Kiai, Lurah Pondok dan Gus
Oleh: KH. A. Mustofa Bisri
Ada tiga tokoh yang paling berperan di umumnya pesantren. Pertama, tentu
saja kiainya. Pesantren tanpa kiai ya seperti asrama atau penginapan saja.
Kedua, lurah pondok. Inilah kepanjangan tangan kiai yang biasanya berurusan
langsung dengan para santri dan menjadi mediator atau penghubung antara
santri dan kiai. Lazimnya lurah pondok dijabat oleh santri yang sudah
"berlakab" qare', sudah (dapat) membaca kitab. Balah-balah, mata
pelajaran-mata pelajaran, yang relatif sederhana dan kecil, galibnya
dipegang oleh lurah pondok ini. Dia ini, dibantu para pengurus pondok, juga
bertanggungjawab atas segala urusan pondok yang non-pengajian, seperti
membuat dan menjaga peraturan pondok dengan bimbingan kiai. Seorang lurah
pondok yang bijak, tidak hanya semakin dipercaya oleh kiai, tapi juga
sekaligus disegani oleh para santri. Dan salah-salah malah diambil menantu
oleh sang kiai.
Tokoh ketiga adalah anak kiai yang biasa dipanggil gus. Konon panggilan ini
merupakan kependekan dari kata bagus yang dimaksud sebagai penghormatan
kepada putera kiai. Adalah sudah menjadi 'aqidah' santri bahwa penghormatan
terhadap kiainya adalah termasuk menghormati keluarga dan anak-anaknya.
Bahkan ada yang lebih dari itu; tidak hanya keluarga dan anak-anak kiai,
tapi juga hewan-hewan peliharaannya. Atau mungkin panggilan itu dimaksudkan
sebagai semacam harapan atau doa agar si anak kiai kelak juga bagus seperti
ayahnya. Sebab anak kiai itu bagaikan pangeran. Seperti umumnya anak tokoh
yang dihormati banyak orang, pangeran itu mudah tergoda untuk berlaku
jumawa. Gampang besar kepalanya. Soalnya, dengan hanya nunut mukti
orangtuanya, pangeran tanpa harus berbuat apa-apa, sudah mendapatkan
penghormatan yang tinggi.
Karena setiap hari dihormati dan disanjung-sanjung, banyak gus terutama
yang mentalnya tidak begitu kuatmenjadi kehilangan keseimbangan. Lalu
berlaku nakal dan aneh-aneh. Meskipun tidak sedikit pula gus yang justru
menjadikan penghormatan dan sanjungan itu sebagai semacam dorongan mental
untuk memacu diri, agar menjadi benar-benar bagus, patut dihormati dan
disanjung.
Anak kiai yang mondok bukan di pesantren ayahnya, biasanya relatif lebih
'alim' dan tidak begitu menyusahkan lurah pondok. Yang merepotkan bila anak
kiai 'mondok'-nya di pesantren ayahnya sendiri dan kebetulan nakal. Lurah
pondok yang paling pusing. Apabila seorang gus melanggar aturan pondok
pesantren, misalnya, lurah pondok akan dihadapkan kepada dilema antara
menegakkan aturan pondok dan menghormati putera kiainya. Bila si lurah
pondok tidak menghukum seorang gus yang melanggar aturan, dia akan dikecam
sebagai lurah yang tidak adil dan bisa-bisa akan membuat aturan pondok
menjadi tidak berwibawa lagi. (Dalam lingkup yang lebih luas, kita melihat
ketidakadilanlah terutama yang menyebabkan hukum dilecehkan). Sebaliknya,
apabila dia berani menghukum si gus, dia berpeluang untuk dimusuhinya.
(Apalagi biasanya gus mempunyai 'gang' yang lazimnya terdiri dari
santri-santri yang dipilihnya sendiri untuk menjadi anak buahnya). Bagaimana
rasanya menjadi pembantu kiai sekaligus dimusuhi puteranya dkk, Anda bisa
membayangkan sendiri.
Kadang-kadang ada juga gus yang nakal sekaligus pintar. Yang pertama-pertama
ia dekati justru lurah pondok. Dengan mendekati lurah pondok, ada beberapa
keuntungan yang dapat diperolehnya. Dia bisa bisa mendapat pembelaan dari si
lurah pondok menghadapi pertanyaan-pertanyaan kiai dan legimitasi atas
segala tindakannya di hadapan para santri. Memang lurah pondok yang bijak
dan taat kepada kiai, yang tahu bagaimana menjaga martabat kiai dan
kewajiban menegakkan aturan pondok, agak sulit "didekati" oleh gus. Biasanya
lurah yang begini bersikap saklek dan lugas terhadap gus, sehingga si gus
pun belum-belum sudah sungkan. Namun ada saja lurah pondok yang amat 'lugu',
yang kurang paham mengenai kaitan dan batas antara penghormatan kepada kiai
dan keharusan menegakkan aturan termasuk untuk putera kiai. Lurah pondok
yang seperti ini, biasanya menjadi 'makanan empuk' bagi gus yang nakal dan
sekaligus pintar.
Waba'du; saya tidak tahu mengapa tiba-tiba menulis begini tentang kiai,
lurah pondok dan gusini. Mungkin mengamati kehidupan warga kita dalam
kehidupan berbangsa dan bernegara dewasa ini, tiba-tiba membuat saya
teringat ke alam pesantren. Entah apa, seperti apa, dan siapa seperti siapa?
[Non-text portions of this message have been removed]
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/