Ngabuburit
Kata ngabuburit adalah suatu istilah dari Bahasa Sunda yang umum dipakai
pada saat menjelang berbuka puasa. Sambil menunggu waktu berbuka biasanya
kita isi dengan kegiatan yang menarik (*fun*) hanya sekedar untuk
menghabiskan waktu.
Ngabuburit berasal dari kata burit, sebuah representasi waktu yang
menunjukkan mulainya malam hari. Ngabuburit artinya mengisi waktu hingga
burit tiba. Selain istilah burit Bahasa Sunda banyak kosakata yang
merepresentasikan waktu seperti *tengah peuting* kira-kira pukul 00.00, *
isuk-isuk* kira-kira pukul 06.00.* **tengah poƩ/lohor* kira-kira pukul 12.00
*ngampih laleur* yang artinya waktunya lalat bubar kira-kira pukul 17.00.
dan sebagainya, representasi waktu itu umumnya dihubungkan dengan kebiasaan
mahluk atau alam.
Dulu waktu aku kecil, ngabuburit seolah sudah menjadi kegiatan keseharian
pada saat bulan Ramadhan, berenang bersama kawan-kawan di kali di sebelah
selatan desa, memancing, atau bermain sepakbola adalah acara favoritku.
Pendulum jam terus bergerak, aku kecilpun beranjak dewasa, kini di saat usia
paruh baya kenangan masa kecil menjadi kenangan manis yang tak terlupa.
Bersyukur kehadirat Ilahi Robbi, mengenang memory masa lalu adalah sesuatu
yang menikmatkan, inilah yang membedakan manusia dengan binatang, binatang
hanya hidup dalam kekinian.
Puasa pertama bulan Ramadhan ini jatuhnya bertepatan dengan hari Minggu, aku
ngabuburit di Bunderan Hotel Indonesia (HI). Rencananya sih jalan-jalan
santai (JJS) ku ini dimulai dari Monas dan berlanjut sampai Senayan,
sayangnya baru sampai patung kereta kuda di Jalan Thamrin, matahari sudah
mulai berwarna merah pertanda tak lama lagi akan tiba waktu berbuka.
Patung Kereta Kuda sungguh menarik pandanganku, sepuluh kuda menarik kereta
yang di kusiri oleh seorang ksatria, mengingatkanku tentang kisah spiritual
hakikat puasa.
Matahari tenggelam di ufuk barat tertutup oleh gedung-gedung tinggi yang
menjulang saatnya berbuka, saya meyakini bahwa matahari telah tenggelam
walaupun tertutup gedung tinggi karena terdengar sayup-sayup muadzin
mengingatkan kita agar segera berbuka dan menunaikan shalat maghrib.
Kebetulan tak jauh dari sana ada penjual kaki lima yang sedang lewat dengan
gerobak menjual kelapa hijau, akupun memanggilnya untuk sekedar membatalkan
puasaku.
Kelapa muda dibobok pucuk atasnya dengan pisau,sampai memotong tepesnya dan
batok kelapanya sehingga aku bisa menikmati air kelapa muda (degan)nya,
terasa segar di kerongkonganku, baru sekali ini terasa nikmat sekali minum
buah kelapa serasa di surga. Dari tegukan pertama disusul tegukan berikutnya
duh nikmatnya.
Merenungi buah kelapa, ternyata puasa itu seperti buah kelapa muda, syariat
adalah kulit kelapa yang keras, daging kelapa adalah tarekatnya dan air
kelapa adalah hakikat. Syariat adalah sebagai pengetahuan yang diperoleh
dengan belajar 'ilmul yaqin'. Secara syariat, puasa adalah pengendalian diri
untuk tidak makan dan minum serta melakukan seks dari pagi sampai
tenggelamnya matahari. Tarekat adalah aenul yaqin, dan hakikat adalah haqul
yaqin. Demikian ajaran Islam dari pokok sampai cabang, sejak akidah sampai
ibadah, selalu terdiri dari ketiga unsur yang tidak terpisahkan ini,
demikian menurut Sayyid Haidar Amuli. Itulah Tarekat puasa yang
mengendalikan indra bathiniah Rosulullah SAW bersabda "Syariat itu ucapanku,
tarekat perbuatanku dan hakikat keadaanku", dengan merujuk kepada riwayat
itu kita melakukan ketaatan.
Puasa tarekat dimulai ketika kita berusaha mengendalikan sepuluh indera
kita. Lima indera diantaranya indra lahiriah, seperti pembicaraan,
penglihatan, pendengaran, penyentuhan, dan penciuman. Ibaratnya ruh kita
adalah sais kereta yang digambarkan oleh patung itu dan ditarik oleh sepuluh
kuda. Lima kuda lebih liar dari lima kuda lainnya. Lima kuda yang sulit
dikendalikan adalah lima indra kita Tugas sais itu berdasarkan pada riwayat
"Semua kamu pemimpin dan semua harus bertanggung jawab atas
kepemimpinannya," kita diperintahkan untuk mengendalikan anak buah kita
baik yang lahir maupun bathin, baik yang jinak maupun liar. Indra batiniah
yang perlu dijinakkan adalah seperti : pikiran, ingatan, khayalan, rasa,
dan indra yang menggabungkan semuanya. Itulah yang dilambangkan dengan
sepuluh kuda itu.
Karena haus, cepat sekali tandas air kelapa muda yang disuguhkan penjual
itu, aku bayar dan tak lupa mengucapkan terima kasih kepada penjualnya yang
datang tak terduga, seperti pepatah "pucuk dicinta ulam tiba", selanjutnya
aku tidak lagi melanjutkan JJS tapi mencari sumber suara adzan, untuk
berjamaah bersama.
Salam,
Ferry Djajaprana
[Non-text portions of this message have been removed]
-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
-----------------------------------------------***
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/