Suamiku Digelapkan Gairahnya


Selama 3 tahun pernikahanku, tak pernah sekali pun aku merasakan menyesal
bersuamikan Mas Arie. Dia baik, sayang, dan penyabar. Dan satu hal yang
selalu membuatku sangat beruntung adalah kesukaannya pada keintiman. Jadi,
nyaris tak ada hari yang kami lewati tanpa melakukan aktivitas yang sangat
menyenangkan tersebut. Aku menikmati setiap apa pun yang dia lakukan. Dan
tidak pernah aku sadari, hal itu juga yang menjadi bencana di pernikahan
kami.



Ya, Mas Arie sangat *hot*. Semula aku kira dia hiperseks. Tapi dari
penjelasannya, Mas Arie mengakui bahwa dia tak pernah dapat melihat tubuhku
tanpa keinginan untuk menyentuhnya. Jelas aku bangga sekali atas hal itu.
Karena itulah, rumahtangga kami aman-aman saja. Penuh kemesraan.
Pertengkaran kami tercipta hanya jika aku haid, dan Mas Arie terkadang
memaksa untuk tetap melakukannya. Hanya dengan mau bertengkar aku dapat
menolak keinginannya itu. Tapi, pertengkaran itu tak pernah menghebat.



Uniknya, meski hubungan suami-istri kami selalu hangat, sampai tiga tahun
pernikahan, tak ada tanda-tanda aku hamil. Ibu-bapak dan mertua sampai
bertanya-tanya. Tapi suami hanya senyum saja. "Mungkin karena kita terlalu
liar ya, sampai gak ada kehamilan," katanya. Aku pun tertawa. Dan begitulah,
tiga tahun pernikahan kami lewati dengan kemesraan yang terjaga.



Di tahun keempat, aku hamil. Ini kegembiraan yang luar biasa. Sayang, cinta,
kangen, rindu, dan entah apa lagi kata yang dapat mengungkapkan perasaan Mas
Arie tumpah padaku. Dia begitu mensyukuri kehadiran bayi kami. Kehamilan itu
menjadi gairah yang luar biasa. Dan meski kandunganku kian besar, tak
sekalipun gairah Mas Arie berkurang. Semula aku khawatir, tapi setelah
konsultasi ke dokter, kuyakin tak ada halangan intim saat hamil. Hanya gaya
saja yang kami ubah. Tapi secara nyata, tetaplah Mas Arie macam di
ranjangku.



Aku ingat pasti, sampai malam sebelum siangnya aku melahirkan, Mas Arie
masih mengintimiku. Dan dia menjagaku dengan sangat telaten. Tapi kelahiran
itu tak secepat yang kami bayangkan. Masuk rumah sakit sejak pukul 2 malam,
setelah pukul 1 siang aku melahirkan. Sakit luar biasa. Tapi bayi perempuan
kami lahir dengan selamat dan sempurna. Dan kebahagiaan kami kian lengkap.



Bayiku tumbuh sehat. Tubuhku yang semula mekar, juga aku susutkan
pelan-pelan. Pelannya penyusutan tubuhku ini untuk menjaga agar produksi
airsusuku tidak terganggu. Karena itulah, setelah empat bulan baru tubuhku
kembali langsing seperti sebelum hamil. Kegiatan kami adalah menjaga Rachel
agar terus tumbuh dengan kasih sayang berdua. Mempehatikan pertumbuhan
Rachel adalah kegiatan yang sangat menyenangkan. Melihat dia berusaha
membalikkan badan sudah membuat kami mejerit-jerit takjub. Bener kata
orang-orang tua, setiap anak selalu menjadi yang paling luar biasa di mata
orang tuanya. Dan kami mengalaminya.



Oh ya, selama aku melahirkan, nyaris terjadi pertengkaran. Ini karena
sebelum aku nifas selesai, Mas Arie sudah memaksa untuk melayani hasratnya.
Tapi sakit yang aku rasakan juga nifas yang lambat sekali pergi, lebih dari
50 hari, membuat pertengkaran itu menjadi rutin. Untunglah, Rachel selalu
menjadi penengah. Dan kami lewati masa itu dengan relatif tenang, sampai aku
sehat betul, dan dapat melayani lagi keberingasan Mas Arie.



Kini Rachel telah 8 bulan, sedang lincahnya merangkak. Seharusnya ini masa
yang sangat menggembirakan. Tapi kesedihan ternyata datang lebih cepat dari
yang aku sangka. Selentingan kabar itu kudengar secara tak sengaja. waktu
arisan kantor tertangkap olehku ucapan ibu-ibu yang bercerita tentang
seorang gadis yang katanya menjadi korban suamiku. Kalau tak salah tangkap,
kata mereka, perempuan itu menjadi korban sewaktu aku melahirkan.
Selentingan itu semula tidak aku pahami. Tapi, lewat ibu yang sangat akrab
denganku di pertemuan berikutnya, aku mulai yakin, suamiku pernah dekat
dengan perempuan lain. Kedekatan yang kata mereka sangat cepat terjadi dan
sangat cepat berakhir.



Sejak ada kabar itu, mulailah aku mencari-cari tahu. Dan puncaknya, aku
tanyakan hal itu pada suami. Mas Arie mengakui dia pernah dekat. Tak lebih.
Tapi aku tak percaya. Ketika kutanyakan siapa perempuan itu, dia tak mau
menyebutkan nama. Aku mencari tahu, dan kudapatkan nama itu. Saat itulah aku
tanyakan ke Mas Arie, apakah dia mau berjunmpa dengan Dina, dan menjelaskan
padaku bahwa mereka sudah tak ada hubungan apa pun lagi. Mas Arie kaget,
tapi dia bersumpah bahwa mereka tidak ada hubungan apa pun. Kata dia, yang
terjadi antara dia dan Dina hanya kesalahaan sesaat. Aku tidak mengerti.
Ketika aku nekat akan menghubungi Dina, Mas Arie pun mengaku. Ternyata,
sewaktu aku melahirkanlah hubungan itu terjadi. Suamiku ternyata tak mampu
menahan gairahnya. Dia sangat tak kuat menanti waktu nifasku kelar. Dan dia
tidak berani melacur. Nah, dalam kondisi itulah, salah satu stafnya, Dina,
memberinya peluang. Dina ini --menurut Mas Arie-- gadis yang tidak lagi
perawan. Dan hubungan itu pun terjadi. Hanya singkat, antara masa aku
melahirkan dan selesai nifas. Artinya, wanita itu, Dian itu, hanya menjadi
tempat penyaluran hasrat Mas Arie. Tapi apa pun alasannya, aku tidak bisa
terima. Aku merasa dikhianati. Meski Mas Arie bersumpah hanya itu yang dia
lakukan, berjanji tak akan berbuat lagi, menekankah bahwa hubungan itu tanpa
rasa cinta dan sayang, dan seperti transaksi karena Dina mendapatkan
sejumlah uang dari Mas Arie, luka batinku tak juga sembuh. Aku terlanjut
sakit, sakit, sakit. Suamiku, junjunganku, kekasihku dunia-akhirat ternyata
sangat menghamba pada nafsunya. Sangat memanjakan nafsunya. Sampai berpuasa
50 hari saja dia tak mampu.



Kini telah 2 bulan aku tak melayani dia. Telah beratus kali maaf dia minta.
Telah berbagai cara dia lakukan untuk membuatku bergairah, semua telah
sirna. Aku secara terbuka telah meminta maaf pada Dina atas perbuatan
suamiku. Dan Dina yang mungkin tidak merasa nyaman, akhirnya keluar dari
pekerjaan itu. Tapi tak juga mengurangi sakitku. Aku tak tahu, apa yang
kurang dari diriku. Apa yang tidak aku penuhi? Bahkan saat capaipun, aku
tetap melayaninya. Saat sakit pun, aku tetap melayaninya. Kenapa, kenapa di
saat aku melahirkan buah cinta kami, di saat yang paling bahagia dalah
kehidupan kami, justru dia tak mampu mengendalikan diri. Kenapa dia begitu
hinakan dirinya hanya untuk hasrat yang kata dia membuatnya gelap mata?
Kenapa???



*Cerita ibu Rachel***


[Non-text portions of this message have been removed]




-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke