Pesan dari Ayah Oleh: Joko Pinurbo Datang menjelang petang, aku tercengang melihat Ayah sedang berduaan dengan telepon genggam di bawah pohon sawo di belakang rumah. Ibu yang membelikan Ayah telepon genggam lantaran Ibu tak tahan melihat kekasihnya kesepian.
"Jangan ganggu suamiku," Ibu cepat-cepat meraih tanganku. "Sudah dua hari ayahmu belajar menulis dan mengirim pesan untuk Ibu. Kasihan dia, sepanjang hidup berjuang melulu." Ketika pamitan hendak kembali ke Jakarta, aku sempat mohon kepada Ayah dan Bunda agar sering-sering telepon atau kirim pesan, sekadar mengabarkan keadaan, supaya pikiranku tenang. Ayah memenuhi janjinya. Pada suatu tengah malam telepon genggamku terkejut mendapat kiriman pesan dari Ayah, bunyinya: Sepi makin modern. Langsung kubalas:Lagi ngapain? Disambung: Lagi berduaan dengan ibumu di bawah pohon sawo di belakang rumah. Bertiga dengan bulan. Berempat dengan telepon genggam. Balas. Kubalas dengan ingatan. Di bawah pohon sawo itu puisi pertamaku lahir. Di sana aku belajar menulis hingga jauh malam sampai tertidur kedinginan, lalu ayah membopong tubuhku yang masih lugu dan membaringkannya di ranjang Ibu. [Non-text portions of this message have been removed] ------------------------ Yahoo! Groups Sponsor --------------------~--> Know an art & music fan? Make a donation in their honor this holiday season! http://us.click.yahoo.com/.6dcNC/.VHMAA/Zx0JAA/wnIolB/TM --------------------------------------------------------------------~-> Ditunggu selalu kontribusinya baik lewat website maupun mailing list. Cara kirim cerita di website Sarikata.com : http://www.sarikata.com/index.php?fuseaction=home.kirim_cerita Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
