Kesibukan, Sikap dan Perilaku Kita
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri

Barangkali kita, khususnya yang tinggal di kota, memang terlalu sibuk.
Urusan kita untuk kepentingan kita sendiri begitu banyak, sehingga jatah
waktu yang 24 jam rasanya tidak cukup.

Coba hitung sendiri; berapa jam untuk bekerja mencari nafkah? Berapa untuk
olah raga termasuk senam pagi agar kondisi tubuh fit? Berapa untuk rekreasi
termasuk "rekreasi dinamis" untuk menyegarkan kembali fikiran yang stress?
Berapa untuk kerja-kerja sosial seperti arisan dan sebagainya? Berapa untuk
kegiatan-kegiatan organisasi ini itu? Berapa untuk istirahat dan tidur? Lalu
membaca Koran/majalah, nonton tv dan sebagainya dan seterusnya? Belum lagi
jika dihitung 'kegiatan' menunggu dalam kemacetan lalu lintas.

Jadi umumnya kita memang tak cukup punya waktu untuk *njlimeti *persolan
yang tidak atau tidak segera tampak ada kaitannya langsung dengan
kepentingan diri kita sendiri ? Kiranya untuk persoalan-persoalan yang
seperti itu, 'partisipasi' kita cukuplah dengan meramaikan sambil lalu
bersama mass media. Misalnya dengan sedikit menyumbang pernyataan atau
pendapat, sedikit usulan atau kalau perlu protes dan demontrasi. Nanti
persoalan-persoalan itu pun akan selesai dengan sendirinya.

Mereka yang mempunyai gairah, semangat dan kepedulian, yang besar terhadap
agama pun, apabila terdorong *ghirah *mereka untuk menanggapi suata
persoalan sering kali tidak sempat sekedar menengok tuntunan agama mereka
sendiri itu mengenai bagaimana seharusnya menanggapi persoalan semacam itu
yang menyangkut agama, kalaupun ada konsultasi sebelumnya paling *banter yah
* kepada akal pikiran dan emosi atau itikad kelompok sendiri jarang yang
sampai kepada Allah, untuk dan demi siapa mereka hidup dan beragama.

Ambilah contoh persoalan-persoalan yang menyangkut ukhuwah islamiah dan
muamalah *bainan-naas* kalaupun merujuk misalnya kepada firman Allah atau
Rosul Nya, biasanya terlebih dahulu kita kenakan "kaca mata hitam putih"
kita sendiri. Kita benci dulu kepada saudara kita, misalnya lalu kita
mencari-cari dalil-dalil yang bisa mengkaitkannya dengan hal yang tidak
disukai Allah; denagn demikian akan mudah kita mengambil keputusan saudara
kita itu dibenci Allah; karena kita perlu ganyang. Kita curiga dulu terhadap
suatu kelompok, setelah itu mudah kita cari *hujjah* atau argumentasi
membabat setiap gagasan, atau bahkan sekedar pendapat, dari kelompok
tersebut.

Ini jauh lebih mudah. Tidak banyak menyita waktu dan energi, ketibang harus
*cape-cape* mengatur diri agar obyektif, mengkaji masalah secara jernih; dan
dengan lurus merujuk firman Allah dan atau sabda Rosul-Nya.

Waba'du; Allah menyuruh kita kaum Mukminin untuk menjuhi prasangka-prasangka
mencari-cari kesalahan orang lain dan menggunjing sesame (Q.s.49:12). Tapi
mana kita punya waktu untuk lebih dari sekedar perprasangka dan mencari-cari
kesalahan orang lain, kalau kita terlalu sibuk denagn diri kita dan kelompok
sendiri?

Biasanya dengan dalih menegakkan kebenaran atau menjaga kesucian agama,
prasangka dan larangan-larangan yang sudah digariskan Tuhan pun lalu diangap
halal atau dilupakan. Padahal menegakkan kebenaran bagi kaum beriman pun ada
cara dan rambu-rambunya. (Baca misalnya, Q.s.4:135 Q.s 5:8) Atau kita juga
punya cukup waktu atau *na'udzu billah*, kita terlalu angkuh dan merasa
tidak perlu untuk mendengarkan firman Allah tentang sikap dan prilaku yang
harus kita ambil dan jalani? Semoga Allah mengampuni kita.


[Non-text portions of this message have been removed]



Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke