Goresan seorang wanita...!!
Oleh: Unknown

So, this is my laptop. Benda suci saya yang pertama. Tipis dan metalik.
Begitu ringan hingga bisa saya gunakan sebagai kipas untuk menepis panas
hawa Kuta.

Benda suci nomor dua adalah PDA (Personal Digital Assistant) saya.
Transparent cover. Sangat chic dan tidak kalah manis dengan tempat bedak. Ia
adalah pasangan benda suci nomor tiga: sebuah telepon selular. Kecil dan
sering tergantung di leher bersama dengan kalung platinum saya.

Dari gabungan benda suci nomor dua dan tiga itulah saya menerima sebuah
e-mail dari Nina, yang panjangnya hanya satu baris: "Saya hamil lagi"

Saya sudah tidak bisa kaget lagi. Masalahnya, saya sudah dua kali kaget
selama hidup Nina.

Pertama, tiga belas tahun lalu waktu seragam kami masih putih biru. Dari
tempat duduknya di pojok belakang, Nina menjentikkan kertas terpulung dengan
karet gelang hingga mengenai telinga saya. Itu cara Nina menyampaikan pesan
selama jam pelajaran. Pesan di kertas itu hanya dua kata: "Saya hamil"

Tentu saja kabar itu segera merebak.

Murid Teladan SMP St. Rebecca Hamil. NN (14) mengaku kandungannya sudah
berusia sebulan. Anak tunggal dari keluarga yang harmonis ini dikeluarkan
karena dianggap mempermalukan nama sekolah. Gadis yang dikenal sebagai siswi
teladan ini memilih untuk bungkam mengenai bencana yang menimpa hidupnya.

Bencana. Nina tampaknya tidak menganggapnya demikian, walaupun saya dan Iren
sibuk menebak-nebak apa sebenarnya yang terjadi.

"Mungkin Pak Stephanus," Iren merujuk ke Wakil Kepala Sekolah kami yang
memiliki tompel super besar di pipinya. Ia memang terkenal mata buaya hati
musang. Sudah sering tersiar gosip bahwa beberapa siswi sekolah putri itu
harus melalui "ujian khusus" bersamanya sebelum dinyatakan lulus. Tapi, Nina
tidak butuh ujian khusus itu karena nilai ulangannya selalu bagus.

"Atau Ridwan," saya mengusulkan. Ridwan tampan, kaya, dan bertubuh besar.
Tubuhnya memang paling besar karena ia sudah dua tahun mengulang kelas di
sekolah negeri.

"Mungkin juga ayahnya sendiri!" demikian ide cemerlang Iren. Ini gara-gara
kami sering membaca berita di Pos Kota tentang seorang ayah yang memperkosa
anaknya sendiri.
Whatever.

Nina bungkam. Sampai saya bertanya saat kandungannya sudah tujuh bulan.
Bagaimana rasanya?

"Lucu. Kadang ia suka menendang di dalam. Kadang menari. Perut saya
digelitik dari dalam. Bangga sekali karena ada sesuatu yang hidup dan
bertumbuh di dalam hidup saya."

Bukan. Bukan itu. Bagaimana rasanya waktu kamu diperkosa?

Nina meledak tawanya. "Siapa bilang saya diperkosa? Apa kamu pikir saya
begitu bodoh hingga membiarkan diri diperkosa?"

Jadi, kalian suka sama suka?

"Bukan suka sama suka. Mau sama mau."

Rasanya aneh melihat Nina mengaku tanpa rasa malu. Senyumnya malah bahagia.

Nina melanjutkan sekolah ketika anaknya setahun. Dia masuk sekolah negeri
yang bobrok. Dengan gampang, ia jadi juara kelas lagi. Dengan gampang, ia
jadi bunga sekolah. Terkadang saya main ke rumahnya, membantunya merawat
anaknya sambil mengerjakan matematika. Pada teman-teman dari sekolah yang
baru, Nina mengaku anak itu adik sepupunya.

Nina tetap merahasiakan identitas ayah anaknya. Keluarganya pun tidak tahu.
Nina tidak mau orang lain mempermasalahkan apa yang sudah terjadi. "Lebih
baik semua ikut membantu membesarkan anak saya."

Lulus sekolah, Nina tetap pada cita-citanya menjadi seorang arsitek. Ia
kuliah di kampus yang sama dengan saya, setingkat lebih rendah.

Di tingkat dua, pesan dari Nina masuk ke beeper saya. "Saya hamil lagi."
Waktu itu saya masih bisa terkejut. Keluarganya gempar, teman-temannya
bingung. Tapi Nina kembali berkeras untuk melahirkan anaknya. Kuliah tetap
ia jalankan. Saya tetap kembali ke pertanyaan pertama. Bagaimana rasanya?

"Kali ini lain," muram Nina. "Saya diperkosa."

Apakah kamu demikian bodohnya hingga bisa diperkosa?

Nina mengangguk, lalu menangis. "Cinta membuat saya kehilangan logika lantas
jadi bodoh."



Saya tidak pernah tahu bahwa Nina jatuh cinta pada seseorang. Ia
merahasiakan hal itu. Nina menikmati indahnya rasa cinta sendirian. Juga
pahitnya penolakan. Juga sakitnya pemerkosaan. Juga bahagianya melahirkan.

Jadi waktu diwisuda, Nina sudah memiliki dua anak.

Nina dengan cepat diterima bekerja sebagai seorang arsitek. Saya bekerja di
kantor akuntan publik. Saya bergelut dengan angka yang mempertebal kaca mata
saya. Hari demi hari berlalu dalam menganalisa masalah dan berusaha
menemukan pemecahan melalui angka-angka. Kadang hingga malam, kadang hingga
subuh. Nina dan saya semakin jarang bertemu. Kerja saya tidak mengenal
libur. Kalaupun libur, biasanya saya gunakan untuk pelesir sendiri. Ke Bali
atau Pattaya. Nina selalu liburan dengan dua anaknya yang bandel bagaikan
setan.

Sampai e-mail satu baris itu muncul di layar PDA saya. Saya sudah tidak bisa
kaget lagi.

Saya menelepon Nina. Jawab Nina, "Kamu bayar mahal kalau lewat telepon.
Lebih baik chatting."

Di tengah-tengah Warung Made yang penuh dengan peselancar dari Jepang dan
Australia itu, saya menghubungkan benda suci nomor satu dengan internet
lewat bantuan benda suci nomor tiga. Segera saya menemukan Nina di chatroom.

Mau sama mau, atau diperkosa?

"Bukan dua-duanya."

Pakai perasaan atau tidak?

"Lebih dari itu. Saya jatuh cinta. Kami suka sama suka. Kami juga mau sama
mau. Lalu kami menikah bulan lalu."

Kamu menikah tanpa mengundang saya? (ada emoticon wajah orang marah)

"Cuma makan-makan sama keluarga saja. Apa pentingnya pesta kawin buat saya
dan dua anak saya?"

"Kenapa kamu belum punya pacar?"

Kehamilanmu yang pertama membuat saya jadi benci pada lelaki. Yang kedua
membuat saya jadi takut pada lelaki.

"Bagaimana dengan yang ketiga ini?"

Membuat saya bernafsu pada lelaki.

"Tapi bisakah kamu jatuh cinta pada lelaki? Cinta butuh lebih dari sekedar
penerimaan, keberanian dan nafsu. Cinta mengandung keputusan untuk
menanggung segala resiko walaupun kamu tahu bahwa kamu pernah jatuh, gagal
dan disakiti. Seperti saya pada Tio."

Siapa Tio? Yang pertama, kedua atau ketiga?

"Pak Stephanus memanggil saya ke kantornya tiga belas tahun yang lalu. Saya
tahu apa maunya. Saya sendiri ingin merasakan hal itu. Jadi kami
melakukannya di tempat yang aman. Itulah nafsu."

"Saya menjalin hubungan dengan Ridwan sejak kuliah. Tidak berdasarkan nafsu.
Saya sudah tahu nafsu itu apa. Ridwan juga sudah bukan perjaka. Kami mulai
dengan asmara. Lalu otak Ridwan terbakar oleh api itu. Suatu malam ia
memaksa saya. Saya menolak dan memberontak, tapi ia lebih kuat. Akhirnya
terjadi. Saya marah dan menyesal karena saya tetap mencintai Ridwan setelah
itu. Ia sendiri pergi meninggalkan kami. Itulah asmara."

Jadi yang ketiga Tio? Bukan ayah kamu?

"Mungkinkah saya melakukan kesalahan tiga kali? (ada emoticon orang tertawa)
Anak-anak saya yang pertama dan kedua adalah bukti kegagalan. Saya melihat
kesalahan saya di situ. Setengah mati saya membesarkan mereka. Jadi saya
tidak mau mengulanginya lagi."


"Saya sudah kenyang dengan nafsu dan asmara. Sekarang, saya menemukan cinta.
Dalam bentuk tulang dan daging. Nafsu melibatkan kehendak saya. Asmara
melibatkan perasaan. Cinta merupakan keputusan yang intuitif dan logis."

Betapa banyak yang telah kamu pelajari.

"Saya selalu belajar lebih banyak. Itu sebabnya saya jadi juara satu.
Walaupun saya harus mengorbankan selaput dara. Yang penting saya tetap hidup
dan mengenal cinta. Karena biarpun cinta aneh dan hidup berharga, namun bila
saya belum pernah belajar apa itu cinta, hidup saya tanpa makna."

"Kamu benci, lalu takut pada lelaki. Kini kamu baru bisa bernafsu. Nafsu.
Sesuatu yang saya pelajari tiga belas tahun yang lalu. Kapan kamu mau naik
kelas? Bahkan di pantai sekalipun kamu tetap pacaran dengan pernak-pernik
elektronik."

Menurut kamu hidup saya tanpa makna?
"Menurut saya, kamu belum pernah hidup. Keluarlah dari kubik sempitmu di
gedung bertingkat itu. Carilah pribadi-pribadi bertulang dan daging, dan
bukan sekedar barisan kata-kata. Di luar sana hidup jauh dari angka-angka.
Di luar sana, analisamu tumpul. Karena di luar sana ada lelaki dan cinta.
Itulah esensi hidup kita."

Bagaimana jika saya tidak pernah mengenal lelaki, tidak pernah jatuh cinta
dan tidak pernah menikah.

"Dengan tidak mengenal lelaki, kamu tidak mengenal separuh dari dunia.
Dengan tidak pernah jatuh cinta, kamu jadi makhluk yang janggal. Dengan
tidak pernah menikah, kamu tidak membuktikan apa-apa."

"Saya tidak menolak disebut pelacur karena merobek selaput dara di usia
dini. Saya bahagia dan bijaksana sekarang, tanpa peduli betapa kotornya nama
di kalangan keluarga. Saya punya hidup. Saya tidak sekedar duduk dari pagi
hingga malam setiap hari, minggu dan bulan, hanya untuk menghasilkan uang
yang mengongkosi liburan seorang diri."

Haruskah saya hidup jika kenyataan demikian mengerikan? Haruskan saya
meninggalkan kenyamanan jika di luar sana penuh dengan ketidakpastian dan
penderitaan?

"Seharusnya kamu bertanya kepada ibumu mengapa kamu harus dilahirkan."

Terkadang pertanyaan itu memang timbul (ada emoticon wajah sedih). Tapi saya
sudah telanjur hidup selama dua puluh enam tahun.

"Log-off. Pergilah ke bar. Bukalah baju kamu di sana sampai telanjang.
Nikmati cemooh orang serta nafsu lelaki yang tertuju padamu. Lalu juallah
dirimu mahal-mahal seharga hidup lelaki yang ingin membelimu. Demikianlah
hidup seorang perempuan. Sebagai yang pasif namun membunuh yang aktif."

Usai chatting kami, saya membereskan benda-benda suci itu, dan segera
berjalan ke pantai. Siapakah yang gila: Nina atau saya? Siapakah yang bodoh?
Siapakah yang mati?

Saya berjalan sendiri sepanjang Legian yang ramai. Lambat-lambat saya
berharap bisa memungut seorang Pak Stephanus di jalanan. Saya akan
melampiaskan nafsu pada pecundang itu. Setelah itu saya akan ke kafe dan
berusaha menemukan seorang Ridwan. Lalu kami dibakar asmara di atas ranjang.
Setelah itu, mungkinkah saya bisa jatuh cinta pada seorang lelaki?

Bisakah saya belajar seperti Nina? Belasan tahun membuat Nina paham artinya
cinta. Saya tidak punya waktu sebanyak itu. Sebelum saya tidak mampu hamil,
saya harus ambil kursus kilat di bar seperti yang dianjurkan Nina.


[Non-text portions of this message have been removed]



Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.





SPONSORED LINKS
Writing a book report Writing and publishing a book Creative writing book
Writing book Business writing book Book writing software


YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke