Hak Berkeyakinan
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri
Salah satu ucapan populer Amirul Mukminin Umar Ibn Khatthab ialah yang
dikatakannya kepada gubernurnya di Mesir, 'Amr Ibn 'Ash, "Sejak kapan kau
menganggap manusia sebagai budak, sedang ia dilahirkan ibunya dalam keadaan
merdeka?"
Memang semua manusia dilahirkan merdeka. Dia bebas berkeyakinan, bebas
menyatakan pendapat dan keyakinannya, bebas menulis apa saja, bebas
menentukan pilihannya, bebas melakukan apa saja yang diyakininya benar.
Kebebasan orang hanya dapat dibatasi oleh kebebasan orang lain. Artinya
kebebasan anda harus berhenti ketika menghambat atau mengganggu kebebesan
orang lain. Anda bebas melakukan apa saja yang anda anggap benar, tapi dalam
pada itu anda tidak boleh merampas kebebasan orang lain. Anda bebas
berteriak-teriak semau anda, misalnya, namun bila teriakan anda itu sudah
mengganggu kebebasan orang lain yang ingin beristirahat, misalnya, anda
harus berhenti. Bila tidak, maka anda akan dicap sebagai orang yang belum
layak menjalani kehidupan pergaulan yang beradab.
Manusia bebas meyakini keyakinannya sendiri. Tapi ia tidak bebas memaksakan
keyakinannya itu kepada orang lain. Memaksakan keyakinan kepada orang lain
adalah perbuatan sia-sia. Memaksakan keyakinan juga berarti melawan
kekuasaan Allah. Karena yang berhak dan kuasa memaksa, termasuk memaksakan
keyakinan, hanya Allah.
Dalam hal ini, Allah sudah memperlihatkan kekuasaan dan keperkasaanNya
dengan tidak tanggung-tanggung. Para nabi dan utusanNya sendiri Ia jadikan
contoh. Nabi Nuh a.s, misalnya, tidak bisa memaksakan keyakinannya kepada
orang-orang paling dekatnya, isteri dan anaknya. Juga Nabi Luth a.s. tidak
bisa memaksa isterinya untuk meyakini keyakinannya. Firaun pun yang mengaku
sebagai tuhan, tidak mampu memaksakan keyakinannya kepada isterinya. Bahkan
Rasulullah saw yang begitu mendambakan keselamatan semua orang, tidak
memaksakan, karena tahu tidak akan mampu, mengislamkan pamannya sendiri.
"Kullu ummati yadkhuluunal Jannah illa man abaa," (Semua ummatku akan masuk
sorga, kecuali mereka yang tidak mau
).
Bila kita cermati; kekacauan dalam pergaulan hidup kita berbangsa dan
bernegara, antara lain karena banyak di antara kita yang terlampau fanatik
terhadap dirinya sendiri. Terlalu tinggi memandang dan menilai dirinya
sendiri. Bila mempunyai pendapat; keyakinan; atau pilihan, merasa pendapat,
keyakinan, atau pilihannya sendirilah yang benar. Kalau berhenti sampai ini,
masih lumayan. Sayangnya tidak. Seringkali sikap itu berlanjut dengan
meremehkan dan menghina pendapat, keyakinan, dan pilihan orang lain. Bahkan
tidak jarang kita melihat orang, yang dengan semangat menggebu-gebu, ingin
memaksakan pendapat, keyakinan, atau pilihannya itu kepada orang lain.
Kita merdeka; boleh memuji setinggi langit pendapat, keyakinan, atau pilihan
kita sendiri seperti kita boleh memuji setinggi langit isteri kita sendiri.
Namun bila ini kita lanjutkan dengan menjelek-jelekkan pendapat, keyakinan,
atau pilihan orang lain seperti menjelek-jelekkan isteri orang lain, tentu
akan mengganggu pergaulan hidup kita. Memang, apabila kita terlalu asyik dan
sibuk dengan diri kita sendiri saja, acap kali kita lupa bahwa kita hidup
bersama orang lain yang juga seperti kita, memiliki pendapat, keyakinan, dan
pilihannya sendiri. Orang lain itu juga berhak, sebagaimana kita, meyakini
kebenaran pendapat, keyakinan, dan pilihannya.
Cobalah mari kita rasakan. Bukankah apabila kita mempunyai sikap merasa
paling benar sendiri dan menganggap orang lain pasti salah, berarti kita
telah membesarkan diri kita dan mengecilkan orang lain? Bukankah ini sikap
takabbur yang sangat dibenci Allah? ("Laa yadkhulul Jannata man fie qalbihi
mitsqaalu dzarratin min kibrin." Hadis. "Tidak akan masuk sorga orang yang
dalam hatinya ada seberat dzarrah ketakaburan." Na'udzubillah!) Akan lebih
gawat lagi bila kita ingat bahwa yang paling benar hanya Allah sendiri!
Dalam hal ini, barangkali kita bisa mencontoh sikap tawaduk yang
diperlihatkan imam Syafi'i r.a. seperti tercermin dalam pernyataannya,
"Pendapat kita benar namun berkemungkinan salah dan pendapat mereka salah
namun berkemungkinan benar."
Maka saya kira perlu sekali, dalam bulan suci Ramadan ini, kembali kita
merenung. Menggeledah dan menghisab dengan teliti diri kita sendiri,
terutama kaitannya dengan kehidupan kita sebagai makhluk sosial yang tidak
bisa hidup sendiri. Sudah benarkah kita memahami arti kemerdekaan yang
sesungguhnya. Sudahkah kita mampu memisahkan antara ghierah keberagamaan
kita dengan nafsu angkara kita? Sudahkah kita mampu membedakan antara
kehendak kita dan kehendak Allah, antara kekhalifahan kita dan kekuasaanNya?
Sudahkah kita benar-benar ber-laa ilaaha illallah, sudah benar-benar
merdeka?
Semoga Allah menolong kita.[]
[Non-text portions of this message have been removed]
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/