Musibah transportasi di awal tahun 2007 tumpang tindih melanda 
Nusantara, tidak peduli laut, darat dan udara. Di laut ada musibah besar yang 
menimpa kapal “Senopati Nusantara” dan beberapa kapal-kapal kecil yang tidak 
diendus kuli tinta, di darat banjir melanda Aceh, Sumatera Utara dan beberapa 
wilayah Kalimantan  jalanan tergenang, longsor bahkan ada jalur kereta yang 
amblas, di udara ada juga musibah hilangnya pesawat “Adam Air”.

Seakan mengikuti skala ekonomi, musibah yang banyak menghilangkan harta benda 
besar lebih mendapat sorotan publik lebih dibandingkan dengan yang lain. Ada 
suatu keanehan, musibah-musibah yang menimpa orang kecil seakan tidak 
mendapatkan porsi perhatian yang memadai.

Di saat banyak musibah menimpa kita ada obat yang mujarab yaitu doa. Doa adalah 
sarana berkomunikasi antara kita sebagai mahluk dengan Tuhan sebagai Sang 
Pencipta. Dengan doa, maka komunikasi kita dengan Tuhan dapat  disampaikan 
secara langsung dengan bahasa Ibu tanpa perlu penerjemah.

Sejalan dengan musibah yang dijelaskan di atas, bagi yang saudaranya hilang 
atau menjadi korban, mereka berdoa untuk keselamatan saudaranya mereka, bagi 
rohaniwan yang hilang, umatnya berdoa untuk keselamatannya. Mereka berdoa fokus 
kepada sesiapa yang dicintainya ini adalah suatu yang lumrah.

Seperti yang sudah lazimnya terjadi, dalam suatu musibah umumnya tidak lagi 
memandang satu per satu orang, tetapi justru sebaliknya. Contohnya, seperti 
dalam kecelakaan pesawat udara yang celaka dalam ketinggian ribuan kaki, hanya 
yang mendapatkan mujizat sajalah yang bisa selamat. Mujizat adalah hak 
prerogatif Tuhan untuk bisa didapat (Red: term kata “Mujizat” sebenarnya 
kelebihan yang hanya diberikan kepada Nabi saja, tapi anehnya term ini di 
Indonesia kalangan umat umumpun asal mereka mendapatkan keajaiban disebutnya 
mendapat mujizat). Mujizat ini biasanya berlawanan dengan hukum logika manusia 
tetapi hal ini masih mungkin dan tidak menutup kemungkinan bisa ada dan bisa 
tidak ada, tergantung kepada Yang Maha Kuasa.

Doa-doa yang diberikan untuk keselamatan biasanya dipanjatkan untuk keselamatan 
 saudara sedarah semenda, doa yang dipanjatkan hanya untuk mereka yang satu 
majelis saja, pokoknya ada hubungannya dengan “aku”, logikanya doa akan lebih 
bergaung apa bila dipanjatkan kepadaNya dalam skala universal, untuk 
keselamatan mereka satu kapal, untuk keselamatan mereka satu kebangsaan, untuk 
keselamatan mereka seluruhnya. Doa-doa yang bersifat universal ini akan 
membantu merangkai doa-doa mereka yang bersifat individualis. Dan doa yang 
bersifat universal itu diharapkan terlontar dari hati kita semua. Sebagai 
misal, bisa kita bayangkan terangnya cahaya senter yang dinyalakan dari 
beberapa baterai, atau kuatnya sapu lidi yang ditambahkan  lidinya dari hanya 
sekedar sebatang lidi, itulah logika contoh bagaimana kuatnya doa bila 
dipanjatkan bersama-sama secara masal.

Siapa tahu, musibah-musibah ini justru memiliki hikmah agar kita manusia 
Indonesia mulai belajar menyatukan doa tidak lagi fokus terhadap diri sendiri 
dan fokus terhadap keluarga saja, tetapi justru berlatih berdoa untuk mereka, 
saudara kita sesama manusia yang tinggal di Indonesia khususnya  dan dunia 
umumnya ?

Bisakah kita bersifat universal, seperti kebiasan doa yang sering kita 
panjatkan  setiap hari, “Agar selamat di dunia dan selamat di Akhirat” ? 
Bisakah kita selalu berdoa untuk mereka tidak lagi hanya untuk diri sendiri? 
Hanya ku dan  Yang Maha Tahu  saja yang tahu.

Salam,
================================================XXX
 



         

 __________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke