Indonesia kita tercinta....
Yang terbanyak mengaku menyembah Allah SWT...
Hiks..hiks....
Sent: Thursday, July 27, 2006 2:38 PM
Subject: FW: Indonesia dalam sekilas cerita.....!!!
Sekilas dari blog tetangga
.
Best Regards,
Bagian I: SURAT-SURAT ANDA
Sumuk....
(Belanda)
Geachte Zev,
Langsung aja... Saya juga ingin berbagi pengalaman, tepatnya keluh kesah (yg
aneh). Saya sudah tinggal di Belanda, di kota kecil/kota pelajar Leiden yang
tenang, sejak 1998. Istri dan anak menyusul tahun 2001.
Kami tinggal di rumah kecil saja. Kemana-mana pakai sepeda. Saya kerja di
universitas, tapi gaji tidak begitu besar juga. Istri juga kerja di sebuah
restoran, gajinya juga tak besar. Tapi cukuplah buat kami untuk hidup bulan ke
bulan. Dan menabung sedikit buat hari tua. Juga ada pensiun sedikit. Kami
senang2 saja, sebab ada jaminan kesehatan (disubsidi lagi oleh pemerintah
Belanda); anak juga hampir dibilang gratis masuk sekolah. Kami enjoy2 saja: toh
bukan kami sendiri yg hidup
dengan cukup-cukupan begitu. Saya sering lihat orang2 bule, terutama mahasiswa,
dengan sisa 20 atau 50 euro di rekeningnya. Malah sering juga minus. Tak ada
masalah. Anak2 SMA atau mahasiswa biasa kerja part time di restoran, ngantar
koran, dan macam2 lagi. Anak professor saya mengantar koran. Mereka sudah biasa
hidup mandiri. Tak ada yg mengetawain: "Eh...ayah professor kok ngantar koran?
Malu dong". Tak ada yg memandang hina mereka yg naik sepeda atau nganggur
kurang uang.
Ya, enjoynya di situ: senang saja lihat gadis cantik pake sepeda omprengan
kriuk-kriuk; lihat rektor saya (Rektor Univ. Leiden) jinjing tas sendiri jalan
kaki atau pake sepeda ke kantor; lihat orang-orang berperahu hilir mudik di
musim panas; lihat orang2 mabok di taman dengan minta uang sesen-dua dengan
sopan: "Mag ik heb een euro Meneer. Ik ben honger"! kalau tidak dikasih, tetap
bilang "Als u blijf meneer!";lihat cewek2 putih bule...pacaran sama orang2
hitam kayak pantat kuali. Ya...senangnya di situ: kalau ketemu orang hampir
selalu bilang "goede morgen", "Goede Middag"; kalau masuk ke gedung, orang di
depan kita menahan pintu untuk kita, dan selalu terdengar ucapan ""mersi" atau
"bedank" kepada kita; kalau berdiri di pinggi jalan dg zebra cross, otomatis
mobil2 berhenti sambil sopirnya memberi tanda silakan lewat dari belakang
kemudi; kalau ngurus surat di kantor Balaikota tunggu 10-15 menit, dan
pegawainya tak sok kuasa.
Ya...enjoynya di situ aja: bukan karena uang banyak;kalau hari agak panas
pergi saja ke taman sambil bentanng tikar atau kain, minum, kasih makan remah2
roti kepada burung2 yg mendekat. Ya..enjoynya di situ: anak saya bergurau
dengan polisi, minta dicobain pakai borgol. Anak kecil 5 tahun itu berani saja
nanya orang besar atau orang tua di kereta: " Hoe oud bent u Meneer? Orang tua
jawab kayak dengan temannya saja.
Pokoknya enjoynya sulit juga dijelaskan.
Nah masalah timbul kalau kami pulang ke Indonesia, ke Sumatra sana. Kami
selalu pulang paling tidak sekali setahun. Kami selalu rindu pulang. Dari
Belandanya serasa ingin mati mau pulang; sebulan sebelum berangkat kpernya udah
penuh. Sampai di kampung yang ditanya orang2: kapan beli mobil baru? Atau mau
pinjem uang buat modal usaha. Wah...hebat! Banyak duitnya. Istri saya biasanya
pulang dengan gaya biasa saja (seperti biasa di Belanda). Teman-temanya tanya:
udah jauh merantau gitu kok nggak mampu beli emas? Nggak ada yg kuning di
badanmu?
Kami bingung. Kayaknya yang ada dalam pikiran orang2 kampung kami uang saja.
Apa ya yg terjadi dengan masyarakat kita kini? Orang memandang hormat orang
lain dengan melihat materi saja. Uang.. .uang... uang.. itu saja ukuran sukses.
Juga di mana-mana: di jalan, di pelabuhan, di kantor-kantor. Kami merasakan
sesuatu yang aneh: suatu aroma kekerasan, kasar,tidak jujur, tipu muslihat,
kekuasaan yang kuat menindas yang lemah. Semua orang seperti memburu sesuatu
dan diburu sesuatu, tak sabar,...pokoknya sulit mencari titik-titik ketulusan,
kesederhanaan, tampil apa adanya.
Anak saya lebih bingung lagi: ia pergi ke sekolah sepupunya, lihat gurunya
marah2. Ia bilang: Ik wil niet gaat naar school hier". Ia merasakan pengalaman
yg lain sama sekali dengan di sekolahnya di Leiden. Sekali ia berteriak marah
lihat orang membunuh burung dengan senaoang angin, membiarkan bangkai burung
itu tergeletak. Itu dilakukan demi kepuasan saja. Lalu kami merasa dikepung
oleh sesuatu yang nggak tampak tapi mengerikan. Cepat2 kami ingin menghindar
darinya.
Biasanya setelah tiga-empat minggu di Indonesia kami kembali ke Belanda.
Sampai di Belanda ada rasa lega: kami melihat lagi gadis2 cantik dg sepeda
kriuk-kriuk, melihat lagi penghormatan orang2 kaya kepada pejalan kaki atau
pengendara sepeda seperti kami. Tapi setiap tahun kami ingin pulang lagi
melihat kampung halaman di Sumatra sana. Tapi yg kami temukan hal yg sama lagi,
malah terasa makin parah.
Suatu saat kami ingin pulang. Tapi saya kuatir dengan anak saya. Kami sendiri
mungkin dapat berdamai. Mungkin ini sudah nasib kami atau orang2 Indonesia lain
yg punya jalan hidup seperti kami.
*************
---------------------------------
Groups are talking. We´re listening. Check out the handy changes to
Yahoo! Groups.
[Non-text portions of this message have been removed]
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/