Rumahku Gaduh Sekali


Jika engkau punya rumah sekecil rumahku, maka ledekan inilah yang akan
segera engkau hadapi: tak jelas perbedaan antara masuk dan keluar, karena
begitu masuk, engkau sudah otomatis akan keluar. Keluarga berumah kecil
pasti akan akrap sekali karena ke manapun mereka melangkah, cuma akan
bertemu setiap kali.



Kemanapun engkau pergi cuma akan papasan melulu. ''Dan jika pemilik rumah
rumah kecil ini adalah pengantin baru kehamilannya pasti akan datang cepat
sekali, karena gesekan bisa terjadi setiap kali,'' kata para tukang ledek
itu.



Mestinya aku sakit atas ledekan ini. Tetapi meskipun sakit, jika sudah
menyangkut soal hati, sakit dan tidak sakit , ternyata cuma soal pilihan.
Dan rumahku yang kecil itu, aku bebas memilih, dengan gaya apa ia akan
kupandang. Karena selain mendatangkan kesakitan, kekecilan juga mendatangkan
kegembiraan. Tinggal bagian mana yang hendak kupilih.



Rumah yang kecil misalnya, baru terasa keunggulannya jika kita sedang ngepel
sendiri. Bisa cepat sekali. Sementara aku sering melihat, ada rumah yang
saking gedenya, cuma untuk mengepel saja butuh satu kompi pekerja. Celakanya
rumah itu, jauh lebih banyak dipel katimbang ditempati.



Ada pula seorang teman, yang lama bekerja keras membanting tulang, agar bisa
memiliki rumah yang besar, luas, sepi dan menyendiri. Kebesaran, keluasan
dan kesendirian itu, menurutnya adalah tebusan, atas sebuah kekecilan,
kesempitan dan keterdesakan, seluruh simbol kemiskinan yang pernah dia
alami. Dan ia berhasil menebus apa yang ia sebut sebagai keadaan miskin itu.



Rumahnya kini telah jadi besar sekali dan sangat menyendiri. Citanya-citanya
untuk punya rumah yang sepi dan sendiri terkabul dengan sempurna. Akhirnya
ia benar-benar kesepian! Karena sementara anak-anak telah dewasa dan
memlilih pergi, tetangga tak ada pula. Kini cuma ada dia yang hidup dengan
istri yang ketakutan setiap kali hendak ditinggal pergi.



Rumah kecil memang penuh masalah, tetapi rumah besar juga sarat masalah,
jadi apa bedanya! Bukan berarti rumah besar tak aku ingini, tetapi jika baru
rumah kecil ini yang bisa aku miliki, harus pintar-pintar menghibur diri.
Termasuk ketika di rumah kecilku itu jadi mudah penuh oleh gaduh
anak-anakku. Satu teriakan kecil saja, rasanya sudah hendak merontokkan daun
jendela. Apalagi karena sempitnya ruang, aku terpaksa membangun kamar
meninggi, dengan kayu sebagai lantainya. Jika anak-anak mulai berlarian dan
menendang-nendang bola di atasnya, gema lantai kayu ini seperti hendak
merobohkan apa saja.



Jika rumah besar mencekam kita denga kesepiannya, rumah kecil akan menghajar
kita dengan kegaduhannya. Jika boleh memilih, dicekam sepi pasti lebih
kuingini katimbang dihajar kegaduhan. Tapi aku pasti sedang tidak boleh
memilih. Maka jurus menghibur diri lagi-lagi harus diperagakan agar
kegaduhan di rumah kecilku itu, malah menjadi sumber kegembiraan.



Adalah tidak adil, mentang-mentang kecil saja rumah keluarganya, anak-anak
lalu tidak boleh menyalurkan kebutuhan agresinya. Zaman ketika para
developer makin pelit menyediakan lapangan, zaman ketika lapangan yang sudah
ada pun sering dihancurkan, adalah zaman yang makin mengancam anak-anak
untuk kesulitan menyalurkan kegembiraannya dalam berteriak, berlari dan
menedang bola sekuat kaki.



Maka dengan keras aku mencari cara, agar kekecilan rumahku ini tidak
menghalangi anak-anakku untuk bermain seolah-olah di lapangan bola, untuk
beteriak seolah-olah ada di hutan belantara. Maka kami buatlah apa yang
disebut sebagai jam gaduh. Di jam ini, anak-anakku bebas berbuat apa saja,
menendang apa saja, berteriak sekuatnya, dengan aku sendiri sebagai mentor
kegaduhan mereka.

Jika jam gaduh itu tiba, kami semua bisa berbuat seperti orang gila. Kami
sediakan bola-bola balon yang bisa kami aniaya sedemikian rupa, kami tendang
dengan kekuatan penuh, panci-panci rombeng kami bantingi, dan televisi yang
sedang menayangkan gosip murahan boleh disambit dengan kaos kaki! Jam gaduh
ini adalah kesempatan ketika kami sekeluarga diizinkan menjadi liar demi
membuang kepenatan hidup.



Hasilnya luar biasa. Anak-anak berkeringat dengan muka sehat membara,
bapaknya biasa tergoleh lemas karena kehabisan nafas lega, sementara si emak
lalu tergerak memasak apa saja untuk anggota keluarga yang setiap habis
berbuat kegaduhan selalu didera kelaparan. Murah sekali ternyata menyiapkan
keluasan di rumah kecil kami. Hambatan satu-satunya ialah risiko dianggap
sebagai keluarga gila oleh tetangga!



Oleh: Prie GS


[Non-text portions of this message have been removed]




-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke