Pengorbanan Siti Hajar


Kita hampir melupakan dan mengingat perjuangan, ketokohan, jasa serta peran 
Siti Hajar, ibunda Nabi Isma'il atau Sarah, ibunda Nabi Ishaq as. 


Meninggalkan Arafah

Pelaksanaan wukuf di Arofah telah usai. Sebelum meniggalkan Arafah kami sholat 
maghrib sekaligus men-jama isya. Kami, rombongan haji dari UK siap-siap 
meninggalkan Arafah menuju Mudzalifah untuk memungut kerikil dan mabit disana. 


Riuhnya suara klakson, periwitan dari para lasykar (polisi) serta desingan 
suara mesin menimbulkan kesan akan kacaunya pertrafikan di kawasan Arofah. 
Petang itu semua menuju Mudzalifah.

Dengan pelan dan sabar akhirnya kami terlepas dari jebakan kemacetan. Sang bis 
melaju, meluncur dijalanan aspal ke tempat tujuan. Celakanya sopir yang tidak 
tahu jalan sempat tersasar hingga kami sempat berada di atas sebuah bukit. Kami 
berhenti disana. Ibu Wardah bertengkar dengan sang sopir (tentu saja kami tak 
paham karena mereka berbahsa Arab). Kami keluar dari bis. 


Nampaklah suatu pemandangan yang sangat spektakular. Dikejauhan sana, sejauh 
mata memandang tampak gerombolan manusia berselimutkan kain putih tengah 
berbondong bondong, menuju kesuatu tempat.


Mereka tak ubahnya seperti gerombolan burung-burung penguin yang sedang 
bermigrasi. Semua berjalan menuju kesatu tempat suci Mudzalifah dan Mina, 
tempat suci untuk melengkapi pelaksanakan ibadah ritual haji. Sungguh luar 
biasa.


Semua predikat, status, warna kulit, posisi, kedudukan, jabatan, tingkatan 
kelas, presiden dan pembantu, semua lengser, turun dari sang pundak, semua 
setara. Sama. Dimata Allah semua sama. Semua jama'ah mengenakan alas kaki 
berupa sandal atau sandal jepit. Sepatu bermerek keren seperti Bally, Gucci, 
Escada atau Clark tak nampak. Kain Ihram tak berjahit, melilit ditubuh mereka 
adalah simbol kesetaraan. Hanya ketaqwaanlah yang membedakan dimata Allah.


Naluri Tauhidku, pengakuan akan kebesaran serta ke-Esaan Tuhanku kian merasuk 
kedalam dada, sangat dalam. Aku mulai mengenal Tuhanku, aku menemukan cintaNya 
kembali. Itukah yang namnya hidayah? Oh, aku tak tahu. Aku ..seperti manusia 
yang terlahir baru. Namun belum cukup karena perjuangan lainnya masih menunggu 
yang, belum kami lakukan yakni untuk mengenyahkan karat dan kedegilan hati 
lewat jumarah nanti yang bisa saja membaur disela sela relung qalbu.


Mabit di Mudzalifah
Kami diminta kembali masuk kedalam bis. Perjalanan dilanjutkan. Akhirnya kami 
tiba di Mudzalifah. Usai mengisi kantong kecil dengan batu-batu kerikil untuk 
melempar jumrah barulah gabung kembali dengan rombongan. Kami mabit (bermalam, 
berada ditempat), di Mudzalifah, sebagai salah satu syarat ibadah haji.


Kami duduk lesehan atau tiduran diatas tikar beratapkan langit. Nampak kerlip 
bintang dari kejauhan, bergantungan dilangit nan kelam, seakan tengah 
menyaksikan perjalanan ritual haji kami. Sesekali kami memejamkan mata untuk 
sekedar res sambil bergumam melafadzkan dzikirullah. Yang pasti semalaman kami 
tidak tidur. Beberapa teman lebih banyak berbincang masalah pengalaman selama 
berhaji, sambil memainkan butir-butir tasbih. Mereka mengobrol hal-hal yang 
ringan sambil ditemani minum teh. 


Malampun kian larut. Jam telah menunjukan lewat dinihari. Udara dingin mulai 
menyelimut tubuh-tubuh kami yang masih mengenakan seragam haji yakni pakaian 
ihram, yang lecek dan kumal berwarna krem karena debu-debu yang melekat serta 
sengatan matahari Arafah. Sa'at subuh tiba, kami sholat berjama'ah untuk 
kemudian melanjutkan perjalanan menuju Mina.


Mina
adalah adalah tempat suci untuk pelemparan jumrah, merupakan salah satu ritual 
ibadah untuk kelengkapan rukun ibadah haji, juga tempat pemotongan hewan 
qurban. Di Mina aku tidak melihat yang lain kecuali ribuan kerucut berwarna 
putih, adalah kota perkemahan yang dipenuhi oleh tenda-tenda perkemahan bagi 
jama'ah haji yang mulai memadati kota Mina sejak tanggal 8 Dzulhijjah. Lalu 
pada hari tasyrik untuk melakukan lempar jumrah Aqabah, Ula dan Wusta. Mina, 
sebagai tempat suci, merupakan lokasi Haram yang konon tak boleh dihuni oleh 
siapapun atau memiliki apapun dikota ini. 


Kami terpaksa berjalan melewati kepadatan jama'ah haji yang juga duduk lesehan 
ditrotoar atau dijalanan. Dengan susah payah akhirnya kami temui lokasi kemah 
untuk rombongan kami. Tenda kami berada di bukit hingga kami harus mendaki sang 
bukit. Begitu kami tiba diatas kami bisa menyaksikan keindahan pemandangan 
Mina. 


Entahlah..kesanku, yang nampak dikasat mata, seakan yang kusaksikan adalah 
sebuah kemisikinan (poverty). Semua manusia duduk terhampar dimana-mana, 
tergeletak bak gelandangan, tuna wisma, homeless dengan pakaian yang lusuh, 
dekil, kumal dan wajah mereka nampak lelah. Akupun tak bisa membedakan mana 
yang kaya dan yang miskin. Kecuali, mungkin, simampu duduk ditenda ber-AC. 


Akhirnya kami masuk ketenda kami, duduk dilantai beralaskan hambal (rug tebal) 
sambil terus mengipas sang kipas kewajah kami. Maklum panas sekali. Penganan 
kecil serta minuman siap terhidang.


Lempar Jumrah
Waktupun tiba untuk melempar. Kami dibagi bagi menjadi beberapa kelompok. 
Setiap kelompok memiliki amier atau kepala rombongan. Beberapa tip dan trik 
diberikan kepada kami, bagaimana melempar jumrah yang tepat dan aman sampai 
kepada pesan-pesan untuk tidak memungut sesuatu dari tanah atau berjongkok. 
Pesan penting lainnya dan sangat wanti-wanti adalah kalau tersasar atau 
kehilangan teman untuk tetap tenang, jangan panik dan mencoba membaca Al-quran. 
'Uhhh..' hatiku kecut juga rasanya. 'Iiih..bagaimana kalau aku hilang, 
bagaimana kalau rombongan meninggalkan aku...bagaimana kalau?' dan seterusnya.


Rasa takut mulai menggorogoti benakku. Ada sebersit ragu melilit di kalbu. 
Betapa tidak karena aku tak ditemani oleh mahram entah itu suami, abang atau 
adik lelaki. Pasrah dan berserah diri adalah satu satunya pilihan, percaya akan 
kehendak dan kebesaran Allah, apapun yang terjadi pada diriku tentu atas 
kehendakNya. Sambil aku bersikeras 'Tidak... aku harus melakukannya, aku harus 
bisa dan mampu dan aku tidak akan mewakilkan jumrah ini kepada siapapun ...' 
bisikku' ' Inilah jihadku, inilah perjuanganku '.


Setiap kelompok memegang kayu panjang, semisal tongkat dengan beberapa carik 
kain sebagai tanda kelompak agar kami mudah mencirikan atau mencarinya. 'Ayo 
ibu-ibu dan bapak-bapak kita mulai maju, ingat ya pesan kami, dan kami menunggu 
disini, jangan jauh-jauh dari tiang ini, kita bergantian ya..' ujar sang amier. 
Kamipun mulai maju, bergerak, mendekat ke arah kerumunan tugu Aqabah sebagai 
jumrah pertama kami.


Lautan manusia. Oh, lautan manusia yang membahana. datang dari berbagai arah 
dan jurusan. Mereka yang berdua, berempat, berombongan dengan tanda dan simbol 
macam-macam sebagai tanda pengenal. Kepulan debu nampak berterbangan, segera 
kukenakan masker kehidungku. 'Menakutkan...' hatiku berbisik. Begitu penuh 
sesak, padat dan memang kelihatannya cukup mengerikan. 


Tugu Aqabah kian mendekat, tampak kerumunan manusia tambah membesar dan padat. 
'Dari mana kita memulainya, mana garis start dan finishnya? aku mulai bergumam 
sendiri. 'Lah kok tidak ada sebuah cara atau sistem agar yang akan memulai dan 
selesai melempar ada jalur sendiri-sendiri, sehingga kita tidak mesti 
bertabrakan. Oopps, tiba tiba masa kian membludak, bertambah, penuh dan padat. 


Ada yang hendak keluar dari melempar sedang aku dan temanku hendak masuk menuju 
kearah tugu. Aku terjepit, aku dihimpit. Keras sekali. Aku mulai menguatkan 
lengan dan siku untuk menahan. Oh, Allah, lindungi aku, lindungi kami, aku 
terus berdoa. Temanku hilang, terlepas, dipisahkan oleh luapan manusia. Aku tak 
mampu mencarinya. Aku membawa diri. Aku harus berjuang sendiri. 


Disinilah, disaat melempar inilah baru kita sadar bahwa kemandirian diperlukan. 
Jihad fisik dibutuhkan. Kita harus survive, berupaya untuk tidak mengandalkan 
dan pertolongan orang lain. Kita mencari jalan dan menyelamatkan diri.


Akhirnya aku sampai ketempat tujuan. Kulemparkan sikerikil denga bacaan yang 
sudah ditentukan. 'Fokusku ke arah tugu, tentu. Tapi sampaikah ke sasaran, 
mengenakah sikerikil ke tugu ? Ah, aku tak tak tahu?! Aku tak yakin, lalu 
kulempar lagi kerikil yang lain. Oops..sepertinya mengena. Hebat. Hei syoitan, 
kena looh, rasa-in loh...sepertinya aku mampu memporak porandakan kalian, hei 
syaiton? Aku bersorak-sorai sendirian. 


Kulempar lagi yang kedua, lalu ketiga...Aaah aku hampir menghantam seseorang 
yang berada di balakangku. 'Maaf buuu!' kataku penuh sesal. Mungkin ayunan 
tanganku kebelakang terlalu keras sehingga menyenggol si ibu. Tiga, empat, 
lima...ah meleset, kulempar lagi satu batu sebagai batu serepku, yeep 
sepertinya kena..kenaa...kini ke-enam dan tinggal satu lagi ke tujuh. Satu lagi 
ya Allah kenakan pada si tugu, enyahkan syaiton dari sanubariku...tiba tiba 
sebuah tangan keras menyentak keningku..keras sekali. Si bapak Afrika, hitam 
legam, besar dan tinggi menoleh, sorry ya ukhti ! ujarnya. Aku tersenyum pahit, 
lumayan sakit. 'Mbok jangan keliwat semangat lah ooom..! aku menggurutu. 
Kulempar sibatu terakhir. Selesailah tugasku. .Aku berbalik hendak keluar.


Dengan penuh perjuangan, aku berusaha untuk keluar.Terpaksa kuregangkan pundak 
dan kedua lenganku untuk menahan himpitan yang datang dari berbagai arah. 
Seakan aku berada di lautan Hinda terhempas oleh arus keras gerombolan jama'ah 
yang berbondong menuju tugu. Kuterus dan terus menyelak diantara mereka. Aku 
ingat Tuhanku, aku ingat anak dan suamiku..Allah kalau aku mati terjepit, kalau 
aku mati terinjak, syahidkan aku, syahidkan aku ya Allah...' begitu aku berdoa 
sambil terus berusaha keras melepaskan diri dari jebakan dan himpitan manusia. 
Akhirnya aku berhasil keluar dari jeratan mereka.Legalah, ooohh lega sekali, 
walau mataku agak berkunang akibat perjuangan keras tadi. 


Aku segara lari kekanan, mendekat kedinding besar. Aku berupaya menjauh dari 
gerombolan manusia sambil menyaksikan ribuan manusia dengan berbagai ulah dan 
tingkahnya. Aku terperangah, aku terkagum kagum sendiri. Disitulah nampak 
kemanusiawian sang jama' ah haji yang bernama manusia, semua ditunjukan oleh 
Allah rasa egoisme, rasa tak peduli, nafsi-nafsi mereka. Kuusap wajahku sebagai 
tanda syukur bahwa aku selamat dan berada didekat tembok.


Tak lama bermunculan teman dari rombongan kami, masing-masing dengan beragam 
pengalaman. Ada teman yang hilang sandalnya, ada yang berdarah pelipisnya, 
alamak, kasihan si anak muda yang malang nasibnya, tentu seseorang yang 
melempar yang salah sasaran. Ada pula teman yang kakinya terinjak. Setelah 
semua jama'ah hadir dan kumpul kami meninggalkan tempat pelemparan jumrah.


Kami segera bergegas, keluar dari kepadatan jama'ah, untuk mencari bis atau 
atau angkot/opelet. Kami sepakat untuk melakukan tawaf Ifadha/tawaf haji pada 
hari itu juga agar segera tuntas jadi kami bisa istirahat. 


Lengkingan suara calo angkot atau opelett terdengar gaduh dengan teriakan: ' 
Makkah..Makkah..Makkah..' atau 'Haraam..haraaam !' menawarkan jualannya. Tentu 
saja mereka menawarkan dengan harga yang cukup melangit. Mereka tahu betapa 
kita memerlukan transport untuk ke Mekkah. Tiba-tiba sebuah bis berAC miliknya 
panitia Haji berhenti ditempat kami berdiri. Pintu otomat terbuka..atas 
intruksi sang amier kamipun segera manaiki bis.


Setelah bis penuh oleh penumpang, dengan susah payah majulah sang bis, 
bergerak, mencoba meninggalkan Mina menuju Mekkah. Aku duduk dekat jendela 
sehingga aku bisa menyaksikan pemandangan yang begitu riuh dengan suara klakson 
dan teriakan para kenek serta para pejalan kaki. Akhirnya sang bisa mampu 
melepaskan diri dari jeratan kemacetan. 


Wajah kami semua kusam dan kucel. Lelah. Penat. Dalam kepenatan aku pulas 
tertidur oleh sejuknya sang AC menerpa wajah dan dahiku. Dibenakku masih 
terekam akan upaya dan perjuangan melempar jumrah. 


Tawaf Ifadho di Masjidil Haram

Aku..yang pulas tertidur dibangunkan oleh temanku bahwa kita sudah sampai di 
Mekkah. Bis berhenti disalah satu pintu gerbang Masjidil Haram. Pelataran 
masjid nampak sedikit lengang. Kami menuju tempat air zam-zam, lalu membanjur 
kepala kami sepuasnya baru minum untuk menghilangkan dahaga diiringi doa lalu 
melakukan wudhu. Alhamudlillah, terasa segar.


Mulailah kami bertawaf dari sudut Ka'bah antara Hajar Aswad dan pintu Mu'tazam, 
yang ditandai dengan garis coklat, lampu berwarna hijau ada diatas sebelah 
kanan kami. Kami membalikan badan agak kekiri, menghadap sudut Ka'bah, 
mengangkat kedua tangan seolah mengecup dan mencium sang Hajar Aswad, ' 
Bismillahi Wa Allahu Akbar...!' Kami maju. Bergerak. Terdorong arus dari 
belakang. Melaju terus. 


Tak sedetikpun kami mampu berhenti karena dorongan arus manusia, lalu kearah 
maqom Ibrahim, adalah satu tempat atau spot yang selalu padat oleh kerumunan 
manusia. Setiap kita mencari barokah, juga mereka. Tapi seringnya salah paham. 
Mereka fikir dengan menyentuh dinding sang maqom akan terampuni semua dosa dan 
kesalahannya. Maka tak ayal polisi tak hentinya menghardik para jama'ah yang 
berlama-lama menyentuh maqom Nabi Ibrahim (telapak kaki Nabi Ibrahim), untuk 
segera meninggalkan tempat..


Arus jamaah melaju terus ke sudut dua Hijir Ismail. Sesekali kupandang sang 
kubus hitam dengan penuh mesra. Jantungku berdegup, ada sebuah klik diqalbu, 
sebuah kemistri yang hadir secara spontan. Bukan, bukan aku cinta pada sikubus 
hitam, bukan pula aku penyembah Ka'bah. Entah, sukar aku menggambarkan asa ini, 
tapi aku tahu ia hanyalah sebuah simbol keseragaman arah untuk menyembah Rabb 
kita.


Kami terus melaju, bergerak, lalu mendekat ke rukun atau sudut Yamani. Jama'ah 
lelaki biasanya berlari-lari kecil antara rukun Yamani dan kesudut sudut si 
Batu Hitam, mulailah kami berdoa: 'Robbana 'athina fi dunniya Khasanah wa fil 
akhirati khasanah waqiina azabanaar' sambil terus berjalan hingga sampai ke 
sudut Hajar Aswad. Kami berada kembali pada sudut Ka'bah bergaris coklat 
sebagai tempat memulai tawaf selanjutnya...dan seterusnya hingga putaran 
ketujuh selesai.


Usai tawaf kami sholat sunnah dua rakaat dikawasan atau sejajar dengan pintu 
Mu'tazam. Disitulah, di pintu Mu'tazam, sebagai salah satu tempat dan saat yang 
paling makbul untuk memohon kepada Allah agar semua sholat, ibadah dan kerja 
ma'ruf dan amal kami, serta permohonan ampunan kami, diterima oleh Allah swt. 
Kuucap kembali testimoniku, kesaksianku akan Allah Rabbku dan Muhammad adalah 
Rasulku. Kutengadah kelangit, kuhadapkan wajahku kepintu Mu'tazam, Ka'bah, lalu 
kuusap wajahku dengan segala kepasrahan total, penyerahan utuh, kaffah tanpak 
kompromi.


Rasa lega menggelayut dibenak kami setelah melakukan tawaf haji ini. Kami 
mundur kebelakang untuk duduk sesaat ditangga masjid. Tak lama teriakan 
pengusung jenazah datang, meminta jalanan untuk meletakkan sang jenazah yang 
bertutupkan kain hijau. Mereka lewat didepan kami. 'Inna lillahi wa ina ilaihi 
Roji'un' dan seterusnya. Kami semua mengucap lafadz pada saat kami menyaksikan 
usungan mayat, yang seakan pemandangan keseharian di Masjidil Haram.


'Subhanallah, beruntungnya mereka yang meninggal ditanah Haram, disholatkan dan 
didoakan oleh jutaan jama'ah haji..', rasa cemburu itu menyelip di hatiku. Dari 
kejauhan disalah satu sudut dekat masjid, nampak beberapa keranda jenazah 
berjejer, tertutupi kain hijau, menanti disholati oleh jama'ah haji. Setiap 
kami sholat setiap itu pula sholat janazah berlangsung. 


Sejenak, kami res untuk meregangkan kaki yang rasanya begitu berat dan kaku. 
Tak lama kami siap melaksanakan ibadah ritual Sa'i.Kami menuju gedung atau 
ruangan yang memanjang yang kami sebut sebagai bukit Shafa dan Marwah. 


Ibadah ritual Sa'i
Kami mendaki bukit Shafa, menengadahkan tangan dan berdoa: " Sesungguhnya Shafa 
dan Marwah adalah sebahagian dari syiar Allah. Barangsiapa yang beribadah haji 
ke Baitullah atau umrah, maka tidak ada dosa baginya mengerjakan sa'i antara 
keduanya. Barang siapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, 
maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri kebaikan lagi Maha Mengetahui. "


Kami menghadap Ka'bah sambil mengucapkan, " Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu 
Akbar, Allah Maha Besar, Allah benar-benar Maha Besar. Segala puji yang banyak 
hanya untuk Allah. Dan Maha Suci Allah Yang Maha Agung dan dengan memujinya 
pada waktu pagi dan sore hari....." dan seterusnya. 


Pelan sekali kami menuruni bukit, terus mengikuti arus jama'ah menuju bukit 
Marwah. Setibanya dibukit kami berhenti sejenak untuk berdoa. Perjalanan kami 
lanjutkan untuk kembali ke bukit shafa. Tak jauh dari bukit shafa nampak lampu 
hijau dimana jama'ah lelaki disunahkan untuk berlari-lari kecil sambil berdoa 
pula.


Begitu kami sampai di bukit Shafa kami mengulang untuk menghadap ke Ka'bah lalu 
berdoa seperti semula, lalu menuruni bukit untuk menuju Marwah, hal ini kami 
lakukan hingga pada Sa'i yang keempat kalinya.


Pada perjalanan kelima, aku kehilangan dua temanku. Kami kalah cepat. Kami 
berdua agak kewalahan mengikuti mereka. Jalan kami agak terseok seok. Kaki kami 
terasa berat dan agak membengkak. Pada saat kami tiba dilampu hijau aku agak 
kepinggir, mendekat kedinding, aku merogoh tasku untuk mengambil botol air 
zam-zamku, lalu kureguk'. Wati, yang tinggal satu ini masih setia menemaniku, 
dengan napas sengal aku katakan: ' Aku...aku haus banget, badanku sakit dan 
rasanya gak kuat nerusin Sa'i nii...' Watipun berhenti. Sama. Diapun kelelahan. 
'Minta minumnya teh dikit aja, saya juga haus ', Seteguk, dua teguk Wati 
membasahi kerongkongannya. Kami res.


Aku bersandar ke dinding. Oh ya Allah..kakiku sakit! Aku betul betul menyerah 
dan perlu istirahat. Aku terduduk dilantai, melepoh untuk menghilangkan lelah, 
sakit kepalaku mulai memarah dan rasa sakit pada betis dan telapak kaki terasa 
pula sakitnya, luar biasa.' Begitu lelah dan sakitnya sang kaki, lalu aku 
berfikir ' Ya Allah sanggupkan aku melanjutkan Sa'i ini, sanggupkah aku 
meneruskan, aku menyerah, aku lelah ya Allah ?'.


Tiba-tiba aku teringat akan perjuangan bunda Siti Hajar. Tiba-tiba dikepalaku 
tergambar bagaimana wanita hebat, sosok Siti Hajar ini berlari-lari antara dua 
bukit Shafa dan Marwah, tanpak atap apalagi kipas angin, bergegas naik turun 
dipanasnya sang mentari, mencari air untuk anaknya yang ia cintai. 


Tak terbayang betapa terik dan kerontangnya suasana pada saat itu. Betapa 
lengangnya keadaan di antara dua bukit... kecuali jerit tangis sang bayi yang 
tengah kehausan. Si Ibu dengan segala kesabaran serta ketegaran terus bertekad 
dan berupaya mencari sang air untuk menunjukan rasa cinta, tanggung jawab dan 
proteksi anak tercintanya Isma'il.


Tiba-tiba mataku memanas, airmataku menggenang dan dengan pelannya ia meluncur. 
Aku menangis, aku terharu dengan perjuangan sosok Siti Hajar. Betapa lemahnya 
aku ini, alangkah landainya iman kami ini. Betapa meruginya kami ini. Apa yang 
kami keluhkan, dua bukit yang kami daki antara Shafa dan Marwah begitu 
nyamannya. Terlindungi oleh atap tinggi, lantai yang sejuk diberi pendingin, 
kipas angin berputar sepanjang antara dua bukit. Lalu nikmat mana lagi yang 
harus aku ingkari, nikmat apalagi yang kami keluh kesahkan?


Air mataku deras mengguyur pipiku, terus bergumam 'Sedang engkau ya Siti Hajar 
dedikasi, pengorbananmu sebagai seorang perempuan dan ibu, demi cintamu kepada 
Ibrahim dan Ismail, engkau begitu tulus menerima keputusan suamimu Nabi Ibrahim 
untuk ditinggal sendirian dibukit itu bersama anakmu. Sendiri. Dan engkau harus 
mampu berlaku sebagai seorang ayah pula disaat Ibrahim tak ada disisimu?'. 
Bagaimana ya ummi, bagaimana engkau mau dan mampu?.


'Semua kesabaran, ketabahan, kepasrahan totalmu, adalah komitmen cintamu kepada 
suami dan anak sebagai tanda cinta dan taqwamumu kepada Allah semata. Engkau 
adalah simbol sosok muslimah yang kokoh, tegar dan tangguh', aku merunduk, aku 
menangis, gejolak emosiku tak terkendalikan.


Bayangan dan ingatanku akan perjuangan serta pengorbanan Siti Hajar akhirnya 
mampu menghentikan airmataku yang sempat deras menurun, mampu membuyarkan semua 
keluhan tak berarti bahkan membuatku terhentak untuk bangun dan meneruskan 
perjalanan Sa'iku yang tinggal dua kali lagi. 


' Aku, aku harus bisa seperti Siti Hajar. Harus!' kataku. Kuusap pipiku yang 
sempat basah lalu aku melirik pada Wati untuk melanjutkan Sa'i. 'Yuu kita 
lanjut'
sambil berpelukan penuh makna, betapa kita saling membutuhkan disaat kita dalam 
kondisi lemah iman.

Pada akhirnya dua bukit itu kami taklukan dan ibadah ritual Sa'ipun usai. Kami 
tutup dengan tahlul, yakni menggunting beberapa helai rambut, sebagai simbol 
bahwa umrah kami selesai dan lengkaplah sudah. Kami saling berpelukan, 
bertangisan. Penuh haru. Kalau kuperturutkan..ingin rasanya aku teriak 
melengking, hingga bunda Siti Hajar dilangit sana bisa mendengar jerit haru & 
bahagiaku. Atau para malaikat mencatat teriakanku pula. Insya Allah ibadah haji 
kami diterima Allah. Amien.

* perjalanan haji ini dilakukan tujuh tahun lalu, namun kenanganan ini tidak 
pernah memudar dari ingatan dan kesan berHaji sebagai ' A life time journey '

"Yesterday was history, tomorrow is mistery"
  ********************************************************XXX




         

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke