Mengapa Harus Malu?
"The most important human endeavor is striving for morality in our
actions. Our inner balance and even our very existence depend on it.
Only morality in our actions can give beauty and dignity to life.
Upaya manusia yang terpenting adalah tindakan yang berlandaskan
moralitas. Keseimbangan jiwa dan keberhasilan kita sangat tergantung
padanya (moralitas). Hanya sikap dan tindakan yang berlandaskan
moralitas yang dapat memberikan keindahan dan meningkatkan martabat
kehidupan kita."
Einstein
Pada bulan Maret lalu saya menjenguk salah seorang kakak di
Melbourne. Selama 3 hari di kota tersebut, saya benar-benar merasa
heran karena cost of living atau biaya hidup di kota maju seperti itu
tidak seperti yang saya bayangkan. Harga buah-buahan dan daging
maupun kebutuhan pokok lainnya cukup murah. Sementara daya beli
masyarakat disana cukup besar. Bisa dibayangkan kesejahteraan
masyarakat disana pasti terjamin.
Keadaan itu sangat bertolak belakang dengan apa yang terjadi di
Indonesia. Harga-harga kebutuhan pokok di Indonesia semakin tak
terjangkau oleh kebanyakan masyarakat. Padahal negri ini dikenal
memiliki tanah subur dan sumber daya alam yang kaya.
Sebaliknya, negri ini ternyata juga dikenal memiliki hutang luar
negri sangat banyak. Bahkan menurut Paul Wolfowits, Presiden Bank
Dunia, untuk tahun 2006 Indonesia dijanjikan pinjaman sebesar US $900
juta. "Jumlah itu adalah jumlah yang sangat serius," ucapnya dalam
kunjungan ke Indonesia beberapa waktu yang lalu.
Kekayaan negri ini maupun hutang luar negri lebih banyak
diselewengkan daripada dimanfaatkan untuk mengoptimalkan fungsinya
untuk mengentaskan kemiskinan ataupun memajukan kehidupan bangsa.
Korupsi telah berakibat semakin bertambah besar jumlah penduduk
miskin dan penganguran. "Korupsi adalah persoalan yang sangat serius
di negri ini," ujar Paul Wolfowits saat meminta bantuan KPK untuk
mengawasi adanya penyimpangan.
Persoalan korupsi di Indonesia sangat sulit diberantas. Paul
Wolfowits menilai itu karena sistem yudisial di Indonesia buruk.
Faktor tersebut sesungguhnya penghalang bagi keadilan dan pertumbuhan
ekonomi Indonesia.
Bila kita menengok ke Cina, Zhu Rongji adalah satu contoh seorang
pemimpin yang mampu menghapus label negrinya dari negara terkorup di
dunia. Ketika dilantik pada bulan Maret 1998 sebagai perdana mentri,
dengan lantang ia mengucapkan, "Berikan kepada saya seratus peti
mati. Sembilan puluh sembilan untuk koruptor, dan satu untuk saya
jika saya melakukan hal yang sama."
Sejak tahun 2001, terhitung lebih dari 4.000 jiwa dieksekusi mati.
Ribuan peti mati itu terisi pejabat tinggi sampai biasa, pengusaha,
hingga wartawan. Di lain pihak, penegakan hukum di Cina dengan cara
menghukum mati siapapun yang melanggar hukum tanpa pandang bulu
dinilai sangat mengerikan. Tetapi itulah salah satu jalan yang telah
menyelamatkan Cina dari kehancuran.
Sementara itu Cina juga menganggarkan dana cukup besar untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Selain memajukan
pendidikan di dalam negri, pemerintah mengirim ribuan siswa belajar
ke luar negri dan mengundang para pakar bisnis berbicara di Cina.
Cara tersebut telah memacu ekonomi Cina bertumbuh pesat, mencapai 9%
per tahun.
Sikap korup atau manipulatif sangat merugikan dan menimbulkan
malapetaka bagi pihak lain, menghambat kemajuan dan hanya menciptakan
kehancuran. Dari Cina kita melihat seorang pemimpin jelaslah memiliki
peran yang sangat signifikan untuk menekan tindak korupsi. Tetapi
kita tidak perlu menunggu terlalu lama sampai pemimpin seperti Zhu
Rongji muncul untuk memperbaiki keadaan. Kita sendiri harus
berinisiatif membangun kesadaran dan sikap baru agar tidak ikut
terjun dalam jurang kehancuran.
Langkah yang pertama adalah membangun kesadaran `malu' melanggar
nilai-nilai moralitas ataupun melakukan perilaku buruk lainnya.
Meminjam istilah yang biasa digunakan oleh Aa Gym, seorang ulama
ternama di Indonesia, budayakan kesadaran tersebut dari dalam diri
sendiri, dari hal yang terkecil, dan sejak saat ini. Komitmen yang
tertanam untuk selalu menjunjung nilai-nilai moralitas akan membentuk
sikap disiplin dan memacu kemauan untuk memperbaiki kualitas diri.
Bila sikap `malu' melanggar nilai-nilai moralitas serta melakukan
perilaku buruk lainnya benar-benar membudaya di dalam diri kita
sendiri, maka tak sulit untuk mengajak orang-orang di sekitar kita
untuk bersikap serupa. "The silence often of pure innocence.
Persuades when speaking fails. Diam seringkali pertanda kebaikan
yang murni. Berdampak lebih nyata, ketika kata-kata sudah tidak
berguna," kata seorang seniman Inggris ternama, William Shakespeare.
Kurang lebih ia mengingatkan bahwa sikap adalah kata-kata yang paling
efektif untuk mempengaruhi orang lain.
Contoh bangsa yang memiliki rasa malu tinggi dan sangat maju adalah
Jepang. Bangsa Jepang adalah bangsa yang paling tidak tahan
menanggung malu. Jika melakukan kesalahan, pelanggaran hukum atau
gagal, maka mereka tidak segan menebusnya dengan kematian. Setiap
tahun sedikitnya 175 orang melakukan Harakiri, yaitu bunuh diri untuk
menegakkan nama baik dan harga diri. Bayangkan, alangkah pesat
kemajuan kita dan bangsa ini di bidang tehnologi dan berbagai bidang
lainnya seperti di Jepang, bila setiap individu di Indonesia memiliki
rasa `malu' melanggar nilai-nilai moralitas serta melakukan perilaku
buruk lainnya.
Membudayakan sikap `malu' memerlukan kejujuran, untuk menilai apakah
perbuatan kita sendiri sudah sesuai dengan norma atau moralitas
kemanusiaan ataukah tidak. Dikatakan oleh Einstein, "If a rich man is
proud of his wealth, he should not be praised until it is known how
he employs it Jika seseorang sangat bangga dengan kekayaannya, dia
tidak perlu dipuji sampai diketahui bagaimana cara dia mendapatkan
kekayaan tersebut." Einstein menandaskan bahwa martabat dan kekaguman
pada seseorang tidak dapat diperoleh dari hasil manipulasi atau
perbuatan buruk lainnya.
Bila kita jujur menilai perbuatan kita, lalu merasa malu bila upaya
yang kita lakukan tidak sejalan dengan nilai moralitas, maka hal itu
akan memacu diri kita untuk memperbaiki diri dan bersikap lebih baik
lagi. Yakinilah bahwa setiap perbuatan yang sejalan dengan moralitas
dan kebaikan pasti bermanfaat untuk kemajuan hidup Anda. "Goodness is
the only investment that never fails. Kebaikan adalah satu-satunya
investasi yang tidak pernah gagal," tegas Henry David Thoreau.
Malu bukan selalu pertanda buruk. Malu melakukan perbuatan yang
melanggar moralitas ataupun perbuatan buruk lainnya adalah jalan
untuk memperbaiki diri sekaligus keadaan kita. Saya yakin seandainya
sikap malu hal ini dimiliki oleh seluruh bangsa Indonesia terutama
para pengusaha dan abdi negara, ditunjang dengan hukum dan peradilan
yang tegas seperti legenda penegak hukum ideal yang tergambar dalam
serial film Justice Bao, maka masyarakat pasti lebih sejahtera, tidak
ada kemiskinan ataupun busung lapar maupun hutang luar negri yang
besar.
Sumber: Mengapa Harus Malu? oleh Andrew Ho. Andrew Ho adalah seorang
motivator, pengusaha, dan penulis buku best seller.
[Non-text portions of this message have been removed]
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/