Konsolidasi di kandang lawan

Sebuah nilai yang terinternalisasi secara mendalam akan menjadi kekuatan
yang tidak lekang oleh panas dan tidak lapuk oleh hujan. Begitulah karakter
perjuangan salah seorang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) Kiai Asnawi di masa
penjajahan Belanda. Berbagai tantangan dan ancaman kerap muncul baik secara
langsung maupun tak langsung. Ancaman juga kerap dialami para pengikutnya.
Tokoh kelahiran Kudus yang dikenal tegas dan konsisten ini pernah ditangkap
belanda saat ada kerusuhan anti Cina di Kudus. Penangkapan ini dilakukan
Karena dianggap kerusuhan itu bermotif agama. Belanda menangkap sejumlah
tokoh agama yang selama ini turut mendukung perjuangan kiai asnawi. Bersama
KH. Damaran, KH. Nurhadi, KH. Mufid sunggingan dan kiai lainnya, Kiai Asnawi
meringkuk selama tiga tahun di penjara.

Mula-mula kiai Asnawi dan kawan-kawan dipenjarakan di Kudus, kemudian di
pindahkan ke semarang. Bagi Kiai Asnawi, dimanapun bumi dipijak di situ
perjuangan harus dilakukan. Penjara tidak menyurutkan langkahnya untuk
berdakwah dan menentang berbagai bentuk kedhaliman penjajah terhadap umat
islam dan bangsa Hindia Belanda saat itu. Meskipun Belanda mengekangnya di
penjara tapi berbagai kegiatan keagamaan tetap dilangsungkan. mengadakan
shalat berjama'ah, pengajian dan pembacaan berjanji. Dalam tempo sekejap
penjara itu berubah seperti majelis taklim. Kiai Asnawi sendiri yang
meminpin pengajian di penjara tersebut. Beliau mengajarkan beberapa kitab,
di samping menggunakan waktu luangnya untuk menerjemahkan kitab jurumiah.
Relasi yang terbangun antara Kiai Asnawi dan santrinya tidak sekedar dalam
proses  belajar mengajar tapi juga pada konsolidasi gerakan. Memang mereka
tidak hanya mengaji tapi juga melakukan konsolidasi.  Sambil belajar ilmu
agama juga tak lupa membahas persoalan yang dialami umat.  Selain
membicarakan penjajahan Belanda dia juga membahas perkembangan percaturan
keagamaan. Saat itu wacana pembaharuan Islam yang dibawa dari Arab mulai di
suarakan, malah gerakan pembaharuan ini selanjutnya mengecam dan menyerang
terhadap paham ahlus sunnah wal jamaah yang dianut sebagian besar umat Islam
saat itu. Artinya ini menjadi ancaman bagi kelangsungan paham yang diikuti
kiai dan santrinya. Karena itu, Kiai Asnawi  berembug bagaimana strategi
menghadapi dua ancaman, yaitu ancaman penjajah dan para pembaharu Islam.

Penjara menjadi tempat persemaian ide bagi santrinya untuk makin berani
menghadapi penjajah. Memang Keberanian Kiai Asnawi menjadi inspirasi
tersendiri disamping pengaruhnya yang begitu luas. Tak heran kepala penjara
pun memperlakukan kiai Asnawi dengan sangat hormat.

Dalam penjara, Kiai Asnawi tidak bisa menutupi kepedihannya dihadapan santri
dan teman-temannya karena tidak bisa kembali ke Mekkah dan berkumpul dengan
istri dan anaknya. Akhirnya justru istrinya, Nyai  Hamdanah, beserta tiga
anaknya yang ketika itu masih tinggal di Mekkah yang menyusul kiai Asnawi ke
Kudus.[]


[Non-text portions of this message have been removed]




-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke