HADIAH dari SEMESTA by ADJIE

 

Masih ingat rasanya ketika akan mendapat hadiah ? Jantung berdetak lebih 
kencang, nafas kadang ikut memburu dan ada hangat merayap sekujur tubuh ? 
Wuihhh.  Untuk yang sudah memiliki anak, Anda mungkin bisa dengan mudah ikut 
merasakan betapa senangnya mereka ketika mendapat hadiah.

Nah, terkait dengan kisah seputar hadiah, belum lama ini aku mendapat 
pencerahan baru. Kejadiannya saat aku berkesempatan menjadi fasilitator pada 
sebuah pelatihan bagi  karyawan di salah satu perusahaan tambang ternama.  

Memanfaatkan pelatihan berbasis alam terbuka, program berlangsung selama lima 
hari lima malam. Lima malam yang seru dan heboh, karena kami semua tidur dalam 
tenda, di tengah hujan yang tak bosan terus mengguyur. Makin  heboh, karena 
tempat yang basah dan lembab menjadi  surga dan kerajaan banyak pacet (lintah) !

Berkegiatan di alam  terbuka seperti itu, kami merancang  aktivitas-aktivitas  
yang semuanya diarahkan untuk membantu peserta sampai pada sebuah kesadaran dan 
pemahaman tertentu. Salah satu projek yang harus diselesaikan peserta adalah 
membuat bivak (bivoac) alam. Semacam selter tempat berteduh,  dari hujan mau 
pun dingin malam. Uniknya, mereka harus menggunakan semua bahan alam, tak boleh 
menggunakan tali plastik dan perlengkapan lainnya. 

Yang menarik adalah ketika ada satu kelompok --- dari keseluruhan tiga 
kelompok ---- yang tampak sangat tak antusias dalam menyelesaikan tugas.  Saat 
kelompok lain bersibuk dengan sungguh-sungguh mencari kayu, daun pisang dan 
lainnya, anggota kelompok ini tampak santai saja. 

Awalnya aku tak melihat langsung kejadiannya. Untung seorang kawan fasilitator 
mengingatkanku. Saat aku mendekati  area kerja kelompok tersebut, aku mendengar 
celetukan ringan anggota kelompok itu, yang mungkin sengaja ditujukan 
padaku : " Ahhh, hadiahnya cuma buku ini. Nggak apa-apa lah, kalau  hanya 
buku ". Peserta ini tampaknya mengomentari hadiah berupa buku yang kami 
sediakan untuk sejumlah aktivitas. 


Aku tersenyum mendengar itu. Namun, jujur saja emosiku kala itu sedikit 
terpancing. " Gile juga kawan satu ini. Rupanya ia menganggap enteng, lalu 
menggadaikan kinerjanya hanya karena ia tahu hadiah yang akan diterima adalah 
buku. Hanya sebuah buku ", begitu ekspresi emosi ku mewujud dalam kepala. " 
Hmmm, lihat saja nanti. Gue kerjain kawan ini. Ia harus mendapat hukuman", aku 
mengancam  dalam hati. 

Tentu saja, hasil kerja kelompok ini kacau, parah sekali. Atap bivak itu  tak 
rapat. Dahan, ranting dan daun penutupnya tidak kokoh, sehingga hujan akan 
dengan mudah menembus ke bagian dalam. Dari sisi fungsi, bivak karya mereka tak 
masuk hitungan, jauh dari spesifikasi yang diharapkan.

Aku menduga ada dinamika lain yang membuat hasil akhir kelompok mereka menjadi 
sedemikian. Namun, komentar peserta tentang hadiah di atas begitu menancap 
dalam benak ku.  Aku berencana membahas kejadian ini pada sesi malam hari. " 
Pasti menarik diskusi malam nanti dan ehmmm.........., sekaligus memberi 
pelajaran pada semua. Hehehehe.................", begitu pikiran nakalku hari 
itu.

Singkat cerita, pada malam hari saat diskusi pembahasan,  aku membuat  
kejutan.  Bukan buku yang aku berikan sebagai hadiah kepada kelompok dengan 
bivak terbaik. Buku justru aku berikan pada juara ke dua. Kepada yang terbaik 
kali itu, aku siapkan voucher senilai ratusan ribu rupiah. Terus terang ini 
adalah voucher dari kantong pribadi. Sekedar agar pesan pembelajarannya menjadi 
lebih mendalam, memperkaya apa yang sudah kami diskusikan. 

Belajar dari kejadian tersebut, aku diingatkan tentang betapa rapuhnya kita. 
Sikap dan pernyataan peserta di atas menyediakan gambar teramat jelas.  Mereka 
dengan mudah cepat sekali lupa,  ketika pada aktivitas sebelumnya mereka 
bahkan 'memaksa' panitia untuk memberi mereka hadiah buku. Beberapa dari 
anggota kelompok mereka demikian ngotot ingin mendapat hadiah, bahkan pada 
aktivitas yang tidak dilombakan !

Aku juga belajar, bahwa kita bisa sedemikian mudah membohongi diri sendiri. 
Saat di mabuk kemenangan, kita ngotot menuntut hadiah. Lalu saat kalah, kita 
bersembunyi dibalik banyak alasan dan dengan mudah meremehkan hadiah yang sama.


Pelajaran penting lainnya adalah betapa sebuah hadiah (reward apa pun 
bentuknya) sering kali dapat dengan mudah kehilangan nilai intrinsiknya (nilai 
sejatinya). Ini seakan berlaku juga  pada gaji atau upah yang kita terima saat 
bekerja. Awalnya kita demikian ingin mendapat gaji dengan besaran tertentu. 
Ketika itu terpenuhi, mungkin di bulan-bulan awal ada kebanggaan dan kepuasan 
tersendiri mendapatkan gaji sebesar yang kita inginkan. Namun, itu tak bertahan 
lama. Beberapa  bulan kemudian nilai intrinsik gaji itu akan dengan cepat turun 
drastis.  Besarnya tetap sama, namun kepuasan, kebanggaan kita tak akan sebesar 
semula, di masa awal kita menerimanya. Itu lah wajah kita.

Lalu bagaimana untuk keluar dari lingkaran ironi semacam ini ? Mungkin  kita 
tak harus menyama-artikan uang dengan kebanggaan atau harga diri. Jadi tak 
perlu hancur harga diri ketika uang tak kita dapat sebanyak yang kita mau. 
Terhadap kinerja, mungkin ada baiknya kita berpikir dan menciptakan hadiah 
(reward) lain untuk kinerja terbaik kita. Dan hadiah (reward) tersebut tidak 
harus  berupa materi. Pasti ada yang jauh lebih besar yang layak kita nikmati 
dari sekedar iming-iming materi. Buatku,  itu bernama `sense of achievement', 
kepuasan sudah berkarya.

Aku lalu teringat potongan kalimat banyak tokoh panutan  yang pernah berujar 
sebagai berikut : `' Jadikan apa yang kita buat sebagai wujud pelayanan kita 
pada semesta. Tak akan ada yang tersia-sia dan terlupa. Setiap pelayanan kita 
suatu saat pasti akan kembali pada kita, bahkan dalam besaran dan jumlah yang 
jauh lebih besar dari yang kita berikan. Seperti gema yang jauh lebih nyaring 
dari  teriakan kecil kita "
 

Mengaitkan karya, kinerja dan pelayanan dengan konsep uang, maka menarik 
meresapi pernyataan  seorang Deepak Chopra  : " Money is life energy  that we 
exchange and use as a result of the service we provide to universe" Uang semata 
adalah energi kehidupan yang kita dapat sebagai hasil atas pelayanan yang kita 
persembahkan pada semesta.  Kata kuncinya adalah pelayanan pada semesta !

Kirim email ke