Ibu, Maafkanlah Anakkmu....


SAMPAI kini, kenangan terakhir yang selalu terbayang di mataku adalah
bagaimana aku melukai ibu dengan keputusanku. Dalam marah dan kecewa, aku
membentaknya, "Aku bisa hidup tanpa ibu..." Kini dua tahun sudah, dan tidak
sepejaman mata pun bayangan itu pergi. Bayangkan yang membuat penyesalah
seumur hidupku, membuat tangisku selalu tumpah, tak pernah berhenti...



Sore itu, dua tahun lalu, rumahku tegang. Mas dan Mbakku tak ada yang
bersuara. Ibu tetap pada keputusannya. "Ibu tidak mengizinkan kamu. Ibu
tidak bisa bermenantukan dia. Dia tidak satu iman dengan kita, Ratih..." Aku
tahu ibu sedih dengan keputusan itu. Tapi aku juga kecewa, ibu tidak mau
mendengar penjelasanku. Bahwa Bram mau menanggalkan agamanya, bahwa dia akan
mengikuti agamaku. Tapi tidak sekarang... Dia tidak ingin pindah agama
karena pernikahan. Dan ibu tidak mengerti, ibu tidak mau paham. "Ibu tidak
bisa, Rat. Ibu ingin kamu bahagia, kalian sudah berbeda, tidak akan bisa.
Kamu ingin ibu mati tidak tenang dengan keputusan kamu!" Kami bertengkar.
Bram yang kubiarkan di teras rumah, duduk memunggungi kami. Masku, Johar,
mencoba menengahi. Ia ingin kami saling tenang, dan tidak memutuskan
sekarang. Tapi ibu tidak peduli. "Sampai kapanpun ibu tidak setuju. Titik!
Kamu boleh pilih dia atau ibu!"



Mungkin saat itu aku terlalu emosi. Kuingat, dengan berteriak aku mengatakan
akan memilih Bram. Aku katakan ibu salah, ibu tidak melihat dengan hati.
Kukatakan bahwa aku akan pergi, dan hidup tanpa ibu.." Dan aku memang pergi.



Aku ikuti Bram ke Surabaya, ke keluarganya. Dan di sana, aku diterima dengan
sangat-sangat baik. Bram kemudian belajar agamaku, atas izin orang tuanya.
Dan tiga bulan kemudian, atau lebih, aku memutuskan menikah. Kucoba menelpon
rumah ibu, meminta restu, tapi tak ada telepon yang mengangkat. Kuhubungi
kakakku, tak juga diangkat. Nomor ponselnya tak nyala. Mungkin sudah ganti.
Aku menikah sendiri, tanpa keluarga. Aku berbagi tangis dan bahagia.



Bram pilihan yang tidak salah. Dia tekun belajar agama, dan menjadi suami
yang demikian baik. Pelan tapi pasti, kami tata rumah tangga. Bram selalu
mengingatkan aku untuk menghubungi ibu, dan kuangguki. Meski, selalu ada
rasa takut jika aku akan menelpon. Betapa aku takut ibu masih tetap tak
merestui kami. Mertuakulah yang selalu menyabarkan. Ibu mertua percaya,
kalau aku memberikan cucu, ibu akan menerimaku.



Dan aku hamil.

Niatku satu, akan aku berikan cucu itu untuk ibu. Akan aku hadirkan cucu ini
untuk memberitahu ibu bahwa aku tidak salah pilih, bahwa aku tidak pernah
melupakannya. Kujaga kehamilanku. Dan tak pernah aku lupa berdoa, agar
selalu mendapat kekuatan untuk hidup jauh dari keluarga. Dan sejauh itu, tak
ada yang menelponku. Hubunganku seperti putus.



Dan tengah tahun lalu, bayiku lahir. Perempuan. Kuberikan nama ibu di bagian
akhirnya. Aku begitu menangis saat dia lahir. Aku begitu rindu ibu. Aku
begitu ingin bersama ibu di saat itu. Tapi Mas Bram berkali-kali menggeleng,
tidak ada yang mengangkat telepon. Dan aku menangis. Sudah sebenci itukah
ibu padaku.



Tiga bulan sesudah persalinanku, dengan mendesak Mas Bram dan didampingi
mertua, aku ke Semarang. Sepanjang Rembang, airmataku sudah tumpah terus. Di
mataku terbayang ibu yang pasti sangat terluka. Terbayang bagaimana
tangisnya, terbayang betapa aku sangat-sangat kehilangan dia dua tahun ini.
Airmataku tumpah terus, sampai ibu mertuaku ikut menangis. Saat itu aku
benar-benar merasa telah menjadi anak yang durhaka. Saat itu aku merasa
benar-benar tidak bisa menjelaskan kepada ibu mengapa aku yakin pada Mas
Bram. Saat itu dadaku rasanya ingin meledak.



Begitu memasuki Semarang, airmataku tumpah terus. Bayiku sampai harus
dipegang ibu mertua, karena tak bisa lagi aku sesenggukan sambil
menggendongnya. Mas Bram merangkul aku terus. "Sudahlah, ibu pasti memaafkan
kita..."



Begitu memasuki jalan ke rumahku, tenggorokanku terkunci. Dan ketika sampai
di depan rumah, aku menangis sampai ingusku berleleran. Rumahku, rumahku,
betapa tidak terurusnya, betapa kumuhnya. Kuketok pintu, kuteriakkan, "Ibu..
Ibu... Ini Ratih..." tak ada sahutan. Kugedor pintu, kugedor.. "Ibu.. Ibu...
Ini Ratih..." Teriakku dalam tangis.



Tak ada sahutan. Senyap.

Kegaduhan yang kutimbulkan membuat tetangga sebelah rumah keluar, Mbak
Ranti. "Oalah... *kowe* toh, Rat..." Dan dia memelukku, menangis
bersamaku... "Ratih, Ratih... nasibmu Nak.. Ibumu sudah tidak ada," katanya.
Kemana? Kemana, Ibu? Kemana? Dan aku langsung gelap ketika Mbak Ranti
memberitahu ibu telah berpulang...



Ketika tersadar, aku sudah di rumah Mbak Ranti. Kulihat suamiku menangis,
juga mertuaku. Aku sendiri tak kuingat, apakah meraung atau menjerit-jerit.
Aku pingsan lagi.



Setelah tenang, tengah malam, baru aku tahu kisahnya. Ibu berpulang karena
sakit, tiga bulan setelah aku pergi. Kata Mbak Ranti, ibu sangat berharap
aku pulang, sangat ingin aku bersama dia. Ibu minta maaf... Tapi Masku tidak
bisa menemukanku. Mbakku apalagi, tidak bisa melacak jejakku di Surabaya.
Kata Mbak Ranti, mereka pasang iklan di Surabaya, dan aku tetap tidak
datang. Ibu berpikir, aku tidak mau lagi bertemu dia, melupakan dia. Ibu
berpulang dalam rindu...

Keesokan harinya, aku berangkat ke Solo. Di kuburan keluarga, aku menangis
sejadi-jadinya. Bude yang tahu kedatanganku menyusul, merangkuliku.. Kupeluk
makan ibu, seperti pernah aku peluk tubuhnya. Kumintaakan maafku.. Ya Tuhan,
kenapa aku harus dicoba dengan hal ini...

Melalui Budhe, kucoba menghubungi Mbakku di Jakarta, Masku di Salatiga,
mereka tidak mau menerima teleponku. Mereka merasa tidak memiliki adik lagi.
Aku menangis. Hanya Budhe yang mau memelukku, hanya Budhe yang mau
memahamiku... Tiga hari di Solo, tiap hari di makam ibu, aku pulang ke
Surabaya.


Kuceritakan ini biar seluruh keluargaku tahu, Mas dan Mbakku tahu, aku tidak
seburuk yang mereka kira. Aku tidak pernah melupakan ibu, tidak pernah
mencoba menyakitinya. Aku cuma ingin membuktikan pilihanku tepat.


(Kiriman dari Ratih di Surabaya)


[Non-text portions of this message have been removed]




-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 



Kirim email ke