Perjalanan IV [11] hari-hari terus kulalui.....
detik demi detik, saat adanya kehidupan terus kujalani, apakah aku sudah mencapai tujuan, he...he..he... "seperti pungguk merindukan bulan", sungguh.... kalau Imam Ghozali menceritakan ada tujuh tanjakan yang mesti dilalui, ada tujuh gunung mesti di daki, ada tujuh lembah yang mesti diterjuni, dan ada tujuh samudra yang mesti diarungi, maka, ibarat melangkah, mungkin baru satu atau dua langkah kujalani, atau bahkan mungkin aku masih jalan di tempat, atau bahkan aku belum melangkah sama sekali, hanya seolah-olah sudah melangkah, Aku jadi ingat cerita Syeh Fariduddin al Aththar, di dalam kitab beliau "Musyawarah Burung" ketika beribu-ribu burung mulai terbang mencari Simurgh, mencari Raja diraja segala Burung, Masih berlipat-lipat banyaknya yang tidak mau berangkat, dengan berbagai alasannya yang sangat-sangat masuk akal, dengan berbagai alasannya yang dikuatkan dalil-dalil, Sampai satu ketika, lewatlah mereka yang terbang di gunung yang pertama, Sebagian mati terhempas, sebagian mati kepayahan, sebagian mati terkena angin, sebagian mati terbakar. Hanya tinggal separo yang masih meneruskan perjalanannya, Perjalanan dilanjutkan, Beribu burung terus terbang menuju satu tujuan, sampailah mereka di gunung yang kedua, sebagian mati terhempas, sebagian mati terkena badai, sebagian mati terpanggang, sebagian mati kepayahan, Hanya tinggal setengah yang masih eneruskan perjalanan, Perjalanan dilanjutkan, sampailah di gunung ketiga, kejadian sama berulang, sampailah di gunung keempat, kejadian sama berulang, sampailah di gunung ke lima, kejadian sama berulang, sampailah di gunung ke enam, kejadian sama berulang, dan akhirnya..... sampailah melewati gunung yang ketujuh, Maka tinggallah 30 burung yang tersisa, dari jutaan burung menjadi tinggal ribuan, dari ribuan menjadi tinggal ratusan, dan kini tinggal 30 burung yang sampai di tempat yang di tuju. Tapi ...dimanakah Simurgh, Raja diraja yang dijanjikan, Dalam kelelahan yang luar biasa, Kepenatan yang luar biasa, Kecapaian yang luar biasa, terdengarlah suara, "Wahai para pejalan, tidak ada SImurgh di sini" "Tidak ada Raja segala raja di sini", "Yang engkau cari tidak ada", Maka berbaliklah sebagian besar dari burung-burung itu dengan wajah keputus asaan, Mereka terbang pulang dengan kekecewaan dan keputusasaan yang mendalam. Hanya sebagian kecil saja yang masih tetap berada di situ. terdengarlah lagi suara "Apa lagi yang engkau cari ?" "Lihatlah dirimu sendiri", Maka burung yang masih tinggal di situ, menatap sayu, melihat ke dalam diri masing-masing, maka tampaklah sudah wajah Simurgh yang dicarinya, "Man arofa nafsahu, faqod arofa robbahu", Duh,....... bagaimanakah nasibku nanti ??? sampai dimanakah bisa kutempuh perjalanan ini ???? Aku terdiam merenung, dan kesedihan serasa hampir membawaku ke dalam lembah keputusasaan. "perjalanan sedemikian jauh, sedangkan bekal masih terbatas, tanjakan-tanjakan sedemikian banyak, sedang ilmuku masih terbatas, jebakan dan tipuan sedemikian banyak, sedangkan aku tidak tahu, mana itu tipuan dan mana itu jebakan", Ooh...bagaimana aku bisa selamat ?? tiba-tiba terdengar suara, "Beruntunglah engkau......yang sudah mau memulai untuk berjalan menujuKU" "Seandainya engkau merangkak kepadaKU, AKU akan berjalan menujumu, Seandainya engkau berjalan menujuKU, AKU akan berlari menujumu, Seandainya engkau berlari mendekatiku, AKU akan terbang menghampirimu, Sesungguhnya AKU bersama orang-orang yang SABAR" "Dan ketika engkau mencintaiKU, maka ketika engkau berbicara, AKUlah yang menjadi lidahmu, Ketika engkau berjalan, AKUlah yang menjadi kakimu, ketika melempar, AKUlah yang menjadi tanganmu" bersambung... [Non-text portions of this message have been removed]
