Untuk para ayah di seluruh permukaan bumi ini......
Semoga bermanfaat....
***************************************************************
----- Original Message --
Sent: Friday, May 12, 2006 9:04 AM
Subject: [FeDeSa] Neno Warisman : Izinkan Aku.....
*************************************************************************
Izinkan Aku.....
 
Oleh Neno Warisman .
  
   Izinkan aku bertutur ..........
 
Ketika lahir, anak lelakiku gelap benar kulitnya, Lalu kubilang pada
ayahnya: "Subhanallah, dia benar-benar mirip denganmu ya!"   Suamiku
menjawab: "Bukankah sesuai keinginanmu? Kau yang bilang kalau anak
lelaki ingin seperti aku."  Aku mengangguk. Suamiku kembali bekerja
seperti biasa.

Ketika bayi kecilku berulang tahun pertama, aku mengusulkan perayaannya
dengan mengkhatam kan Al Quran di rumah Lalu kubilang pada suamiku:
"Supaya ia menjadi penghafal Kitabullah ya,Yah."  Suamiku menatap
padaku seraya pelan berkata: "Oh ya. Ide bagus itu."

Bayi kami itu, kami beri nama Ahmad, mengikuti panggilan Rasulnya.
Tidak   berapa lama, ia sudah pandai memanggil-manggil kami berdua: Ammaa.
Apppaa.
Lalu ia menunjuk pada dirinya seraya berkata: Ammat! Maksudnya ia Ahmad.
Kami berdua sangat bahagia dengan kehadirannya.

Ahmad tumbuh jadi anak cerdas, persis seperti papanya. Pelajaran
matematika sederhana sangat mudah dikuasainya. Ah, papanya memang jago
matematika. Ia kebanggaan keluarganya. Sekarang pun sedang S3 di bidang
Matematika.
 
Ketika Ahmad ulang tahun kelima, kami mengundang keluarga. Berdandan
rapi  kami semua. Tibalah saat Ahmad menjadi bosan dan agak mengesalkan.
Tiba-tiba ia minta naik ke punggung papanya. Entah apa yang menyebabkan
papanya begitu berang, mungkin menganggap Ahmad sudah sekolah, sudah
terlalu besar untuk main kuda-kudaan, atau lantaran banyak tamu dan ia
kelelahan.

Badan Ahmad terhempas ditolak papanya, wajahnya merah, tangisnya pecah,
Muhammad terluka hatinya di hari ulang tahunnya kelima. Sejak hari itu,
Ahamad jadi pendiam. Murung ke sekolah, menyendiri di rumah. Ia tak
lagi  suka bertanya, dan ia menjadi amat mudah marah.

Aku coba mendekati suamiku, dan menyampaikan alasanku. Ia sedang
menyelesaikan papernya dan tak mau diganggu oleh urusan seremeh itu,
katanya.

Tahun demi tahun berlalu. Tak terasa Ahmad telah selesai S1. Pemuda
gagah, pandai dan pendiam telah membawakan aku seorang mantu dan seorang
cucu.
Ketika lahir, cucuku itu, istrinya berseru sambil tertawa-tawa lucu:
"Subhanallah! Kulitnya gelap, Mas, persis seperti kulitmu!"

Ahmad menoleh dengan kaku, tampak ia tersinggung dan merasa malu.
"Salahmu. Kamu yang ingin sendiri, kan. Kalau lelaki ingin seperti aku!"

Di tanganku, terajut ruang dan waktu. Terasa ada yang pedih di hatiku.
Ada yang mencemaskan aku. Cucuku pulang ke rumah, bulan berlalu.
Kami, nenek dan kakeknya, datang bertamu. Ahmad kecil sedang digendong
ayahnya. Menangis ia. Tiba-tiba Ahmad anakku menyergah sambil berteriak
menghentak, "Ah, gimana sih, kok nggak dikasih pampers anak ini!"
Dengan kasar disorongkannya bayi mungil itu.

Suamiku membaca korannya, tak tergerak oleh suasana. Ahmad, papa bayi ini,
segera membersihkan dirinya di kamar mandi.
Aku, wanita tua, ruang dan waktu kurajut dalam pedih duka seorang istri
dan seorang ibu. Aku tak sanggup lagi menahan gelora di dada ini.
Pecahlah  tangisku serasa sudah berabad aku menyimpannya.
Aku rebut koran di tangan suamiku dan kukatakan padanya: "Dulu kau
hempaskan Ahmad di lantai itu! Ulang tahun ke lima, kau ingat? Kau
tolak  ia merangkak di punggungmu! Dan ketika aku minta kau perbaiki, kau
bilang  kau sibuk sekali. Kau dengar? Kau dengar anakmu tadi? Dia tidak
suka dipipisi. Dia asing dengan anaknya sendiri!"

Allahumma Shali ala Muhammad. Allahumma Shalli alaihi wassalaam.
Aku ingin anakku menirumu, wahai Nabi. Engkau membopong cucu-cucumu di
punggungmu, engkau bermain berkejaran dengan mereka Engkau bahkan
menengok seorang anak yang burung peliharaannya mati. Dan engkau pula yang
berkata ketika seorang ibu merenggut bayinya dari gendonganmu, "Bekas
najis ini bisa kuseka, tetapi apakah kau bisa menggantikan saraf halus
yang putus di kepalanya?"
 
Aku memandang suamiku yang terpaku. Aku memandang anakku yang tegak diam
bagai karang tajam. Kupandangi keduanya, berlinangan air mata.
Aku tak boleh berputus asa dari Rahmat-Mu, ya Allah, bukankah begitu?
Lalu kuambil tangan suamiku, meski  kaku, kubimbing ia mendekat kepada
Ahmad. Kubawa tangannya menyisir kepala anaknya, yang berpuluh tahun
tak merasakan sentuhan tangan seorang ayah yang didamba.

Dada Ahmad berguncang menerima belaian. Kukatakan di hadapan mereka
berdua, "Lakukanlah ini, permintaan seorang yang akan dijemput ajal
yang  tak mampu mewariskan apa-apa: kecuali Cinta. Lakukanlah, demi setiap
anak lelaki yang akan lahir dan menurunkan keturunan demi keturunan.
Lakukanlah, untuk sebuah perubahan besar di rumah tangga kita! Juga di
permukaan dunia. Tak akan pernah ada perdamaian selama anak laki-laki
tak diajarkan rasa kasih dan sayang, ucapan kemesraan, sentuhan dan
belaian, bukan hanya pelajaran untuk menjadi jantan seperti yang kalian
pahami.
Kegagahan tanpa perasaan.

Dua laki-laki dewasa mengambang air di mata mereka. Dua laki-laki
dewasa   dan seorang wanita tua terpaku di tempatnya. Memang tak mudah
untuk berubah. Tapi harus dimulai. Aku serahkan bayi Ahmad ke pelukan
suamiku.Aku bilang: "Tak ada kata terlambat untuk mulai, Sayang."
 
Dua laki-laki dewasa itu kini belajar kembali. Menggendong bersama,
bergantian menggantikan popoknya, pura-pura merancang hari depan si
bayi  sambil tertawa-tawa berdua, membuka kisah-kisah lama mereka yang
penuh kabut rahasia, dan menemukan betapa sesungguhnya di antara keduanya
Allah   menitipkan perasaan saling membutuhkan yang tak pernah
Terungkapkan dengan  kata, atau sentuhan.

Kini tawa mereka memenuhi rongga dadaku yang sesak oleh bahagia, syukur
pada-Mu Ya Allah! Engkaulah penolong satu-satunya ketika semua jalan
tampak buntu. Engkaulah cahaya di ujung keputusasaanku.

Tiga laki-laki dalam hidupku aku titipkan mereka di tangan-Mu. Kelak,
jika  aku boleh bertemu dengannya, Nabiku, aku ingin sekali berkata:  Ya,
Nabi.  aku telah mencoba sepenuh daya tenaga untuk mengajak mereka semua
menirumu!
*****************************************************************************************************
Amin, alhamdulillah
  **************************************************************
>
>
>
>
> IF YOU DON'T UNDERSTAND WHAT I WAS SAYING, DON'T WORRY. NEITHER DO I.
>
>
>
>
>
> Yahoo! Groups Links
>
>
>
>
>




  SPONSORED LINKS
        Indra
   
---------------------------------
  YAHOO! GROUPS LINKS
     
   
    Your use of Yahoo! Groups is subject to the Yahoo! Terms of Service.

   
---------------------------------
 


   
---------------------------------
  Yahoo! Messenger with Voice. PC-to-Phone calls for ridiculously low rates.

           
---------------------------------
Love cheap thrills? Enjoy PC-to-Phone  calls to 30+ countries for just 2ยข/min with Yahoo! Messenger with Voice.

[Non-text portions of this message have been removed]



Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.





YAHOO! GROUPS LINKS




Kirim email ke