Rahasia dan Cinta Mengimpitku


Tak pernah kuduga, rahasia yang kusimpan sedemikian rapatnya, kini menagihku
untuk membukanya. Sebelumnya, aku seperti yakin akan dapat menyimpan rahasia
ini sebagai bagian dari "kekayaan" keluarga. Tapi kini, aku harus
membukanya. Dan semua karena seorang lelaki, yang entah kenapa, begitu
sangat aku cinta. Ya, demi cinta.



Rahasia itu telah berumur 6 tahun. Dan selama enam tahun ini, dia tetap
menjadi rahasia. Tak pernah terusik dalam percakapan di keluarga kami. Semua
seperti telah melupakannya, dan menganggap seolah hal itu tak pernah ada.
Meski "buah rahasia" itu setiap saat bersama kami, tertawa, bercanda, dan
memanggilku Mbak.



Ya, kisah pedih ini terjadi saat aku berusia sangat muda, 21 tahun. Mulai
kuliah di universitas terkenal di kota S, satu jam dari Semarang. Singkat
saja, aku tertarik dan jatuh cinta dengan kakak kelas. Dia tidak tampan,
tapi sangat aktif di kampus. Berbicara dan berjalan dengannya, bagi aku yang
begitu muda dan gampang terpesona, sangat membanggakan. Aku bahkan merasa
dapat mengangkat bahu kalau melihat pandangan iri dari teman-teman
seangkatan karena kedekatanku dengannya. Dan cintaku tak bertepuk sebelah
tangan. Dia pun sangat mencintaiku. Kami berpacaran.



Singkat saja, pacaran kami begitu menggelora. Dan akibatnya, semester 3 itu
aku hamil. Untung aku cepat tanggap, dan mengetahui kehamilan itu secara
dini. Aku panik. Apalagi Thomas yang kuberiahu, langsung seperti orang
bingung. Kehilangan kemampuan untuk menenangkanku. Dia minta waktu seminggu
untuk berpikir, dan tak ingin diganggu. Maka, di kampus, aku dan dia hanya
bertemu waktu makan. Dia sibuk sekali. Tiap kutanya, katanya mengerjakan
tugas kuliah yang vital sebelum dia akan menikah. Aku tersenyum senang.
Seminggu kemudian dia pamit ke Surabaya, ke rumah orang tuanya. Katanya
ingin bercerita tentang keadaanku, dan agar orang tuaku siap datang ke
kotaku untuk membicarakan lebih jauh tentang hubungan kami. Aku senang dan
percaya. Seminggu, tak ada kabarnya. Segera aku hubungi dirinya. Di
rumahnya, melalui orang tuanya, aku hanya mendapat kabar, Thomas meminta
dipindahkan kuliah ke Singapura. Menurut orang tuanya, Thomas punya masalah
dengan beberapa mahasiswa dari daerah timur Indonesia, dan merasa
keselamtannya terancam. Orangtuanya mengizinkan pergi. Apalagi, "Thomas
sudah mengurus semua surat yang diperlukan dari kampusnya." Oalah.. jadi
seminggu kesibukannya itu untuk mengurus surat pindah kuliah. Aku tertipu!



Panik tentu saja melandaku. Menangis. Hanya itu yang aku bisa. Tapi, untuk
menggugurkan kandungan, tak terpikirkan olehku. Atau mungkin karena aku
sangat muda saat itu. Akhirnya, aku bicara dengan papaku. Sambil menangis,
aku katakan semuanya. Papa marah. Dia memaksaku menunjukkan alamat Thomas.
Tapi aku menggeleng. Aku sudah tak berniat lagi menikah dengan lelaki yang
ternyata bajingan itu. Papa panik. Beliau takut aku tak siap dengan
keadaanku. Akhirnya, setelah konsultasi ke Romo kami, papa memutuskan agar
aku cuti kuliah sampai melahirkan. Aku setuju. Dan sangat berterimakasih
atas semua "permakluman" Papa. Setelah kesepatakan itu terjadi, barulah kami
bioara dengan Mama, yang hanya bisa memekin dan memelukku.



Aku mengambil cuti setahun. Sama temen sekampus, aku bilang akan ke
Singapura juga, menyusul Thomas. Mereka meledekku sebagai perempuan kuno
yang mengejar lelaki. Aku tertawa. Hatiku menangis. Dan lalu kujalani
hari-hariku di rumah, lalu ketika kandunganku mulai agak kelihatan, aku
diungsikan papa ke rumah kakakku tertua, di Yogya. Kakakku inilah yang
nantinya akan merawat dan menjaga anakku setelah aku lahirkan. Dan benar,
aku melahirkan dengan normal, bayiku putih seperti Thomas, perempuan. Dia
cantik. Matanya bulat dan liar, seperti mencari-cari suara ayahnya. Papa pun
sangat menyenanginya, karena itu cucu pertamnya, meski cucu yang tidak
diharapkan datang dengan cara demikian. Aku menyusui, menjaga, dan
merawatnya sampai berusia 5 bulan, sambil terus berupaya menguruskan
badanku, sehingga tak tampak perubahan yang berlebihan saat aku kembali ke
kampus. Tepat enam bulan, aku pun meninggalkan Tiara pada kakakku, yang
kemudian menjaganya. Aku kuliah, dan tak ada yang tahu tentang keadaanku
itu.



Kuliah kukebut, karena aku ingin segera kelar. Tiap minggu aku pasti ke
Yogya untuk melihat Tiara. Hanya ketika KKN dan skripsi sebulan tak kutemui
anakku. Tapi, seiring kian besar dia, kian ditegaskan kakakku kalau Tiara
boleh memanggilku Mbak. Aku begitu dekat dengannya, dan memang tampaknya
Tiara pun sangat nyaman bersamaku. Usia 4 tahun, dia kuajak ke kotaku,
apalagi kakakku juga sudah punya bayi mungil sendiri. Di kotaku semua
tetangga mengira itu anak kakakku yang akan sekolah dan ikut eyangnya.
Apalagi Tiara selalu memanggilku Mbak. Rahasiaku aman.



Aku bekerja pada "perusahan" ayah, Resto yang cukup besar. Di situ aku bebas
bersama Tiara, bekerja sambil bermain. Di lantai dua, Papa bahkan membuatkan
ruang khusus jika Tiara ingin bobok siang. Atau aku kecapaian mengurus tiara
dan kerja.



Lalu datanglah kebahagiaann baru itu. Kebahagiaan atau entah apa. Aku kenal
dengan seorang lelaki di gereja, orang Manado. Putih, baik, dan sudah
bekerja. Perkenalan itu "luar biasa", karena hanya bicara dua tiga kali,
lelaki itu sudah dengan enteng mengutarakan keinginannya untuk berhubungan
serius denganku. Aku cerita sama papa dan mama, dan mereka mendukung. Bagi
papa dan mama, lelaki semacam itu sangat patut dihargai. Cuma mama
mengingatkan "statusku" dan harus menimbang agar aku tak kecewa.



Pada Verry aku meminta untuk menjalani hubungan kami dengan santai saja,
meski serius. Penjajakan. Dan kian hari aku memang harus akui, bertambah
suka denngan lelaki yang tak tampan ini. Dia matang. Mungkin karena usianya
yang sudah kepala tiga itu. Atau karena kerjanya yang acap berhubungan
dengan orang banyak. entahlah. Yang aku tahu, aku suka dia, suka, suka,
suka, suka banged! Dan ketika dia bertanya, apakah ada harapan dia akan
menjadi suamiku, aku ceritakan hal yang sedikit aku simpan. Dengan agak
takut, aku katakan padanya, bahwa aku sudah tidak lagi perawan. Reaksinya
tak kuduga, dia tertawa dan mengelus kepalaku. Dia menganggap itu tidak
penting. Bagi dia, semua orang punya masa lalu. Dan keperawanan adalah masa
laluku yang, katanya, tidak mengejutkannya, tidak membuatnya merasakan apa
pun. "Kalau aku jadi pacar pertama kamu, malah kamu sudah aku hamili,"
katanya sambil tertawa. Deg! Aku jadi tidak berani bercerita tentang hal
itu.



Verry juga dekat dengan Tiara. Dan dia senang karena kami punya kesukaan
yang sama pada anak kecil. Ia tambah cinta dan serius. Kepada papa
kuceritakan apa yang telah akukatakan. Aku tak berani mengakui kalau Tiara
adalah anakku. Aku takut Verry tidak siap dengan kenyataan itu. Tidak
perawan dan memiliki anak, kurasa akan jauh berbeda. Apalagi, dia sangat
dekat dengan tiara, dan selama ini telah mengira itu adalah anak kakakku.



Aku dilema. Papa-mama angkat tangan. Mereka serahkan semuanya padaku. Tapi,
aku tak tahu harus bagaimana. Verry mendesak terus untuk segera memiantaku
pada orang tuanya, dan aku larang. Tapi sampai kapan? Apalagi, awal tahun
ini, Verry sudah menjanjikan akan menikahiku. Karena akhir tahun, orang
tuanya akan datang dari Manado, untuk membicarakan hal itu. Aku panik.
Haruskah aku katakan semuanya? Atau menyimpan saja rahasia itu? Tapi, sampai
kapan? Padahal, aku sangat ingin Tiara itu menjadi anakku, dan tahu bahwa
dia memang anakku. Aku tak tahu harus bagaimana. Cintaku pada keduanya,
menyanderaku pada ketakutan untuk kehilangan mereka.



(Sebagaimana cerita Dora kepada Redaksi)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke