Masa Lalu di Masa Depanku ADA yang berpendapat, cinta pertama tak pernah
mati. Ada juga yang berkata, seks pertama tak akan pernah dapat terlupakan.
Bagaimana jika kedua hal tersebut bergabung? Dan itulah yang kini terjadi,
aku bertemu lagi dengan cinta pertama dan wanita yang mengenalkan seks
pertama padaku. Pertemuan yang membuat semua mimpi dan harapanku seperti
mendapatkan titik temu. Sayangnya, kini kami telah menjadi sosok yang tak
lagi sendiri. Aku mulai berpacaran sejak SMA. Tapi cinta pertama yang
kurasakan sungguh hebat menderaku, terjadi waktu kuliah semester lima. Aku
kenal adik kelas yang baru masuk, dan aku OPSPEK. Olivia namanya. Dia mungil
sekali, sehingga tak pernah aku tega untuk "menyakitinya" dalam kegiatan
yang acap dikatakan sebagai ajang balas dendam itu. Bahkan, aku
melindunginya. Dia seperti burung pipit yang bahkan bergidik tiap mendengar
bentakan. Dari situlah kami jadi akrab, dekat, dan akhirnya asmara hinggap.
Empat bulan kemudian kami resmi berpacaran. Cinta kami tumbuh sempurna.
Dia yang berasal dari Surabaya dan aku yang dari Jakarta, bisa bebas
menumpahkan kasih. Hari-hari berlalu. Dan ternyata, meski aku yang lebih
tua, tapi dalam kuliah, Olivia mampu mengejarku. Bahkan, dia dapat lulus
lebih duluan daripadaku. Namun, keindahan cinta kami terjadi sebelum dia
lulus. Karena merasa yakin bahwa dia akan menjadi istriku, kami pun
mengikutkan gelora asmara. Di kontrakanku semuanya terjadi. Olivia pasrah
saja ketika asmara yang menguasaiku meminta penyerahan dirinya. Itulah seks
pertama bagiku, juga baginya. Tak ada sesal dari dia, juga dariku. Dosa itu
terlalu manis, dan kami terlalu gampang lupa nikmatnya. Sehingga tiap ada
kesempatan, kami selalu mengulang kenikmatan itu, agar tak lupa. Takdir
ternyata punya jalan sendiri, yang tak selamanya dapat kami ikutkan. Selepas
kuliah, Olivia dengan bantuan orang tuanya, mendapat kerja di sebuah bank di
Surabaya. Kami berjanji akan saling setia. Berkali-kali aku menjumpainya di
Surabaya, dan tak sekalipun dia mengajakku ke rumah orang tuanya. Kami
bertemu di hotel, dan bercinta. Katanya, selama aku belum kerja, dia tak
akan berani membawa aku ke orang tuanya. Aku pun giat kuliah, dan setahun
kemudian aku tamat. tapi setahun itu telah mengubah segalanya. Kesendirian
Olivia di sana, dan kesibukanku, juga jarak, membuat segalanya bisa terjadi.
Olivia dengan sangat tenang, suatu hari menelponku, dan mengatakan tak bisa
lagi jalan bersamaku. Katanya, dia telah tak setia. Dan dia tidak siap untuk
menghadapai ketidaksetiaan itu jika bersamaku. Aku mengerti, dia telah
mendapatkan penggantiku. Dan yang utama, dia telah mendapatkan restu dari
orangtuanya. Biasanya, kalau terjadi perpisahan, pihak perempuanlah yang
lebih sakit. Untuk kasusku, justru aku yang lebih menderita. Berkali-kali
aku menghubungi Olivia dan bertanya, "Bagaimana kalau suamimu tahu dirimu
sudah tidak perawan?" Tapi Olivia menjelaskan, bahwa itu urusannya. Dia
telah punya jawaban. Tapi aku tidak pernah merasa bisa bebas. Aku merasa
takut, gara-gara hal itu, kehidupannya akan hancur. Aku pun menunggu
pestanya, menghitung hari-hari pernikahannya. Dan tak ada kejadian apa-apa.
Hidupnya bahagia, setidaknya begitulah yang aku dengar. Olivia sendiri masih
beberapa kali bertanya kabarku. Ketika aku yakin dia bahagia, aku pun
"melepaskannya". Tahun berganti. Aku pun bekerja, lalu menikah. dan di
tahun ketiga pernikahanku, bayi mungilku lahir, perempuan. Tanpa setahu
istriku, kuberi nama Olivia. Sebenarnya, aku agak menyesal memberi nama itu.
Tapi ketika akan kuganti, istriku malah bertahan, dia menyukai nama itu. Ya
sudah. Dan sekian tahun itu juga, aku tak pernah mendengar kabar apa pun
lagi dari Olivia. Oh ya, aku menikahi pegawai negeri. Dan ketika anakku
lahir, kutetapkan untuk mengambil rumah di daerah atas Semarang. Perumahan
yang dekat dengan kampus. Telah dua tahun aku di perumahan ini. Tetanggaku
yang semula sepi, kini mulai ramai. Ya namanya perumahan, ada yang datang
dan ada yang pergi. Ada yang menjual rumahnya, ada yang membangun baru,
lebih bagus tentunya. Aku sendiri cenderung bertahan, dan memperbaiki rumah,
menambah pelan-pelan di sana-sini. Nah, saat memperbaiki rumah itulah aku
tahu, rumah di depanku akan dijual. Pak Antonio pemiliknya pindah ke jakarta.
Dia menawarkan padaku, tapi kutolak karena memang tak mampu. Akhirnya,
sampai dia pergi, rumah yang sudah bagus itu kosong. Aku nyaris lupa
dengan rumah kosong di depan rumah, ketika setengah tahun lalu, ada orang
yang datang dan membersihkan rumah itu. Dalam rapat RT, aku tahu, rumah itu
sudah dibeli oleh pegawai bank swasta yang baru pindah ke kota ini. Tapi aku
tak antusias mendengar hal itu. Antusiasme aku mulai terlecut saat aku
pulang malam beberapa minggu kemudian, dan menemukan bungkusan selamatan
yang disediakan istriku. "Dari rumah di depan," katanya. Tapi mataku tak
pernah lepas dari nama di kertas itu, Ny Olivia Herlambang, ST. Olivia?
Apakah dia Oliva-ku? Apakah... "Kenapa, Pa? Namanya sama dengan Dedek,
ya?" Orangnya juga cantik dan ramah, Pa. Tadi kemari menyerahkan sendiri
nasi selamatan itu." Tak kudengar pasti suara istriku. Napasku memburu.
Benarkah dia Olivia-ku? Setelah itu, aku tak pernah terpicing. Ingin segera
pagi, dan melihat tetangga di depan, benarkah dia Olivia-ku? Dan ternyata
takdir itu jahat sekali. Dia benar Olivia, Olivia-ku. Gadis Surabayaku itu.
Aku menemukannya sedang mengantar suaminya kerja di teras rumahnya. Wajahku
panas waktu dia melihatku dan tersenyum. Dia tampak tak kaget. Bahkan dengan
santai, dia segera mendatangiku, dan menyalamiku. "Tidak menyangka ya, kita
bertemu lagi. Olivia kamu manis. Aku suka namanya..." Aku hanya diam, dan
tersenyum. Singkat cerita saja, dia jadi warga baru di tempat kami.
Ternyata, suaminya yang dipindahkan ke Semarang, dan telah setahun tinggal
di sini. Dia baru menyusul setelah ada penerimaan dari bank tempatnya
bekerja untuk pindah. Dia belum punya anak. Dan sedang berusaha. Dan setelah
dia hadir di lingkungan rumahku, aku merasa ada yang tak nyaman denganku.
Aku merasa tak sebebas dulu. Segala ingatanku tentangnya, seperti kembali
lagi. Dan dia terlalu memesona. Senyumnya, tingkahnya, sama seperti dulu.
Saat-saat dia dan suaminya mendatangi rumahku untuk bertemu dengan Olivia,
adalah saat yang paling menyiksaku. Kami begitu akrab sebagai keluarga,
begitu dekat. Bahkan dia sudah bebas masuk-keluar rumahku. Bahkan pernah,
waktu berpapasan di dapur, aku tak kuasa untuk tak memeluknya. Kudekap dia,
kepeluk, dan dia menerima saja. Dia bahkan berbisik, "Aku juga kangen,
kangen kamu. Tapi ini rumahmu, jangan kotori rumahmu..."
Tuhan..leganya. Pembaca,
telah empat kali pelukan itu terjadi, ya tentu tak di rumahku. Dan kami
memang masih saling suka. Telah kucium bibirnya, dan dia menerima. Dan aku
takut. Aku takut jerat cinta kami datang lagi. Aku memang tak kuasa melawan
magnit cinta ini, tapi aku juga tak mau kehilangan istri dan Olivia
mungilku. Aku telah memilih takdirku, seperti juga Olivia telah menjalani
takdirnya. Dan takdir kami tidak di rel yang sama. Tapi kenapa kami
dipertemukan lagi, ketika gairah itu belum bisa kami kendalikan? Aku begitu
takut jatuh dalam dosa. tapi aku juga begitu tak sabar, sepertinya, untuk
mencicipi dosa itu lagi. Seperti menunggu waktu. Aku bingung. Aku bingung.
Tolonglah aku, apa yang harus aku lakukan. Tolonglah... (sebagaimana kisah
Bagas di Semarang Atas)
[Non-text portions of this message have been removed]
-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
-----------------------------------------------***
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/