Seoarang Nyonya
Oleh: Sarana Cinta

Seorang nyonya muda sedang telungkup di atas tempat tidur. Rambutnya seperti
benang kusut. pakaianya belum ganti sejak pagi. Sesungguhnya ia adalah
perempuan cantik. Hanya saja membiarkan dirinya dikumali kesedihan. Bantal
yang menjadi tumpuan wajahnya menjadi sangat basah. Oleh linangan air mata
bercampur air hidung yang terus-terusan mengalir berbareng isaknya. Entah
sudah berapa lama ia begitu, yang pasti sejak ia mengalami peristiwa yang
rupanya telah menggoncangkan perasaannya, ia sering menggunakan kesempatan
menangis sedemikian di dalam kesendiriannya.

Di luar senja merembang.lampu-lampu jalanan mulai menyala. kamarnya dihuni
nyonya itu nyaris menjadi gelap. Untunglah sinar neon jalanan sempat
menyelinap melalui jendela kaca yang, masih belum tertutup korden. Di dalam
keremangan kelihatan nyonya itu menggeliat-geliat. Barangkali ia capek. Atau
klimaks dukanya sudah menurun. Sekarang ia mulai bangun. Tangisnya reda.
Cuma sesenggukan masih menggoncang dada. la memerlukan waktu beberapa saat
sebelum ia beranjak dari posisi duduknya. la meraba sesuatu dari bawah
bantalnya. Sehelai saputangan, Pertama diusapkan pada kedua belah matanya.
Kemudian seluruh wajahnya. la membeber saputangan itu ke bawah hidung.
Lantas ditekannya hidugnya dengan kekuatan senacam menghembus sesuatu.

Sssrrrtt...., berpindahlah cairan-cairan yang menyumbat. Setelah berbuat
demikian nyonya itu merasa sebagian pengganjal hatinya ikut tertumpah. 1a
menjadi lebih tenang. la bangkit dari pembaringannya. Turun. Disentuhnya
kenop lampu. Kamar itu seketika jadi terang. Nyonya itu berbalik pada sudut
dimana terletak meja. Di atas meja itu ada sebuah koper. Ia membuka koper
itu dan membongkar-bongkar. Agaknya ia sedang menyimpan maksud. Tak lama ia
mendapat Yang dicarinya. Sebuah gaun berwarna biru tua. Terbuat dari bahan
beludru. Ada hiasan renda putih di pinggirannya. ia membawa gaun itu ke muka
kaca. Di situ dipatutkan ke.arah tubuhnya.

Sekonyong-konyong ia tersenyum. Mula-mula geli. Rambutnya yang riap-riapan,
wajahnya kemerahan, lesu oIeh bekas tangis. Sama sekali tak cocok dengan
gaun terbuat dari bahan anggun itu. Kemudian ia teringat sesuatu. Ingatan
mengiris. Senyumnya mendadak sinis. Hmmm..... gaun yang sesungguhnya
dipersiapkan dipakai pada malam ulang tahun perkawinannya, sekarang akan
dikenakan menjalani peristiwa lain. Peristiwa yang baru ia bisa bayangkan
permulaannya tetapi belum tahu kelanjutannya. Sampai di sini ia menghela
napas. Lebih baik tak usah dipikir dulu. Hadapi saja apa yang bakal terjadi.
Sesantai orang makan kwaci.

Satu jam berikutnya. Nyonya muda itu sudah berubah sama sekali. la laksana
putri Cinderella yang sudah berganti pakaian pesta. Gaun itu sangat serasi
untuk potongan tubuhnya yang belum banyak berubah walaupun telah menjadi ibu
dari tiga .orang anak. Rambutnya yang biasa disanggul sekarang digerainya
hingga mencapai pundak. Sama sekali tak nampak bekas tangisannya sebab telah
dioleskannya make-up yang lebih tebal dari biasa. Sebelum ia keluar dari
pintu kamar ia sempat melirik sekejap serta melempar seuntai senyum pada
kaca.

Lobby hotel internasional itu penuh dengan orang-orang berpakaian bagus.
Memang cuma golongan kantong padat saja yang mampu menginap di situ. Nyonya
muda itu sengaja memilih hotel tersebut bukan karena kemewahannya. Sepuluh
tahun lalu ia pernah datang dan tinggal di hotel itu meskipun keadaannya
sangat berlainan dari sekarang. Yaitu pada saat ia menjalani bulan madu
sesudah hari pernikahannya. Hotel itu memberikan kenangan manis dalam
kehidupannya. Namun bukan hal ini yang menyebabkannya ia datang. Tahun-tahun
sesudah bulan madunya ia menjalani hari-hari penuh kesibukan. Mula-mula
sebagai seorang istri. Kemudian ibu. dari satu anak. Menjadi, tiga anak.
Sedangkan pada hari libur suaminya ia tak pernah bepergian lebih jauh dari
tempat-tempat rekreasi yang dekat dengan kota kediamannya. Pada dasarnya ia
adalah perempuan cermat. la lebih mementingkan berhemat daripada
menghamburkan uang untuk rekreasi mahal. Akibatnya pengetahuannya tentang
obyek-obyek pariwisata atau tempat-tempat lain jadi terbatas.

Pada saat insiden itu terjadi dan sesudahnya ia memutuskan pergi. Maka ia
terpaksa menjatuhkan pilihan pada hotel itu. Berkunjung pada tempat yang
pernah diketahuinya, paling tidak membantu menghilangkan kerisihan dari
ketakterbiasaan melakukan perjalanan sendirian.

Nyonya itu tak bermaksud minggat dari keluarganya. la mencintai anak-anaknya
iebih dari apapun dalam hidupnya. la tak akan bertega hati untuk melepas
tanggung jawabnya sebagai ibu. Namun ia masih seorang perempuan. Dengan
watak-watak alamiah seorang perempuan. Tak sanggup menghadapi setiap
peristiwa menggoncangkan, tanpa melakukan apa-apa bagi keseimbangan
kalbunya.

Menangis? Oh......, sudah hal pertama paling dilakukan semenjak ia melihat
dengan bola mata miliknya sendiri kenyataan amat menyakitkan itu.
Sesungguhnya ia tidak sengaja. Ia hanya kebetulan lewat jalanan itu
sepulangnya mengambil kue pesanannya. ia pada mulanya tak percaya. Abang
becak segera disetopnya. Dan setelah membaca pelat nomor, ia baru yakin apa
yang disaksikan tak salah lagi. Ya Tuhan, betapa keterlaluannya, di siang
bolong semacam ini...... Nyonya itu tak kuasa meneruskan desahnya. la
seketika berurai air mata. Rumah dimana ia mendapati mobil suaminya
terparkir dalam halamannya adalah tempat pelacuran terkenal di kotanya.
Germo intelek, pelacur intelek serta langganan intelek pula. Hampir saja kue
tart itu dicampakkan, kalau saja logikanya tidak menang menimbang demi
kesukaan anak-anaknya. Air mata terus menetes-netes. Didalam becak menuju
perjalanan pulang tak hentinya ia meratap dalam hati. Kenapa justru pada
hari itu? Hari yang sudah direncanakan jauh sebelumnya untuk suatu surprise.
Gaun baru, kue pengantin, santapan malam lebih dari hari-hari biasa.

Ia bahkan sengaja membiarkan suaminya tenggelam dalam kealpaan. la bermaksud
membuat suaminya tercengang dengan hiasan di ruang makan, Kemudian ia akan
muncul dengan gaun barunya. Tentu dengan dandanan lengkap. Lantas ia akan
mendekat, mengecup pipi suaminya sambil berbisik: "Ingatkah kau pada malam
ini adalah hari uiang tahun kesepuluh perkawinan kita?"

Dan apa yang terjadi? Ternyata sama sekali berlainan. Malam itu ia cuma
mengenakan daster. Taart pengantin dan hidangan-hidangan cuma dimakan oleh
anak-anak dan kedua pembantunya. Ia sendiri mengunci kamar, sendirian di
dalam. Tak dihiraukan wajah kecut, gelisah suaminya. Permohonan maaf memelas
serta alasan-aiasan lainnya. la tak dapat ditawarkan. Namun menangis saja
bukan jalan pemecahan berfaedah.

Ia cukup memiliki prinsip dan kepribadian Lagi pula ia tak suka melawan
laki-laki cuma dengan tangisan melulu. Keesokan harinya. Sesudah suaminya
berangkat kantor. Sesudah kedua anaknya ke sekolah. la mengantar si bungsu
ke tempat ibunya. la tak berceritera apa-apa kepada ibunya persoalan yang
terjadi dalam rumah tangganya. Hanya ia berkata ingin menitipkan si bungsu
karena ia sedang repot menjelang hari penarikan arisan yang akan diadakan di
rumahnya. Ibunya sendiri tidak menaruh curiga. Karena memang si bungsu
itulah yang paling sering dititipkan di rumah neneknya.

Kembali ke rumah ia berkemas. Diam hanya sebuah koper diisinya dengan
beberapa setel pakaian (termasuk gaur barunya}. Sabun, handuk, sikat gigi
pakaian tidur serta alat kosmetiknya la menyuruh salah seorang pembantu nya,
ke rumah seorang nyonya tetangga sebelah yang dikenal sebagai pemasak
makanan rantang. la memesannya untuk seminggu. Kemudian setelah memberi
pesan-pesan seperlunya kepada pembantu satunya mulailah ia mengambil pulpen
dan menulis di atas secarik kertas untuk suaminya.

"Jangan kau cari aku ataupun lapor polisi. Aku akan kembali dalam waktu
seminggu. Jika anak-anak bertanya katakan saja aku sedang ada urusan, kau
bisa mengarang alasan seperlunya. Sesungguhnya aku ingin mencari ketenangan
dalam mempelajari arti perkawinan kita sepuluh tahun ini." Kertas itu
dilipatnya. Diam-diam diletakkan dalam lemari pakaiannya. Di situlah ia
yakin suaminya akan menemukan surat itu. Pada saat ia keluar rumah
menjinjing koper, hatinya diliputi ketrenyuhan. Keluar pagar sebetulnya ia
malu.

Untunglah pada jam sepuluh ibu-ibu masih sibuk di dapur, anak-anak belum
pulang sekolah, para suami sedang bekerja. Sebelum nyonya itu menuju
lapangan udara, ia mampir ke bank dulu mengambil sejumlah dari depositonya.

Di tengah lobby hotel, di antara kelompokan manusia-manusia yang sama sekali
tak dikenalnya, nyonya muda itu tertegun. Kikuk. Namun sedapat mungkin
perasaan itu ditekannya. Musik lembut. Interior indah. Lampu warna-warni.
Orang-orang dengan pakaian bagus. Memberi ulasan segar pada kalbunya.
Diam-diam ia agak menyesali ketololannya. Sejak datang dua hari lalu. la
membiarkan diri tersekap dalam kamar. Untuk makan sekalipun ia tak punya
keberanian ke coffee shop atau restoran. Melalui telepon saja ia minta
bagian pelayanan merigirimkan sampai ke kamar. Lantas apa yang ia kerjakan
dalam kamar? Kalau ia sedang dapat melupakan hal yang telah dilakukan
suaminya, maka dapatlah ia mengerjakan sesuatu lebih santai. Membaca buku,
merajut benang-benang wool yang sempat dite1usupkan ke dalam kopernya ketika
berkemas. Atau menikmati acara T.V. hingga jauh malam.

Hanya kesedihan rupanya lebih mendera orang sendirian ketimbang di tengah
kawanan. Oleh sebab itu sebetulnya lebih banyak waktu terlalui dengan
tetesan air mata. Namun tidak akan terjadi sesudah malam ini, nyonya itu
bertekad dalam hati. Jika seorang laki-laki mampu meiakukan hal yang
menyakiti perempuan, kenapa tidak bisa sebaliknya Bukan jamannya lagi wanita
cukup menunduk, berurai air mata menghadapi penyelewengan suami. Demikian
paling tidak pendapat-pendapat yang berkelebat dalam pikirannya di atas
pembaringan sore tadi, membuatnya semakin mantap dengan niatnya membalas
suaminya. Nyonya itu berkeliling di sekitar lobby. Ia berhenti pada satu
papan berukir dengan tempelan brosur dan tulisan spidol aneka warna.

"Enjoy your dinner tonight at our supper club..... MUSIC....... DANCE....
WINE......"

Nyonya muda itu merasa tertarik. Ya mengapa tidak? la akan menikmati makan
malamnya di tingkat teratas hotel itu. Sebuah night club. Siapa tahu ia
dapat bersua dengan seorang pangeran disitu?

Nyonya muda itu baru selesai dengan santapan malamnya sedang termangu ke
depan podium manaka1a laki-laki dengan pantalon biru tua dan kemeja putih
itu mendekati mejanya. Sambil menyapa "Sendirian zus?" Ia jadi tersipu, tak
kuasa menyahut selain mengangguk. Nampaknya laki-laki itu seorang pria yang
terbiasa menghadapi wanita. Terbukti tanpa dipersilakan, berani menarik
kursi lalu duduk di hadapan nyonya itu. Sekedar basa basi pria itu
bersenyum, sambil menyeletuk: "Tidak keberatan ya zus soalnya saya juga
sendirian nih......"

Laki-laki itu tak hendak suasana jadi beku, ia mulai memancing-mancing buah
cakap baru.
- "Dari mana asalnya zus?"
+ "Surabaya, jawab nyonya itu pendek".
- "Kenapa kok sendirian?"
Dalam keadaan biasa, barangkali nyonya itu akan ketus menjawab. la paling
benci pertanyaan usil semacam itu. Bayangan mobil diparkir. Suami bergelut
dengan pelacur telah mengubah jalan pemikirannya sedemikian rupa, sehingga
ia cuma tersenyum lantas dengan suara halus menyahut.
+ "Habis kalau memang tidak berteman?"
Laki-laki itu seperti mendapat angin dengan jawaban ini. la mengulurkan
tangannya.
- "Nama saya Paul, boleh saya tahu nama situ? Sudah ini kita berteman ya?"
+ "Anggraeni"
ia menjawab sekenanya. Nama yang dicomot dari ingatan begitu saja. Nama
tokoh sebuah nnvel yang pernah dibacanya. la belum terlalu gegabah untuk
menyatakan nama sebenarnya.

Nyonya muda itu menerima jabatan tangan laki-laki itu. Ia merasa bahwa
tangannya digenggam agak lama. Unsur kesengajaan. Baiknya ia pura-pura tidak
merasakan.

Band telah mulai dengan lagu baru. Instrumentalia lembut. Pasangan demi
pasangan maju lagi ke depan untuk berdansa. Tanpa disadari nyonya itu ikut
terbawa suasana sekitarnya. Remang-remang. Musik romantik. Pasangan
berdekapan. Oleh sebab itu ketika laki-laki bernama Paul itu mengajaknya
berdansa ia tidak menolaknya. Di atas lantai dansa, laki-laki itu menarik
hampir seluruh keseimbangan badannya, membuat pipi-pipi mereka bersentuhan
satu sama lain. Nyonya muda itu risih. la tak menyangka Iaki-laki itu begitu
agresifnya. Ingin ia mengendorkan pelukan itu. Sia-sia. Tenaga laki-laki
tersebut terlalu kuat untuk dilawannya. Tak ada pilihan lagi. Pasrah saja.
Nyonya itu memejamkan mata sedangkan kaki-kakinya tetap bergoyang, mengikuti
irama lagu.

Ia tersenyum kecil menyadari bahwa untuk pertama kalinya ia telah membiarkan
tubuhnya dijamah secara intim oleh seorang laki-laki bukan suaminya.
Berkelebatlah wajah suaminya dalam ruang matanya kini. Apa yang sedang
dikerjakan suaminya sekarang? Tidur? Masih membaca? Namun ia dapat
memastikan suaminya tak berani ke1ayapan sepeninggalnya. Moga-moga bisa
kapok sesudah ini, demikian ia berharap diam-diam.

Sementara asyik dengan pikirannya sendiri, nyonya itu tak sempat mendengar
partnernya yang berusaha mengajaknya berbicara. Lagu berganti lagu, masih
terus mereka berdansa. Baru lagu berubah dari irama lembut menjadi rock
laki-laki itu melepas pelukannya. Kemudian mengajak nyonya itu keluar.
Seperti kena pesona ia mengikut saja, meskipun ia belum selesai dengan
pikiran mengenai suaminya. Sesampai di luar, suatu pojok sunyi dari orang
laki-laki itu tiba-tiba membungkuk serta membisikkan kata-kata yang rupanya
sudah dipersiapkan sebelumnya.
- "Saya berkenan melewatkan malam ini dengan zus, namun sebaiknya kita
zakkelijk dulu. Berapa imbalan yang zus minta?"
Nyonya itu terkesiap. Serasa jantungnya tertetak sesuatu benda tajam, ia
baru paham apa yang dipikir laki-laki itu mengenai dirinya. Amarahnya meluap
seketika. Seumur hidupnya ia belum pernah mendapat pertanyaan yang begtu
menusuk kewanitaannya seperti pertanyaan laki-laki itu. la membuka dompet,
mengambil kunci kamar. Ia menudingkan kunci itu sambil berkata lantang.
+ "Saya tamu hotel ini tahu? Sudah tiga hari menginap di sini. Hotel ini
hampir tiga setengah juta termasuk pajaknya. Apakah seorang lonte mampu
membayar sendiri untuk seminggu?"
Tanpa menunggu reaksi ucapannya, nyonya itu membuka semua isi dompetnya.
Dikeluarkannya dari situ uang tunainya, SIM, kartu penduduk lantas juga....
sebuah foto keluarga ukuran kecil. Semuanya dibeber ke hadapan laki-laki itu
disertai celoteh tak terbendung.
+ "Ini buktinya saya bukan lonte bung! Saya punya suami, saya punya anak,
tiga orang lagi! Jangan seenaknya menawar, lihat rupa dulu ya?"

Menampak nyonya muda itu berubah seperti macan betina tentu saja laki-laki
itu menjadi ciut. Perubahan drastis terlukis pada wajah dan sikapnya. Nyonya
itu merasa berada di atas angin, walaupun begitu kegemaran masih pekat
meliputinya. Ia tak dapat menahan mulut untuk tak mengeluarkan kata-kata
lebih pedas lagi.
+ "Makanya bung, itulah kalau sudah terbiasa dengan pelacur sudah tak bisa
membedakan lagi ya?" Laki-laki itu membalikkan diri, bersiap pergi dari
tempat itu. Namun sebagai kompensasi dari rasa malunya ia sempat menggerutu.
Gerutuan tidak keras, tapi cukup dapat masuk ke dalam telinga nyonya muda
itu.
- "Siapa salah? Kalau memang bukan lonte kenapa meniru sikap seorang lonte?
Sendirian di night klub jam sebegini dan begitu mudah menerima ajakan
laki-laki... Saya sih kan pria normal ..!

Ini adalah bagian terakhir dari kisah nyonya muda ini. Keesokannya ia telah
berada di tengah keluarganya lagi Nyonya itu telah memendekkan tamasyanya
dari seminggu menjadi empat hari. la tidak berceritera apa-apa kepada
keluarganya terutama kepada suaminya darimana ia datang. Sedangkan suaminya
juga bijak untuk tidak bertanya kemana istrinya telah pergi.

Anak-anak juga tidak tahu apa sesungguhnya yang telah terjadi. Mereka hanya
gembira, berisik, berlomba di hadapan ibunya untuk berceritera apa yang
mereka lakukan selama ibu tak ada di rumah. Malam hari ketika acara televisi
sudah usai, nyonya itu mengantarkar anak-anaknya ke kamar masing-masing
kemudian ia baru masuk ke kamarnya sendiri. Didapatinya si suami masih
terjaga, rupanya sengaja menantinya.

Nyonya itu tidak menolak sewaktu suaminya memeluk serta menciumnya
bertubi-tubi sambil berbisik dengan nada penuh rindu.
- "Jangan kau ulangi kenekatanmu, aku bersumpah tak akan mengulangi
perbuatanku. Kesenangan itu sebentar saja tak sepadan dengan ganjarannya.
Aku hampir gila selama kepergianmu".
Nyonya itu tidak menjawab. la memang tak perlu lagi menjawab. Secara jujur
ia dapat merasakan bahwa ia telah memaafkan apa yang terlanjur dilakukan
suaminya. hanya ia tak dapat menahan dua butir air mata. Turun melintas
pipinya. Suaminya melihat itu, penuh
kemesraan mengusap dengan ujung-ujung jarinya. Tentunya laki-laki itu
mengira istrinya terharu dengan ucapannya. Tetapi sebetulnya tak ada yang
lebih tahu dari nyonya itu sendiri guna apa air mata itu.

Untuk pertama kali dalam kehidupannya nyonya itu menangisi kodrat
kelahirannya sebagai perempuan.


[Non-text portions of this message have been removed]



Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke