*Yang Sudah Wushul Dan Belum Kepada Allah*
* *
"Hendaknya mendapatkan limpahan kekayaan (jiwa), orang-orang yang sudah
sampai (wushul) kepada Allah. Sedang orang yang dibatasi rizki spiritualnya
berarti mereka masih sebagai penempuh jalan menuju kepada Allah
(as-Saairun)."
Orang yang sudah sampai (wushul) kepada Allah, disebut sebagai orang yang
kaya raya, keleluasaan tiada hingga, karena ia telah bebas dari tekanan
kehidupan semesta raya. Dan karena itu ia mendapatkan limpahan kekayaan jiwa
yang luar biasa. Sementara mereka yang masih berkutat pada jalan menuju
kepada Allah seringkali malah terhimpit oleh kesempitan-kesempitan duniawi
sehingga mereka terbatasi limpahan rizkinya. Sebaliknya mereka yang sampai
kepada-Nya malah dilimpahi keleluasaan, jauh dari kesempitan duniawi, dan
malah menuju kekayaan musyahadah dan kenyataan hakiki.
Ketika arwah seseorang naik dari Alam Asybah (duniawi) menuju Alam Arwah
atau dari Alam Malak menuju Alam Malakut, maka rizki spiritualnya melimpah
begitu luas, lalu terbukalah perbendaharaan-perbendaharaan pengetahuan, lalu
mereka mendapatkan limpahan mutiara ilmu yang terpendam, dan dari sanalah ia
meraih permata-permata rahasia Ilahi.
Ibnu Athaillah mengingatkan kita agar berada dalam kehambaan, kefakiran dan
kemiskinan di hadapan Allah, sehingga kita benar-benar papa di hadapan-Nya
dan kita pun mesti mendapatkan limpahan karunia-Nya.
Ibnu Ajibah al-Hasani menegaskan, jika seorang hamba ingin meraih
pengetahuan-pengetahuan rasa, maka jauhilah pengetahuan-pengetahuan formal,
karena sepanjang Anda berpijak pada perbendaharaan yang ada di luar diri
Anda, maka Anda tidak bisa menggali perbendaharaan kekayaan ruhani Anda
selamanya. Maka jauhilah hasrat-hasrat materi, dan berharaplah semua itu
kepada Allah laksana seorang fakir, hingga Allah melimpahi anugerah-anugerah
ruhaniyah. Firman Allah: "Sesungguhnya sedekah itu hanya bagi orang-orang
yang fakir dan miskinÂ…..". Maka dari itu fakir dan miskinlah secara benar,
agar meraih kekayaan ruhaniyah yang melimpah.
Wacana hikmah di atas diteruskan oleh Ibnu Athaillah as-Sakandari:
"Orang-orang yang masih berjalan kepada-Nya, mencari petunjuk dari Cahaya
Tawajjuh (Cahaya yang menunjukkan jalan kepada-Nya). Sedangkan orang-orang
yang sampai kepada-Nya, meraih Cahaya Muwajahah (Cahaya Ilahiyah itu sendiri
melimpah kepada-Nya, di balik penyatuan dirinya dengan Diri-Nya). Kelompok
pertama ingin meraih cahaya, sementara yang kedua, justru cahaya itu
melimpah kepadanya. Karena yang kedua hanyalah bagi Allah, bukan bagi selain
Dirinya. Katakanlah, Allah. Lalu tinggalkanlah mereka, di mana mereka berada
dalam permainan selain Allah."
Cahaya Tawajjuh adalah Cahaya Mujahadah (yaitu cahaya yang ditempuh dengan
segala perjuangan jiwa), sedangkan Cahaya Muwajahah adalah Cahaya Musyahadah
dan Mukamalah.
Cahaya Tawajjuh adalah cahaya Syari'ah dan Thariqah, atau Cahaya Lahir dan
Cahaya Batin, sementara Cahaya Muwajahah adalah Cahaya Haqiqah.
Karakter Cahaya ini sesungghuhnya bisa kita rasakan, di mana sebenarnya
posisi pencahayaan itu pada kita. Sesungguhnya Ibnu Athaillah mengingatkan
agar kita tidak berhenti pada cahaya demi cahaya itu. Tetapi tetap menuju
Yang Maha Empunya Cahaya, hingga Cahaya bukannya kita cari, malah Cahaya itu
"mencari" kita.
Cahaya Tawajjuh misalnya, mendorong seseorang untuk meraih kepuasan cahaya
Islam dan Iman saja, pertama-tama ia meraih cahaya manisnya amaliyah zhahir,
yaitu maqam Islam. Lalu ia meraih petunjuk dari ibadah lahiriyah itu sampai
ia fana, hingga meraih kenikmatan amaliyah zhahiriyah.
Kemudian ia meningkat lagi pada Cahaya Iman, yaitu Cahaya Batin, atau Cahaya
Thariqah. Ia meraih petunjuk cahaya manisnya amaliyah batin, seperti ikhlas,
kejujuran hati dan ketentraman, lalu ia meraih petunjuk dari konsistensi
amaliyah batinnya sampai ia fana' di dalamnya dan merasakan kenikmatannya,
hingga ia terus dalam fokus kepada Allah. Cahaya batiniyah itu tentu lebih
agung ketimbang cahaya lahiriyah di atas. Lalu ia menempuh Cahaya Musyahadah
dengan kenikmatan fana' dalam Musyahadah itu, yaitu Amaliyah Ruhiyah. Cahaya
Musyahadah inilah awal munculnya Cahaya Muwajahah, hingga seseorang memetik
kemabukan ruhani, kedahsyatan dan pesona cinta yang agung. Ketika ia sadar
dari kemabukan spiritual itu, dan tetap dalam tamakkun (tahap tidak
berubah), maka hamba berada dalam ma'rifatullah. Ia kembali pada Kebaqa'an
Allah. Ia senantiasa hanya bagi Allah (Lillah) dan Bersama Allah (Billah).
Ia telah benar-benar menjadi hamba Allah yang merdeka.[]
[Non-text portions of this message have been removed]
-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
-----------------------------------------------***
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/