Penguasa
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri
ANDAI seorang raja hidup di sebuah planet sendirian saja, kira-kira apa yang
terjadi? Apakah masih berkuasa? Dikisahkan seorang pangeran kecil dalam
lawatannya mengunjungi asteroid-asteroid (planet-planet kecil), sampai ke
suatu planet kecil yang dihuni hanya oleh seorang raja.
"Ah! Ini dia ada rakyat datang, " seru si raja ketika dia melihat si
pangeran kecil. Dan pangeran kecil bertanya dalam hati, "Bagaimana dia bisa
mengenaliku, padahal dia belum pernah melihatku?" Pangeran kecil tidak tahu
bahwa bagi para raja, dunia ini sangat sederhana. Semua orang selain dirinya
adalah rakyat.
Ketika pangeran kecil menguap karena lelah, si raja berkata, "Menguap di
depan raja adalah pelanggaran etiket. Kularang kau menguap."
"Saya tak bisa menahan diri, " jawab pangeran kecil agak malu, "Saya baru
melakukan perjalanan panjang, dan belum tidur."
"Kalau demikian, " kata raja, "aku memerintahkanmu untuk menguap. Sudah
bertahun-tahun aku tidak melihat orang menguap. Menguap, bagiku, adalah hal
yang menimbulkan keingintahuan. Ayo! Menguaplah lagi! Ini perintah."
"Sekarang saya merasa tertekan
saya tak bisa menguap lagi
" gumam pangeran
kecil, wajahnya menjadi merah padam.
"Hm! Hm! Timpal sang raja. "Kalau begitu aku .. memerintahkanmu untuk
sesekali menguap dan sesekali
" Dia menggumamkan sesuatu, dan tampaknya
kesal.
Karena pada dasarnya , yang dituntut raja adalah kekuasaannya dihormati. Dia
tidak bisa menolerir ketidak-patuhan.
Tetapi raja ini orangnya baik, perintah-perintahnya masuk akal atau
diupayakan masuk akal. Dia sering berkata, "Seandainya aku memerintahkan
seorang jenderal untuk berubah menjadi burung laut, dan seandainya jenderal
ini tidak mematuhiku, itu bukan salah si jenderal. Itu salahku." Dalam
dialognya dengan sang pangeran kecil, raja juga mengatakan, "Kekuasaan, yang
utama, bersandar pada sesuatu yang masuk akal. Jika kau memerintahkan
rakyatmu pergi melempar diri ke laut, akan terjadi revolusi. Aku menuntut
kepatuhan karena perintah-perintahku masuk akal."
Itulah sedikit petikan dari buku dongeng 'anak-anak' karangan Antoine de
Saint-Exupéry , Le Petit Prince (Sang Pangeran Kecil). Ditulis dengan kaca
mata anak-anak yang polos, yang sering bingung melihat tingkah laku
orang-orang dewasa yang rumit.
Salah satu 'kerumitan' orang dewasa digambarkan dalam cuplikan kisah raja di
atas. Bagaimana seorang raja seperti umumnya mereka yang merasa mempunyai
kekuasaan ingin berkuasa dan ingin dipatuhi perintah-perintahnya meski tak
punya rakyat sekali pun. Tapi raja dalam dongeng Antoine, adalah penguasa
yang baik yang masih mempunyai penalaran jernih. Sang raja yang betapa pun
absolut kekuasaannya, yang suka memerintah dan menuntut kepatuhan terhadap
keputusannya, namun akal sehatnya masih jalan. Untuk dipatuhi, dia tak
hendak memerintahkan atau mengambil keputusan yang tidak masuk akal.
Yang dikehendaki dan dituntut raja atau penguasa apa pun (termasuk sekadar
penguasa organisasi atau partai) agaknya memang ini: kekuasaannya dihormati.
Ketidakpatuhan merupakan pelecehan terhadap kekuasaan yang tidak boleh
terjadi.
Kalau si penguasa itu masih memiliki nurani dan akal sehat, seperti raja
dalam cerita ini, mungkin tidak akan ada masalah. Bahkan dia akan bisa
mempertahankan kekuasaannya karena perintah dan keputusannya masuk akal.
Tapi sekali penguasa tidak menggunakan akal sehatnya dan bertindak hanya
karena ingin menunjukkan bahwa dia penguasa yang harus dihormati dan
keputusannya harus berlaku, lalu memerintahkan atau mengambil keputusan yang
tidak masuk akal, sudah bisa dipastikan sang penguasa ini akan mendapat
masalah dengan rakyatnya.
Masalahnya, kekuasaan (sekecil apa pun) memang sering merupakan sumber
masalah. Sering kali orang yang semula baik, tiba-tiba menjadi brengsek;
orang yang semula toleran tiba-tiba menjadi ekstrem; orang yang lurus
tiba-tiba menjadi korup; orang yang demokratis tiba-tiba menjadi otoriter;
dst, hanya karena kekuasaan. Bahkan sedemikian hebatnya pengaruh kekuasaan,
hingga mampu membuat manusia kehilangan akal sehatnya. (Bahkan banyak orang
yang belum memiliki kekuasaan baru dalam proses mengupayakannya saja sudah
kehilangan penalaran sehatnya).
Besar-kecilnya pengaruh kekuasaan tentunya tergantung dari besar-kecilnya
kekuasaan dan kuat-lemahnya yang bersangkutan dalam menggenggam kekuasaan.
Dan payahnya, banyak orang yang tidak mau atau tidak mampu mengukur dirinya
sendiri: seberapa besar kekuatannya menerima seberapa besar kekuasaan. Satu
dan lain hal, mungkin ini disebabkan karena terlalu gandrungnya yang
bersangkutan kepada kekuasaan atau karena terlena oleh suara kiri-kanan yang
mengelu-elukannya sebagai orang yang memang pantas menggenggam kekuasaan.
Maka benar sekali karenanya patut disemakterutama oleh peminat kekuasaan,
dawuh yang menyatakan "Maa halaka 'mru-un 'arafa qadra nafsihi", tidak akan
rusak seseorang yang mengenali ukuran dirinya sendiri. Wallahu a'lam. (*)
[Non-text portions of this message have been removed]
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/