---------- Forwarded message ---------- From: Heri Hendrayana H (Golagong) <[EMAIL PROTECTED]> Date: 2006 Des 4 01:48 Subject: RE: [penulis-bacaan-anak] [Inspirasi] Anakmu Bukanlah Anakmu To: [EMAIL PROTECTED]
GOLA GONG POLIGAMI KOMUNITAS BACA Aa Gym menikah lagi. Tidak apa. Itu kan hak dia. Soal pro-kontra, itu resiko yang harus dia hadapi. Saya setuju dengan apa yang diucapkan Aa Gym di koran-koran, "Kenapa yang poligami dicerca, tapi yang punya teman mesum tidak dicerca?" Saya juga sebetulnya ingin sekali berpoligami. Wanita-wanita yang datang ke Rumah Dunia itu cantik-cantik. Muda-muda. Tapi, Tias masih lebih cantik dari mereka. Terutama hatinya. Pernah saya ingin menikah lagi, sama Winona Ryder. Tapi, ternyat saya nggak sanggup bersaing dengan Johny Depp. Pernah juga saya naksir sama Mayangsari, lagi-lagi saya kalah bersaing. BT terlalu berat bagi saya. Diam-diam, sebetulnya saya jatuh cinta sama Dian Sastro. Yang ini lebih parah. Cintaku bertepuk sebelah tangan. Saya nggak sanggup menyaingi kecerdasannya. Dian terlalu cerdas bagi saya. Pernah saya mengutarakan keinginan berpoligami. Kata Tias, kalau Papah mau beristri lagi, boleh-boleh saja. Tapi, Mamah yang milihin. Lalu Tias mengajukan janda-janda korban perang di Poso. Waduh, ogah saya. Akhirnya, Tias memberikan jalan keluar. Daripada punya istri 2, 3, atau 4, yang nanti bakal pusing ngatur waktu, pikiran, enerji, dan materi, mendingan punya komunitas baca dua, tiga, atau empat. Wah, boleh juga. Akhirnya, setelah dipikirkan matang-matang, karena proses regenerasi di Rumah Dunia berhasil, saya dan istri mengungsi ke Perumahan Citra gading, sekitar 3 kilometer sebelah selatan Rumah Dunia. Tepatnya di arah jalan raya Cipocok Jaya menuju Petir. Di sana banyak perumahan baru. Ada Puri Seragn Hijau, RSS Cilaku, dan bahkan Pusat Pemprov Banten di Curug. Nah, baca saja jurnal RUMAH BUKU CINTRA GADING di bawah ini. Jurnal ini akan terus muncul di BANTEN RYA POS, setiap Senin. Ini adalah jurnal pertama. Doakan saya, Tias, Bella, Abi, Odi, Kaka selalu dalam kesehatan. Selalalu dalam perlindungan Allah. Amin. Insya Allah. Tetap semangat. Gola Gong www.golagong.com www.rumahdunia.net [Jurnal #1] RUMAH BUKU CITRA GADING: MEMULAI LAGI DARI NOL Oleh Gola Gong Jika mendapatkan kenikmatan, maka bersyukurlah. Ketika mendapat musibah, itu ujian dari Allah dan bersabarlah. Itulah yang membuat kami ingin memaknai hidup ini. Selama di Rumah Dunia, kami banyak mendapatkan kenikmatan. Kegiatan-kegiatan sejak 2001 hingga kini lancar. Para donatur silih berganti berinfak-sodaqoh; uang atau pun buku. Para relawan dan media partner seperti Radar Banten, Banten Raya Post, Suhud Media Promo, Indo.Pos, Top FM, Dimensi FM, dan Harmony FM membesarkan Rumah Dunia. Juga dukungan dan doa orang tua, masyarakat Hegar Alam, serta kampung Ciloang, Rumah Dunia menggelinding mengajak kawula muda Banten menuju generasi baru yang cerdas, kritis, dan bernurani. Dengan sastra dan jurnalistik, mereka menjadi lembut dan kritis menyikapi persoalan. Dengan teater, musik, rupa, mereka bergembira menghargai perbedaan dalam hidup ini. PINDAH - NOL . Dengan buku, kami mencoba membacai sekeliling. Seperti kata para cagub Banten dalam visi-misinya, Banten tetinggal karena kebodohan dan kemiskinan. Maka kami ingin berbagi waktu dan pikiran memerangi kebodohan. Kami memiliki banyak buku untuk memerangi kebodohan. Embay Mulya Syarif, tokoh masyarakat Banten, mengirimi kami SMS, bahwa jihad membangun Banten bisa lewat politik, ekonomi, budaya dan seni. Maka setelah proses regenerasi di Rumah Dunia lancar, kami pindah ke Komplek Citra Gading, Cipocok, menuju arah ke Curug, Petir, 3 kilometer sebelah selatan Rumah Dunia. Tidak begitu jauh. Kini Rumah Dunia diurus presidennya; Firman Venayaksa (dosen Sastra Untirta) dan para mentrinya; Piter, Ibnu, Bahroji, Rizal, Roni, Deden, Qopal, Awi, dan Roy. Kami memulai lagi dari nol; mengontrak rumah di Komplek Citra Gading, di depan mesjid Jami Baitul Muslimin, persis di jalan utama. Rumah milik Erni dan Dodi, di Blok G1/9, tipe 36, dua kamar, dan 1 kamar mandi. Terasa sesak bagi keempat anak kami. Berbeda saat mereka berpetualang di Rumah Dunia yang luas. Tapi kami mensyukuri nikmat ini, karena banyak orang tidak memiliki tempat bernaung. TERAS - DONGENG Di depan rumah ada teras; sisi kiri untuk garasi, dan sisi kananya seluas 2,5 X 3 m., oleh Mang Maryani, arsitek Rumah Dunia, disulapnya jadi ruang baca. Kami beri atap dan kerey. Kami simpan kursi bambu, beberapa kursi anak dari kayu jati pemberian Ny. Djoko Munandar, 2 rak buku anak-anak sumbangan Zulkiflimansyah (cagub PKS/PSI) dan persediaan Rumah Dunia, serta dari perpustakaan pribadi. Kami menggoreskan kwas di triplek kecil: Rumah Buku Citra Gading. Warnanya kuning dengan lis hitam. Lalu kami mengabari lewat SMS ke Sudiyati (Kepala perpusda) Yaya Suhendar (Akuisisi dan Program Perpusda), Wan Anwar (Kajur Diksastrasia Untirta), Rahmiana Batubara (Kepala Sekolah SD Peradaban), dan Irham (Pusat Konservasi Kawasan Lindung). Anwar beranalogi, "Gola Gong ini bukan pendukung poligami. Jadi, konpensasi dia membuat komunitas baca kedua, ketiga, dan seterusnya." Anwar juga memberi masukan tentang TPA dan Diniyah (sekolah agama) di mesjid Jami Baitul Muslimin di depan rumah kami. "Sebaiknya 'Rumah Buku Citra Gading' menyesuaikan dengan TPA dan Diniyah. Kalau perlu bekerja sama." Sedangkan Yaya Suhendar berjanji akan mengirimkan bantuan buku dari hasil rekor MURI Banten Membaca. Kami belum seratus persen tinggal di Rumah Buku Citra Gading. Kami harus mengurusi bayak hal dengan para relawan di Rumah Dunia. Juga memberesi rumah kami yang beralih fungsi jadi kantor "Jendral Kecil", "Gong Media Cakrawala", dan mess para relawan, serta rumah Emak-Bapak di areal Rumah Dunia, yang dijadikan ruang-ruang kelas "Jendral Kecil" dengan konsep multiple intelligence. Selain itu, tentu kami harus berpamitan dengan warga Hegar Alam dan Ciloang, yang selama ini membantu dan mendukung kami selama ini. Tapi, sejak akhir November "Rumah Buku Citra Gading" sudah kami titipkan kepada tetangga; Ading (pegawai Setda Provinsi Banten) dan istrinya, serta keluarga Sihombing, yang membuka bengkel motor di pertigaan Cipocok-Sempu. Sejak itu anak-anak sudah banyak berdatangan ke "Rumah Buku Citra Gading". Menurut Bu Ading, mereka senang. Begitu juga Bu Osta dan Bu Budi. "Anak-anak kami ingin ada kegiatan seperti di Rumah Dunia," kata Bu Osta, yang pernah ke Rumah Dunia. Tias – istriku, Bella, Abi, Jordi, dan Kaka, juga ikut senang. Kamis siang itu (30/11), baru saja kami tiba, muncul serombongan anak-anak usia Sekolah Dasar menguluk salam. Ternyata mereka ingin berkunjung. Mereka mengatakan, sudah seminggu ini saat kami masih di Rumah Dunia, sering datang. Ada rasa bahagia yang menggelegak melihat mereka memilih-memilih buku yang kebanyakan berbahasa Inggris. Tias tergerak melakukan sesuatu untuk mereka. Ini seperti deja vu, saat kami merintis Rumah Dunia pada akhir 2001-an. Hal paling awal kami lakukan adalah mendongeng; membacakan buku. Saat Tias menanyakan, apakah mereka mau mendengarkan dongeng, mereka langsung mengiyakan. Tias mengambil buku cerita *pop up* (ilustrasi buku dibuat terlipat ke depan saat kita buka tiap halamannya, seolah tiga dimensi), berjudul *Push in Boots*, salah satu cerita favoritnya. Tias menghabiskan buku itu, lalu memberi *review* di akhir cerita dengan menanyakan kembali jalan cerita tiap halamannya, disambut dengan antusiasme anak-anak. Usai acara baca buku, Tias meminta mereka maju ke depan, saling mengenalkan diri. Sama seperti anak-anak umumnya, mereka saling tunjuk teman untuk maju lebih dulu. Tapi ada pula yang dengan percaya diri berbicara di depan teman-temannya. Siang itu kami mengantongi nama-nama: Dikit dan Salman (klas 5 SDN Cilaku), Andri (SMPN 4 Serang), Faris, Faisal, dan Adam (klas 6 SDN Cipocok Jaya 1). Mereka sangat gembira bisa membaca buku dan mendengarkan dongeng. Bahkan beberapa anak lainnya yang sekolah di SDN 4 Cipocok Jaya, menganggap Rumah Dunia pindah ke Citra Gading. Senin, 4 Desember 2006, Insya Allah kami ke Pak RT; melapor secara resmi, menjadi warga Citra Gading dan bersiap menggulirkan kegiatan di Rumah Buku. Kami akan memulai seperti halnya ketika kami merintis Rumah Dunia; bermula dari yang kecil, berwawasan luas, dan terus berkarya. Kami tahu, anak-anak di sini dari segi intelektual sudah di aras rata-rata warga Ciloang. Dari segi sosial-ekonomi, di sini relatif lebih mapan. Semoga ini mempermudah dalam menyebarkan virus "pena adalah senjata tajam untuk melawan kebatilan" kepada anak-anak Citra Gading. Dakwan bil qalam menjadi semangat kami. Memperkenalkan mana yang baik mana yang buruk, mana yang hak mana yang batil sejak dini pada anak-anak sangatlah baik. Doakan saja, ya! *** Citra Gading, 2 Desember 2006 *) Jangan lupa, setiap Senin di BANTEN RAYA POST. Tunggu jurnal kedua Senin depan. Ada apa di Rumah Buku CITRA GADING -----Original Message----- *From:* [EMAIL PROTECTED] [mailto:penulis- [EMAIL PROTECTED] *On Behalf Of *Nursalam AR *Sent:* Saturday, December 02, 2006 1:50 PM *To:* [EMAIL PROTECTED] *Cc:* [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; [EMAIL PROTECTED]; FLP PUSAT; [EMAIL PROTECTED] *Subject:* [penulis-bacaan-anak] [Inspirasi] Anakmu Bukanlah Anakmu *Anakmu Bukanlah Anakmu* *Oleh Nursalam AR* Sabtu sore. Hipermarket waralaba Perancis ini luarbiasa padat. Akhir pekan seperti sekarang ini pengunjungnya memang berlimpah. Apalagi hipermarket ini terletak di jalan protokol ibukota. Alhasil, bila troli saling beradu atau mendadak terseruduk ibu-ibu yang terburu-buru memanggil *partner *belanjanya, itu hal biasa. Atau bahkan mendadak seorang anak menubruk kita dengan es krim yang lantas membasahi baju kita. Salah satu teman saya pernah mengalaminya. Untungnya saya tidak. Setidaknya sampai saat ini. Di deretan *stand *buah segar hanya ada seorang ibu dan anak laki-laki keriting. Lucu wajahnya. Persis di belakangnya, tengah melihat-lihat buah kurma, ada pria keriting. Tapi tidak lucu wajahnya. Itulah saya. "Kurang ajar!"Mendadak si ibu menyalak. Berderet-deret nama binatang keluar dari mulutnya. Mulai dari yang berkaki empat hingga sang uwak manusia versi Darwin. Lengkap.Apa dakwaan si anak yang tampak mengkeret dengan wajah pasi itu? Ia rupanya tak sengaja menyenggol tumpukan apel impor hingga berjatuhan. Orang-orang menonton dengan berbagai ekspresi. Lebih banyak yang tampak kasihan. Petugas hipermarket lekas membereskan. Singkat saja untuk membereskan tumpukan apel yang jatuh. Namun rasanya tak sebentar untuk mengobati luka hati bocah usia dua tahunan itu. Sepertinya demikian bagiku yang orang luar. Wajah anak itu meringis dengan linang air mata di pipi putih montoknya. Ia menunduk. Kakinya yang bersepatu mungil menggosok-gosok lantai. Mungkin ia tengah minta bantuan pada peri tanah. Anak tirinyakah ia? Sudut batinku bertanya. Teringat stereotipe anak tiri *a la* Ary Anggara dan di sinetron-sinetron kiwari. Tapi, ah, tidak. Wajah anak itu mirip sekali ibunya. Drama ibu-anak itu berakhir dengan si ibu menggeret si anak berjalan sambil terus menyumpah-nyumpah tak jelas. Si anak melangkah terseret-seret bak anak kambing dipaksa masuk kandang. Anehnya, tangisnya tak bersuara. Hanya deras airmata yang kian menganaksungai. *Ah, **malang** nian dikau bocah keriting! Maaf, sebagai sesama keriting, 'ku tak kuasa membantumu. Moga Tuhan melindungimu*. *Shopping * sendirian berlanjut. Maklum, baru dapat transfer honor terjemahan yang lumayan besar. Namun kenangan tentang si anak juga berlanjut. Tidakkah si ibu tahu bahwa anak bukanlah hak milik atau investasi yang leluasa diperlakukan seenak hati? Ia adalah amanah Tuhan. Seperti kata Khalil Gibran,"anakmu bukanlah anakmu. Ia adalah milik kehidupan."Dalam sebuah riwayat, Nabi Muhammad SAW pernah menegur seorang ibu yang memarahi anaknya dengan kasar karena mengencingi baju sang Nabi. Sang Nabi yang lembut hati pun menegurnya dengan bijak,"Noda di bajuku ini dapat segera hilang tapi tidak demikian dengan luka hati anakmu." Di kesempatan lain Umar Ibnu Khattab bertanya keheranan ketika seorang sahabatnya merasa lebih "jantan" daripada sang khalifah—yang dikenal berperawakan besar dan jago perang--karena tak pernah mencium anaknya. "Bagaimana mungkin kau ini dapat dikatakan beriman? Bukankah Allah sendiri mencintai kelembutan? Aku sendiri mencium anak-anakku. Rasulullah pun amat menyayangi anak-anak dan cucunya. Bahkan ia rela memanjangkan rukuknya tatkala sang cucu bermain-main di punggungnya." "Anak adalah amanah bagi kedua orang tuanya. Hatinya yang suci adalah permata yang sangat mahal harganya. Jika dibiasakan pada kejahatan dan dibiarkan lepas seperti hewan, ia akan celaka dan binasa. Sedang memeliharanya adalah dengan upaya pendidikan dan pengajaran akhlak yang baik," demikian tulis Imam Ghazali dalam kitab *masterpiece-*nya, *Ihya' Ulumuddin*. Seorang sahabat zaman kuliahku terkekeh mendengar ceritaku via telepon. Ia juga baru punya anak usia beberapa pekan. "Kok ketawa?" tanyaku heran. Agak tersinggung juga. "Ente mah kalo teori jago, *Akhi*. Prakteknya dong. Makanya nikah!" ujarnya dengan tawa kian keras. Aku terdiam. Benar sekali. Untuk mencontohkan mendidik anak yang baik harus nikah dahulu. Karena ternyata anak itu tidak datang dibawa burung berparuh panjang dan diletakkan di tempat tidur orang yang menginginkannya seperti dalam mitologi dan dongeng kuno Eropa. *Jakarta**, 2 Desember 2006* [Non-text portions of this message have been removed] -----------------------------------------------*** Donasi Dana untuk Sarikata.com : No Rek : 145-118-2990 Atas Nama : Yudhi Aprianto BCA KCP : Gatot Subroto Jkt Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini. -----------------------------------------------*** Yahoo! Groups Links <*> To visit your group on the web, go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/ <*> Your email settings: Individual Email | Traditional <*> To change settings online go to: http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join (Yahoo! ID required) <*> To change settings via email: mailto:[EMAIL PROTECTED] mailto:[EMAIL PROTECTED] <*> To unsubscribe from this group, send an email to: [EMAIL PROTECTED] <*> Your use of Yahoo! Groups is subject to: http://docs.yahoo.com/info/terms/
