Umar dan Abu Bakar
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri
Ketika Khalifah Abu Bakar Shiddiq dalam keadaan sakit menjelang
kewafatannya, sempat memanggil 'tangan kanan'nya Umar Ibn Khatthab
menghadap.
Setelah menguji konsistensi dan ketegasan sahabatnya itu, sang Khalifah
berterus terang mengemukakan keinginannya agar Umar bersedia menggantikannya
sebagai khalifah sepeninggalnya. "Jangan , Abu Bakar!" tukas Umar sepontan,
"Aku tidak memerlukan jabatan khalifah itu."
"Tetapi kekhalifahan memerlukanmu, Umar;" sahut Khalifah, "Aku khawatir maut
menjemputku dan meninggalkan rakyat tanpa khalifah lalu terjadi seperti apa
yang terjadi di Saqiefah dulu."
"Tunjuklah penggantimu selain aku!"
"Siapa?"
"Abu 'Ubaidah, misalnya. Dia Amienul Ummah, Kepercayaan Umat."
" Memang itu sudah aku pikirkan juga, Umar, namun aku tidak melihat pada
diri 'Ubaidah Ibn Jarrah kekuatan seperti yang ada pada dirimu. Dia memang
dapat dipercaya; tapi aku ingin orang kuat yang dapat dipercaya. Al-qawiyyul
amien!" Kaum muslimin saat ini menghadapi dua singa, Parsi dan Rum. Mereka
dihadapkan kepada hanya dua pilihan: Ataukah mereka akan menyinari dunia
dengan cahaya Islam, atau dunia akan memadamkan cahaya Islam."
"Allah akan menyempurnakan cahaya Islam, betapa pun orang-orang kafir tidak
senang."
"Allah menyempurnakan cahaya Islam melalui hamba-hambaNya yang patut, yang
berjuang, yang ikhlas!"
"Bagaimana kau memilihku, wahai Khalifah, sedang aku sering berbeda pendapat
denganmu?"
"Justru itu yang memperkuat pilihanku. Aku ingin seorang yang bila
mengatakan tidak, ia mengatakannya dengan sepenuh hati; bila mengatakan ya,
ia mengatakannya sepenuh hati."
Mereka terus berdebat saling bertukar argumentasi. Yang satu bersikeras
meminta, yang lain bersikeras menolak. Didesak terus, akhirnya Umar yang
perkasa itu pun menangis. "Abu Bakar, aku mengkhawatirkan diriku, agamaku,
dan akheratku
"
"Wahai Umar, dalam urusan kekuasaan ini ada dua orang yang celaka: pertama,
orang yang berambisi menjadi penguasa padahal dia tahu bahwa ada orang lain
yang lebih pantas dan lebih mampu daripada dirinya. Kedua, orang yang
menolak ketika diminta dan dipilih padahal dia tahu dirinyalah yang paling
pantas dan paling mampu; dia menolak semata-mata karena lari dari
tanggungjawab dan enggan berkhidmah kepada umat."
"Wahai Abu Bakar, demi persahabatan dan kecintaanku kepadamu, jauhkanlah aku
dari beratnya hisab di hari Kiamat kelak!"
"Kau lupa, Umar; imam yang adil kelak akan dipayungi Allah di hari tiada
payung kecuali payungNya."
Umar semakin keras menangis, "Imam yang adil ya; tapi aku?"
"Kau juga. Kau juga, Umar!"
"Besok di hari Kiamat, kau tidak bisa menolongku apa-apa, Abu Bakar, bila
Allah menghendaki menghukumku."
"Wahai Umar anak Ibu Umar; bukan demikian Allah ditakwai dengan sebenarnya.
Bukankah kau tahu ayat yang longgar turun selalu dibarengi dengan ayat yang
keras dan sebaliknya, agar orang mukmin selalu dalam harap dan cemas. Tidak
mengharap dari Allah sesuatu yang ia tidak berhak atasnya dan tidak cemas
atas sesuatu yang diletakan Allah di tangannya. Bila setiap orang yang
mempunyai tanggungjawab tidak melaksanakannya karena takut kepada Allah,
niscaya takut kepada Allah akan berubah menjadi buruk sangka kepadaNya. Dan
akan rusaklah tatanan dan tersia-siakanlah hak-hak mustadl'afin."
"Apakah tidak ada orang lain selain aku yang lebih pantas dan mampu?"
"Baiklah, mari kita nilai dirimu. Maukah kau dengan sejujur-jujurnya menilai
dirimu sendiri?"
"Baik."
"Katakan, demi Allah yang mengetahui apa yang ada dalam hatimu, apakah kau
melihat orang yang lebih pantas memegang jabatan ini melebihimu?"
"Aku tidak meragukan bahwa ada orang yang lebih baik katimbang aku."
"Jawab pertanyaanku, wahai Umar, apakah kau melihat di antara kaum muslimin
setelah aku, ada orang yang lebih kuat katimbang dirimu dalam mempertahankan
kedaulatan mereka?"
Umar menahan deras air matanya dan menjawab lirih, "Allahumma Laa. Memang
tidak."
"Alhamdulillah!"
"Tapi kau harus bermusyawarah terlebih dahulu dengan orang-orang, wahai Abu
Bakar."
"Aku akan melakukannya, Umar. Hambatan yang terberat sudah kulalui, insya
Allah yang lain akan lebih mudah."
***
Kisah di atas saya nukil-sarikan dari Malhamah Umar-nya Ali Ahmad Baktsier.
Siapa tahu dalam suasana demam capres-wapres dimana banyak orang ngiler
mencalonkan diri menjadi penguasa, orang dapat mengambil pelajaran dari
tokoh-tokoh salaf kita itu. (*)
[Non-text portions of this message have been removed]
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/