saran dari mas judith... terima kasih...

---------- Forwarded message ----------
From: Judith Tomasowa <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Sep 30, 2006 11:03 AM
Subject: Re: Saran [Sarikata.com] (CurHat) Situasi Merenggut Keperkasaanku
To: Ananto Pratikno <[EMAIL PROTECTED]>

Salam Mas Juwarno,

Geli juga mendengar cerita Anda,.. Aneh tapi nyata, dan menyebalkan bukan?

Well,.... saya melihat istri anda dasarnya sangat baik,.. bukan karena cinta
kepada Anda. Namun,.. CINTA KEPADA AGAMANYA.

Nah,.. jika ingin merubah,.. maka yang harus dirubah adalah cara pandangnya
dalam Agama tentang SEX. Bahwa SEX bukan hal yang KOTOR, sehingga harus
segera mandi stelah berhubungan intim.....

Istri anda telah mendapatkan pemahaman sex dalam agama yang keliru.
Seharusnya,.. sex after menikah adalah HALAL, namun amat disayangkan
pengajaran AGAMA yang diajarkan oleh mertua anda, dan guru agamanya,.....
SALAH.

Jadi,......Anda harus melakukan pendekatan ke mertua anda, dan berkonsultasi
dengan GURU Agama terdekat dari keluarga mertua anda.

Jika setelah berhub intim, dia langsung mandi,.. tanpa berdiskusi after
intimate,... menurut saya,.. saat itu dia menganggap Anda sebagai siapa? Tak
beda dengan penjahat, atau pelaku "gila". Namun, di lain hal,... dia sudah
terdokrininasi tentang "istri tunduk terhadap suami" yang tidak wajar,
sebagai korban salah ajar oleh guru agama dan keluarganya.

Salah ajar tersebut, membuahkan "JIWANYA MATI", tidak berekspresi layaknya
istri terhadap suaminya,.. berekasi layaknya MANUSIA NORMAL. Hal ini sangat
berbahaya bagi kelangsungan pernikahan yang "sakinah" bukan?

Nah,.. coba utarakan hal tersebut ke guru agama keluarga mertua anda,.. atau
mungkin ke saudara istri
anda..............................................................

untuk menCoba, ciptkan kondisi "Win-Win",... Anda sebagai suami bisa
mendapatkan istri yang bereaksi layaknya sept manusia,.. dan istri anda yang
bisa tetap memegang teguh nilai-nilai agama,....YANG TERWADAHKAN DALAM
KELUARGA SAKINAH LAHIR DAN BATIN..............(FOR REAL)

Jika usaha tersebut tidak membuahkan hasil,.. coba anda berdua berkonsultasi
dengan psikiater pernikahan. Mungkin,... Istri anda mempunyai trauma,...
atau gangguan psikologis terhadap "Intimate"............................

Semoga saran ini dapat membantu Anda. Maaf jika ada kata-kata yang kurang
berkenan.

Salam,

JM Tomasowa



*Ananto Pratikno <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:

Situasi Merenggut Keperkasaanku



Aku lahir dari keluarga yang terpandang di sekitar Pekalongan. Mungkin
karena dalam keluarga kami, agama mendapat prioritas nomor satu. Seluruh
keluarga nyaris menjadi pemuka agama. Dari kakek sampai ayah. Dan itu juga
menurun pada keluarga kami, kakak selalu di pesantren, juga dua adikku. Aku
pun mengecap pesantren, lalu ke IAIN. Lepas dari IAIN aku menjadi pegawai
negeri di kota ini.



Kisahku bukan tentang itu. Ini tentang rumah tanggaku. Karena sibuk di
pesantren dan kuliah, aku tak sempat pacaran. Bukan tak ingin, tapi tak
sempat. Beberapa temen perempuan aku kenal, tapi tak ada yang lebih dari
sekadar teman. Dan ketika tamat, kerja dua tahun, keluarga kemudian
memilihkanku istri. Ibu yang membicarakan pertama kali. Ayah yang promosi.
Anak dari keluarga baik-baik, alim, berpendiikan, cantik, dan yang utama,
lulusan pesantren dari Jawa Timur. Semula aku menolak. Tapi karena malas
bertengkar, aku setuju. Ayah meminang, dan aku melihat calon istriku itu.
Dia memang alim. Dari pakaiannya saja aku sudah tahu dia pasti sangat
menjaga auratnya. Jujur saja, aku suka. Pikiranku sederhana, kalau aku punya
anak, setidaknya anak-anak mendapatkan ibu yang sangat mengerti agama dan
bisa membimbing mereka ketika aku sibuk. Cinta? Ah, itu kan bisa datang.
Lagipula, kalau hati sudah "sreg", cinta pasti akan datang. Begitulah.



Dan memang itulah yang terjadi. Aku menikah. Dia istri yang taat, sangat
taat pada suami dan agama. Taat sekali. Aku demikan takjub padanya. Bahkan,
dialah yang menjadi "imam" agama di keluarga. Anak-anak lahir, dan kini aku
telah mendapatkan dua anak manis-manis dari dia. Dia di rumah saja, menjaga
anak-anak, dan mengajar ngaji anak tetangga. Kami cukup bahagia. Tapi bukan
itu masalahnya.



Sejak awal pernikahan, ada sedikit yang tidak aku pahami dari istriku ini.
Semula aku pikir dia akan berubah, pelan-pelan akan lebih "kompromi" dengan
keadaan itu. Nyatanya tidak. Keadaan yang aku maksud adalah masalah tempat
tidur. Sedari awal, kuakui, dia sama seperti aku, sangat tidak paham soal
seks. Kami mengikuti insting saja. Tentu, maksud aku soal teknik ya? Dan
bukan itu yang aku masalahkan. Problemnya adalah begitu selesai bercumbu,
belum ada satu menit, istriku akan bangkit, dan seperti berlari, dia ke
kamar mandi. Bersih-bersih itu mencakup mandi dan menggosok gigi. Semula aku
kira karena dia belum biasa. Belum beradaftasi. Biarlah. Padahal, subuh
sebelum salat juga bisa. Tapi aku diamkan.



Nyatanya, sampai beberapa bulan kemudian, hal itu tidak berubah. Dia tetap
bergegas, bersih-bersih. Kecibang-kecibung menumpahkan gayung ke tubuhnya.
Sering aku tertawa. Geli. Kok sedemikiannya. Tapi hal itu belum jadi
gangguan. Jadi, jangan bayangkan ada percakapan pasca-orgasme. Cumbu kecil
setelah intim. Baru saja aku mencapai, tubuhku sudah tergelusur dia dorong,
dan dia pergi meninggalkan aku yang belum sepenuhnya "menjejak" bumi. Ini
nyata. Pernah aku tanya, "kenapa harus terburu-buru?" Dia menjawab, takut
kelupaan dan tertidur dalam keadaan kotor. Aku tertawa. Tertawa di beberapa
bulan pertama. Kemudian aku mulai dongkol. Pelan-pelan aku ajak bicara,
bahwa bercakap-cakap setelah intim itu penting. Dia bantah, "sesudah mandi
juga bisa.." Ya memang bisa, tapi kan suasananya sudah beda. Duh! Jadi, aku
malah nyaris tak bisa bertanya apakah dia puas dan mendapatkan orgasme atau
tidak. Dia tak pernah menjawab, dan hanya berkata, "Mas seneng aku juga
seneng..." Aduh. Dan, ini juga, aku seperti merasakan istriku sangat menahan
diri untuk tidak mengeluarkan suara apa pun. Jangankan merintih, dia malah
menggigit bibir dan tidak merespon apa pun. Sungguh. Jangan bayangkan ada
gaya, posisi yang berubah. Dari awal sampai sekarang ya itu-itu saja, satu
gaya, satu cara. Hahaha.. geli mengingatnya.



Sungguh, aku tidak memasalahkan hal itu sampai setahun. Kemudian dia hamil,
anak lahir. Aku yakin dia akan berubah. Nyatanya, tidak. Dan aku mulai
menjelaskan hal itu. Tapi tetap tidak bisa. Aku pun sebel, dan tidak
memintanya untuk bermesraan. Kukira dia akan bertanya. Nyatanya, sampai 3
bulan tidak aku sentuh, ya tidak ada perubahan apa pun. Tidak ada pertanyaan
apa pun. Biasa saja. Seperti tidak ada apa-apa. Pernah aku tanya, iseng
saja, apakah dia ikhlas menjadi istriku, dan cinta, dia mengangguk. Aku
senang. Dia memang tak punya cela sebagai istri, kecuali soal komunikasi
seksual kami.



Pelan-pelan, aku tempuh cara lain. Aku belikan beberapa buku seks dan aku
minta dia baca-baca jika sempat. Jawabnya, membaca buku agama lebih
bermanfaat daripada membaca hal semacam itu. Bener sih, tapi.... Aku mulai
jengkel. Pernah aku habis kesabaran, dan menahan dia untuk tidak
"bersih-bersih" setelah intim. Tapi kami malah bertengkar, dan percakapan
untuk soal itu jadi tidak pernah terjadi. Aku akhirnya cuek. Anak kedua
lahir, dan dia tetap saja tidak berubah. Ya sudahlah. Nah, masalah tidak
berhenti sampai di situ. Beberapa bulan ini, aku kehilangan gairah. Kalaupun
ada, langsung padam ketika akan memulai. Aku sampai panik sendiri. Rasanya
tidak ada yang salah. tekanan darah oke, tubuh oke, semua oke. Dan yang
aneh, doronganku sangat kuat, dan langsung padam begitu akan memulai. Aku
sampai merasa malu. Ke dokter, memang tidak ada yang salah. Katanya situasi
rumah yang membuat gairahku padam. Aku diminta mengomunikasikan. Tapi
bagiamana caranya? Kini, telah 5 bulan lebih aku berpuasa. Karena tiap kali
gairah datang, dan bersiap, langsung padam karena bayangan ketaknyamanan
yang akan aku hadapi. Entah bagaimana aku keluar dari masalah ini. Bagi yang
mengetahui cara untuk memperbaiki keadaanku, saran dan bantuan, tolonglah
berikan. Hanya Allah yang membalas kebaikan semua saudara-saudara....



(Cerita Juwarno melalui *e-mail* )


[Non-text portions of this message have been removed]




-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com <http://sarikata.com/> :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com <http://sarikata.com/> di dunia maya
ini.

-----------------------------------------------***


Yahoo! Groups Links











 ------------------------------
How low will we go? Check out Yahoo! Messenger�s low PC-to-Phone call rates.
<http://us.rd.yahoo.com/mail_us/taglines/postman8/*http://us.rd.yahoo.com/evt=39663/*http://voice.yahoo.com>


[Non-text portions of this message have been removed]




-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 


Kirim email ke