Akoe Seorang Tjina
(Enam Puluh Satu Tahun Negeriku)
Tiga hari lagi, negeriku berulang tahun. Enam Puluh Satu Tahun adalah
usianya, sama seperti usia ayahku. Usia yang sudah cukup tua (bukan lagi
dewasa), bahkan KTP seumur hidup telah diberikan kepada ayahku, jika
dianalogikan dengan negeriku, maka negeriku juga sudah memasuki usia LanSia
yang pantas ber-KTP seumur hidup.
Enam Puluh Satu tahun lalu, negeri ini memproklamasikan kemerdekaannya. Enam
Presiden telah berganti, mulai dari bapak Proklamator sampai bapak Reformasi
telah membukukan diri di buku sejarah negeri ini. Pembangunan telah demikian
pesat, kota-kota maju dengan gedung menjulang menghiasi nusantara. Teknologi
terapan sudah demikian maju. Kita telah mampu membuat pesawat terbang,
satelit sudah kita miliki.
Tetapi apakah kita sudah merdeka seperti makna dari kalimat merdeka itu?
Namaku adalah Akoe, seorang Cina, mereka menyebutku begitu. Aku adalah
generasi ketiga yang tinggal di Indonesia, tepatnya adalah generasi kedua
yang lahir di Indonesia. Menjadi seorang Cina di negeri ini adalah
gampang-gampang susah. Gampang karena Anda cukup lahir dengan mata sipit,
kulit sedikit terang, maka Anda sukses diklasifikasikan sebagai Cina. Susah
karena, kata Cina bukanlah kebanggaan bagi yang menyandangnya melainkan itu
adalah sebuah hinaan/ celaan kepada penyandangnya, jadi tahan-tahanlah
engkau hidup dihina.
"Cina lu", "cina loleng makan babi satu kaleng", "Cina Babi!", "woi Cina!"
adalah serangkaian kata-kata tak sedap yang selalu dibarengi dengan tonjokan
atau senggolan bahu ketika kita berpapasan dengan saudara sebangsa dan
senegara kita. Suatu tindakan provokatif yang kerap diperoleh aku ketika
masih kecil di kampungku dulu. Suatu tindakan provokatif untuk memancing
keributan dari sekelompok anak-anak. Benar, anak-anak, usia belasan, tetapi
sudah sangat mahir menggunakan istilah SARA.
Menjadi seorang cina, berarti siap menjadi korban pengompasan ketika main
dingdong, jalan kaki sendirian dari sekolah pulang kerumah.
Dikompas(dipalak) ketika berdiri sendirian di terminal bis, menunggu bis
untuk pulang kerumah. Hal ini tidak berakhir pada masa kecilku saja, Aku
bahkan pernah dipalak sekelompok anak STM ketika masa awal kuliah.
Pada skala Nasional, menjadi seorang cina di masa merdeka, juga harus
merasakan dua kali kerusuhan rasial. Cina menjadi sasaran empuk, sansak
tinju para elite kotor yang ahli bermain lumpur kotor politik. Jeritan si
bisu, itulah suara yang terdengar bagi para PanSus yang dibentuk pemerintah,
bukan untuk mengungkap kasus tetapi untuk menenangkan si bisu, kasus demi
kasus hanya terkubur tanpa terungkap juga tanpa terbukukan sejarah.
Menjadi seorang cina, harus menunggu enam puluh tahun lebih untuk
mendapatkan status WNI resmi tanpa embel-embel dari Pemerintah. Enam Puluh
tahun lebih, barulah seorang cina diakui secara resmi, secara politik (atau
hanya secara statistik?) sebagai seorang Warga Negara.
SBKRI, sebuah lagu dari masa lalu, yang kerap diangkat para politikus dalam
melanggengkan usahanya ke kursi kekuasaan, masih tetap berkuasa walau rezim
telah berganti rezim. Selembar akte lahir tidaklah cukup untuk membuktikan
ke Indonesiaanku. Lip Service mengatakan SBKRI tidak diperlukan lagi bagi
cina yang lahir di Indonesia, tetapi dalam praktek, SBKRI orang tua tetap
diminta, lalu apa bedanya Pak?
Dengan diakui UU saja, keluhan seorang cina tidak berakhir disana, seorang
cina tetaplah masih cina di mata saudara lainnya. Bila seorang cina
melakukan tindakan kriminal, seperti baru-baru ini, memperkosa, maka selain
mendapat proses hukum, keluarga seorang cina harus mendapat lemparan batu di
rumahnya. Betul, keluarganya, bukan pelakunya, harus merasakan hukumnya
hukum main hakim sendiri. Yang lebih disesalkan adalah pelaku main hakim itu
adalah mahasiswa. Mahasiswa, kaum intelektual, calon pemimpin negeri. Apakah
hal ini mengindikasikan betapa masih sangat suramnya nasib cina di masa
depan?
Demikianlah Akoe, seorang WN yang kebetulan lahir sebagai cina, mengaju
tanya: Enam Puluh Satu tahun Merdeka, apakah kita telah Merdeka?
[Non-text portions of this message have been removed]
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/