinya rumahku. Aneh memang, setelah
perjumpaan dengan Agung, baru kusadari betapa aku sangat butuh Aldi. Mungkin
lebih tepatnya, kehadiran seorang lelaki, setiap hari.

Meski mantan, kami tak pernah tergoda untuk berbicara masa lalu. Walau,
tentu saja, kadang kami tertawa jika ingat rumah makan atau tempat-tempat
favorit saat bersama dulu. Tapi, ternyata aku tak sekuat Agung. Jika ia tak
menampakkan sikap menggoda, aku sebaliknya, sering merasa kangen dan senang
kembali berada di dekatnya, berbincang lama-lama. Yah, ketiadaan Aldy memang
membuat aku kadang merasa mendapatkan perhatian dari Agung, semacam
pelarianku. Dan ini memang berpengaruh pada Aldi. Dia acap kaget ketika
sampai rumah, aku seperti menyeretnya masuk kamar, dan "melahapnya". Aku
sendiri tak tahu, mengapa begitu. Setelah selama 4 hari bersama Agung, pasti
Jumat atau Sabtu, aku begitu bersemangat bercumbu dengan Aldi, hal yang
semula membuat dia bertanya-tanya, meski selebihnya dia menikmati.

Tapi, substitusi kemesraan itu ternyata tak selamanya bisa. Kadang, aku
merasa hasratku meledak justru tidak di akhir minggu, melainkan hanya
beberapa detik setelah Aldi berangkat. Aku bahkan kadang harus
bermasturbasi, hal yang tak pernah kubayangkan dapat aku lakukan.

Dan, seperti magma yang menimbun di perut gunung, suatu hari akan meletus
juga. Tak kuingat jelas pada mulanya, juga bagaimana percakapan kami, yang
jelas, dengan tertawa-tawa, aku dan Agung masuk kamar hotel. Kami saling
bertanya-tanya, apakah sungguh akan melakukan hal itu. Tapi, diam barangkali
cara yang paling ampuh untuk membuat keraguan pergi. Dan terjadilah, aku
berselingkuh dengan Agung, begitu saja, tanpa proses yang panjang. Ini
mungkin seks sebagai selingan. Seks sebagai obat kesepian. Itu saja. Dan
karena itulah, aku tidak merasa bersalah pada Aldi, aku tetap melayaninya
seperti biasa, yang membuat dia acap ternganga-nganga. Agung hanya
pelampiasan saja, seks saja, tanpa cinta.

Tapi, tanpa cinta pun, ternyata aku dapat menikmatinya. Malah dengan
keliaran yang lebih. Aku bahkan jadi terbiasa untuk berkata pada Agung,
"Nanti ngamar yuk?" tanpa rasa risi. Aneh, aku sendiri sering merasa asing
dengan kata itu, tapi selalu aku ucapkan, dan berulang terus. Dan aku
nyandu. Memang, agung lebih variatif daripada Aldy. Atau, karena aku bukan
istrinya, dia selalu berusaha tampil perkasa. Persetanlah, yang penting aku
menikmatinya.

Lalu, semua terjadi. Begitu saja, tiba-tiba, sehabis *check-out*, Aldy sudah
di depan kami. Ya, ia menangkap basah kami. Agung dapat kepalan di
kepalanya, aku dapat tamparan, juga caci maki. Selebihnya, setelah puas,
Aldy diam. Tak ada kata cerai, tak ada lagi pukulan. Ia hanya diam, diam.
Setelah peristiwa itu, ia lebih banyak bermain dengan Sista, tak
menghiraukanku. Ia makan, baca koran, tidur, nyaris tanpa berkata-kata. Kami
serumah, nyaris tanpa suara. Oh ya, Aldi curiga aku selingkuh karena selalu
menemukan tanda parkir di hotel yang lalai aku sembunyikan. Tanda parkir di
hotel itulah yang menuntunnya. Aku memang goblok. Aldi jelas pria sabar,
tapi ia tidak bodoh.

Aku tentu saja berhenti selingkuh, meski bisnisku tetap jalan. Agung sudah
entah di mana, bahkan nomor hp-nya pun sudah berganti setelah kejadian itu.
Ia barangkali malu. Dan aku, barangkali tak malu, tapi tersiksa. Ya,
tersiksa karena sikap diam Aldi. Ia bahkan mampu berdiam begitu setelah
empat bulan kejadian itu. Padahal aku telah meminta maaf, telah berjanji,
bersumpah. Tapi ia diam, ia seakan tak pernah menyadari kehadiranku di
rumah. Ini hukuman yang lebih kejam dari apa pun. Tak heran jika akhirnya
raihan nilai bisnisku turun drastis. Tapi aku tak begitu peduli, aku ingin
kembali di percaya Aldi.

Nyaris semua cara telah aku coba. Menggodanya dengan pakaian tipis di kamar,
atau berganti busana di depannya. Dia tak membuang muka, diam saja. Semula
aku curiga dia "main" perempuan, tapi ternyata tidak. Pengecekanku
membuktikan dia masih suami setia. Artinya, selama 6 bulan setelah kejadian
itu, dia masih "berpuasa".

Lalu, suatu malam, aku menggodanya. Aku beranikan diri menggerayangi
tubuhnya. Ya, napasnya memburu, tapi dia tak bereaksi. Aku tahu dia
terangsang, tahu.. dan begitulah, tiba-tiba dia memelukku, menciumku,
mencopoti busanaku, dengan sangat kasar. Dan, dan, dengan kasar dia
membalikkan badanku, menelungkupkanku di kasur, lalu, lalu... ya Tuhan, dia,
dia... menyodomiku! Aku menjerit, bukan karena perih yang kurasakan, tapi
hatiku yang serasa ditikam. Aku menangis, dan kian sesenggukan, saat usai,
Aldi mengatakan ini di telingaku, "Anusmu masih lebih suci daripada
vaginamu!" Oh, Tuhan.., duniaku serasa karam. Aldi, Aldiku yang penyabar
itu, ternyata pendendam, dia masih menyalahkanku...

Dan begitulah, jika dulu setiap Jumat atau Sabtu aku menunggu kehadirannya,
kini aku justru merasa takut. Karena dipastikan, malamnya, ia pasti akan
membalikkan tubuhku, dan menyodomiku, tanpa cumbu. Ia memperlakukanku
seperti kuda tunggangan, kasar sekali. Dia juga masih tak menegurku, dan
hanya bisa tertawa dengan Sista.

Kini, setahun lebih sudah aku mengalami hal itu. Dan sodomi bukan hal baru
lagi. Tubuhku pun sudah menerima hal itu, tanpa rasa sakit lagi. Cuma,
hatiku yang masih sakit, bertambah sakit, karena setiap "persetubuhan", ia
masih selalu meneriakkan kata-kata itu, "Anusmu masih..." Aldi, tampaknya
tak dapat memaafkanku, tak dapat menghilangkan kebenciannya pada
perselingkuhanku. Ia begitu mendendam, sampai begitu dalamnya. Dan aku hanya
bisa menerima, dengan tangisan, dengan jerit yang selalu gagal aku pekikkan,
"Agung, tolonglah aku...."


[Non-text portions of this message have been removed]



------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> 
Get fast access to your favorite Yahoo! Groups. Make Yahoo! your home page
http://us.click.yahoo.com/dpRU5A/wUILAA/yQLSAA/wnIolB/TM
--------------------------------------------------------------------~-> 

Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list.

Cara kirim cerita di website Sarikata.com :
http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 




Kirim email ke