http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=277444&kat_id=19 

Berita Kematian 
Rabu, 03 Januari 2007
Oleh : Asro Kamal Rokan 

Halaman depan surat kabar harian kemarin, berwajah suram. Berita musibah, 
tragedi, dan kematian.
Inilah berita-berita yang dimuat hampir semua surat kabar itu: Pesawat Boeing 
747-400 Adam Air dinyatakan hilang di sekitar Sulawesi Barat Nasib 102 
penumpang belum diketahui. Bagian lain halaman sama diberitakan, lebih 200 
orang penumpang Kapal Motor Senopati Nusantara dinyatakan hilang ketika kapal 
itu tenggelam di perairan Jepara, Jawa Tengah. Masih di halaman yang sama, 
diberitakan pula tentang eksekusi terhadap mantan Presiden Irak, Saddam Hussein.

Awal tahun yang perih di saat umat manusia di muka bumi berharap terjadinya 
perubahan dalam hidup mereka. Perubahan menuju kebaikan, semua orang 
menginginkannya. Namun kematian, musibah, dan tragedi, datang sangat tiba-tiba, 
bahkan lebih cepat dari kerdipan mata.

Setiap musibah, tragedi, dan tentu kematian tentulah --dan semestinya-- 
menyadarkan kita bahwa manusia adalah makhluk yang sama sekali tidak berdaya, 
tak dapat mencegah, bahkan tak mampu menunda apa pun.

Kematian bisa datang lebih cepat sebelum penumpang Adam Air meneguk jus apel 
pemberian pramugari. Namun kematian juga bisa datang bertatih-tatih dan 
merangkak. Ratusan penumpang kapal Senopati Nusantara, melihat kematian datang 
perlahan. Tidak ada tempat bagi mereka berlindung, tidak ada tali bagi mereka 
bergantung, ketika maut menggapainya di tempat tersembunyi dan tinggi sekali 
pun.

Kekuasaan pun tak dapat menolong seorang dari kematian. Sadam Hussein, betapa 
gagah mantan Presiden Irak itu. Seutas tali telah merenggut nyawa dari tubuhnya 
--seutas tali yang sangat tidak berarti apa-apa dibanding popularitas dan 
pengaruh semasa ia berkuasa. Kehidupan sesungguhnya adalah tawanan abadi 
kematian. Tidak ada alat, uang, kekuasaan, dan harta yang bisa menebusnya. 
Tidak juga istri dan anak-anak tercinta. Manusia hanya menunggu saatnya tiba. 
Tidak detik ini, mungkin menit berikutnya. Tidak ketika tertawa, mungkin ketika 
tersenyum.

"Dan ketahuilah," tulis Ali bin Abi Thalib dalam surat wasiat kepada putranya, 
Al Hasan, "engkau diciptakan untuk akhirat, bukan untuk dunia fana ini. Untuk 
sirna, bukan untuk abadi. Untuk mati, bukan untuk hidup selamanya. Bahwa 
posisimu adalah posisi berangkat untuk mengumpulkan bekal. Dan, bahwa engkau 
tengah berjalan menuju akhirat. Bahwa engkau tengah dikejar oleh kematian. 
Tidak ada makhluk yang dapat lari dari kematian. Karena itu, hati-hatilah 
selalu dengan kematian. Jangan sempat engkau dijemput kematian ketika engkau 
tengah dalam kondisi buruk."

Kematian datang dengan caranya. Dia tak pernah malas dan lupa menjemput kita, 
baik ketika berada di udara, di laut, dan di darat. Ketika naik pesawat maupun 
berjalan kaki. Ketika makan, maupun saat berhenti. Ketika bangun, maupun tidur. 
Tak ada tempat bersembunyi, tak ada tawar-menawar. Lalu, ketika waktunya tiba, 
mengapa menyesalinya?
Kita sedang dikejar kematian, tak bisa lari, apalagi bersembunyi.
================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
================================================
Yahoo! Groups Links



  __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

         

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke