NU dan Toleransi Kebangsaan
*Oleh: **Zuhairi Misrawi* <http://islamemansipatoris.com/penulis.php?id=2>
Intelektual Muda NU, Alumnus Universitas al-Azhar Kairo- Mesir; Koordinator
Jaringan Islam Emansipatoris; dan Pimred Jurnal PERSPEKTIF PROGRESIF.
Hari-hari ini digelar Konferensi Besar dan Musyawarah Nasional Alim Ulama
PBNU di Surabaya. Ini adalah perhelatan kedua setelah muktamar dan
membincangkan masalah internal NU, keagamaan, dan kebangsaan.
Dalam usia ke-80, NU memasuki babak baru yang paling komplikatif. Mengingat
masalah yang dihadapi bangsa ini amat kompleks, maka sebagian besar juga
dialami dan dirasakan warga nahdiyin. Betapa tidak. Warga paling miskin di
republik ini hampir bisa dipastikan adalah warga NU. Mereka tersebar di
pegunungan, pedesaan, dan pesisir.
Masyarakat di sekitar Gunung Merapi umumnya warga NU. Bahkan, juru kunci
Gunung Merapi, Mbah Marijan, ternyata Ra'is Syuriah NU ranting Gunung
Merapi. Korban gempa bumi di sekitar Bantul adalah warga NU. Ada puluhan
pesantren menjadi korban bencana. Para petani yang gagal panen di sejumlah
daerah sebagian besar warga NU. Begitu pula TKI dan TKW yang berjuang hidup
di luar negeri, secara kultural berlatar belakang NU.
Sejumlah masalah itu merupakan hal-hal yang seharusnya mendapat perhatian
serius PBNU. Bila tidak, yang akan mengalami kerugian besar tidak lain
adalah bangsa ini. Diperlukan agenda-agenda populis untuk memberdayakan
warga NU.
*Pancasila*
Konferensi Besar dan Munas NU kali ini akan membahas Pancasila dan NKRI.
Bisa dipastikan, NU akan konsisten dengan upaya membela dan mempertahankan
Pancasila sebagai ideologi berbangsa dan bernegara, serta NKRI sebagai
pilihan final.
Namun, ada sesuatu yang seharusnya lebih diperluas pemaknaannya, terutama
dalam tafsir terhadap Pancasila dan NKRI. Selama ini tafsir tentang
Pancasila dan NKRI hanya bersifat retorik dan sloganistik. Dalam beberapa
kesempatan, kita mendengar orasi, Pancasila dan NKRI sudah final. Tetapi
elaborasi atas kefinalan Pancasila dan NKRI umumnya masih bersifat prematur,
bahkan kontradiktif. Di satu sisi ingin mempertahankan Pancasila dan NKRI,
di sisi lain sering melahirkan sejumlah kebijakan yang tidak sejalan dengan
nilai-nilai Pancasila.
Maka dari itu, yang dibutuhkan kini adalah langkah praksis dari penghayatan
yang konsisten dan konsekuen terhadap Pancasila dan NKRI. Setidaknya
nilai-nilai Pancasila dapat mendorong seluruh warga negara untuk mewujudkan
kehidupan yang mengedepankan kedamaian, bukan kekerasan. Kehidupan yang
dibangun di atas prinsip keadilan, bukan pemerasan.
*Keadilan *
Tanggal 22-23 Juli, PWNU Kepulauan Riau bekerja sama dengan Perhimpunan
Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) melakukan kajian tematis tentang
Toleransi NU untuk Kebhinnekaan Bangsa. Kegiatan itu menghadirkan KH
Muhammad Tolchah Hasan (Wakil Rais 'Am PBNU), KH Masdar F Mas'udi (Ketua
PBNU), KH Afifuddin Muhajir (pengasuh Ma'had 'Aly, Situbondo) dan KH Dian
Nafi' (pengasuh Pesantren al-Muayyad, Solo).
Kegiatan ini menjadi salah satu upaya untuk menguatkan nilai-nilai Pancasila
yang diinspirasikan dari tradisi dan khazanah ke-NU-an. Acara itu mengusung
dua hal penting, yang merupakan saripati nilai-nilai Pancasila, yaitu
keadilan dan toleransi. Kedua hal ini mutlak diperlukan untuk membangun
kehidupan yang berkeadilan dan berkeadaban.
Dalam keadilan, disyaratkan adanya sikap adil terhadap hak orang lain. Tiap
orang mempunyai hak untuk diperlakukan adil dan setara. Misalnya dalam
konteks bernegara, pemerintah akan dianggap berlaku adil bila menunaikan
hak-hak warga negaranya sebagaimana dicantumkan dalam UUD 1945. Pemerintah
wajib menyejahterakan rakyat, mencerdaskan bangsa, dan menciptakan situasi
aman tenteram. Bila kacamata ini digunakan, harus diakui, pemerintah belum
melakukan hal yang amat berarti bagi keadilan sosial. Lihat saja
pengangguran bertambah, busung lapar, panen gagal, bencana alam, konflik
sosial, dan lainnya merupakan fakta sosial.
Karena itu, NU seharusnya mendorong agar pemerintah menegakkan keadilan
sebagai nilai penting Pancasila, baik di pusat maupun daerah. Diperlukan
aneka kebijakan politik yang lebih populis, bukan simbolistik dan bukan
ideologis. Apalagi sebagian besar warga paling melarat adalah nahdiyin.
*Toleransi *
Dalam forum kajian itu, para ulama sepakat agar toleransi menjadi salah satu
alternatif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Karena toleransi bukan
sekadar hak, tetapi kewajiban. Tuhan pun dalam kitab suci-Nya disebut
Mahapengasih, Mahapenyayang, Mahapengampun, dan Mahapemaaf. Karena itu, Sila
Ketuhanan yang Maha Esa harus dipahami dalam konteks mengimplementasikan
nilai-nilai ketuhanan itu secara konsekuen dan konsisten, utamanya dalam hal
toleransi.
Salah satu hal yang menjadi keprihatinan bersama dalam konteks kebangsaan
muncul gejala yang kian memupuk intoleransi, terutama antara satu kelompok
kepada kelompok lain. Realitasnya, tidak sedikit warga NU yang mulai diusik
pihak-pihak lain perihal tradisi dan praktik keagamaan, seperti tahlilan,
yasinan, dibaan, barzanji, istigasah, dan lain-lain. Di Bandung, Jawa Barat,
pesantren yang secara kultural berbasis nahdiyin diserang warga setempat
karena mengusung tema kebangsaan.
Kenyataan itu menunjukkan, wawasan tentang pentingnya toleransi masih minim
di tengah masyarakat. Karena itu, diperlukan kebesaran jiwa dan kerendahan
hati dari seluruh pihak bahwa bangsa ini akan besar bila toleransi
diterjemahkan dalam hidup berbangsa dan bernegara.
Dua hal inilah (keadilan dan toleransi) yang semestinya menjadi garapan
utama PBNU dalam munas di Surabaya, yaitu mendorong pemerintah agar
menunjukkan komitmennya terhadap keadilan dan kepada masyarakat agar
menerapkan toleransi secara konsisten demi keutuhan bangsa dan negara. []
www.kompas.com
[Non-text portions of this message have been removed]
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/