Cidera di Senja Pernikahan


Semula aku merasa semua baik-baik saja. Selama 28 tahun pernikahanku, tak
pernah kurasakan hal yang aneh dari suami. Sebagai seorang abdi negara, dia
disiplin, tegas, dan meski agak kaku, dia tetap dapat menunjukkan rasa
sayangnya pada anak-anak. Namun, baru setengah tahun ini aku tahu, di
usianya yang sudah tak muda lagi, dia justru tergoda, dan berbuat dosa. Dosa
yang akibatnya tidak hanya dia tanggungkan sendiri...



Dosa itu anakku yang pertama mengetahuinya. Sepulang kuliah, Yos
mendatangiku yang lagi istirahat di kamar. "Ma, Bapak ada urusan apa di
losmen Y?" Aku agak kaget. Losmen Y kan tidak begitu jauh dari rumahku,
hanya 3 KM jaraknya. "Mama tidak tahu Yos, mungkin aja dapat tugas." Aku
tahu jawabku mengambang. Dan Yos tampaknya tahu itu. "Tugas kok sama
perempuan lain, Ma?" ketusnya, sebelum pergi.



Aku kepikiran terus dengan hal itu. Tapi tidak terlalu curiga. Tak ada apa
pun yang layak dicurigai dari suamiku. Tugasnya memang biasa begitu, masuk
hotel atau losmen untuk mencari pelaku kejahatan. Jadi, apa yang harus
dikhawatirkan.



Namun, keesokan harinya, sore, Yos kembali mengetuk kamarku. "Mamah harus
lihat deh, Bapak masih di sana. Aku tadi ngelihat sendiri, turun dari mobil
sama perempuan yang sama."



Aku juga mulai "termakan" sama omongan Yos. Tapi kan tidak baik jika
kecurigaan itu aku tampakkan di wajahnya. Maka aku hanya tertawa. "Siapa sih
yang mau sama Bapakmu, Yos? Sudah tua, *kere* lagi? hehehe..." Yos pergi.



Dan dua hari kemudian, sore juga, dia kembali mendatangiku. Menangis.
Matanya basah. "Bapak selingkuh, Ma. Yos lihat sendiri, berduaan di kamar
itu. Yos ribut, Yos tampar perempuan itu..." dia lalu menubrukku yang hanya
terdiam. Aku terpukul. Benerkah apa yang dikatakan Yos? Benerkah suamiku
selingkuh? Seribu pertanyaan berkecamuk di benakku. Suamiku yang kurus itu,
apalagi yang dia cari?



Malam, suamiku pulang. Wajahnya keruh. Akutak bertanya apa-apa. Kusediaan
makannya, tapi tak dia sentuh. Kusediakan handuknya, tapi dia tak mandi. Teh
panas juga tidak dia cicipi. Hanya duduk mencangkung di depan teve.



"Yos bicara apa?" katanya.



"Tidak ada. Dia cuma nangis tadi, waktu pulang. Aku tanya, dia diam saja..."
bohongku. Aku ingin biar suamiku yang membuka cerita.



"Sungguh dia tidak cerita apa-apa?"



"Tidak."



"Hmm..."



"Memangnya ada apa, Pak?"



Dia diam. berjalan ke kulkas, dia minum air dingin. Lalu duduk di depanku.
"Mah... aku mau cerita. Yos tadi melihat aku sama Murni, di penginapan Y.
Yos marah, dan menampar Murni." Lalu dia diam.



"Siapa Murni?"



"Janda. Aku kasihan sama dia, ditinggalkan suaminya begitu saja..."



"Bapak kasihan lalu..."



Lalu suamiku cerita. Suami Murni terjerat hutang, lalu melarian diri.
Suamiku yang mendapat laporan dari pengutannya mengusut, dan kenal dengan
Murni. Dari situlah mereka lalu dekat. Dan, lama jumpa, suami terpikat.
Katanya, karena iba. Lalu jadi cinta. entahlah... Aku tak begitu mengikuti
ceritanya. Pikiranku kalut. Dan tiba-tiba saja aku sudah menangis,
meninggalkan dia. Sungguh, aku terpukul sekali. Kenapa suamiku tega berbuat
itu. Ngeri sekali aku membayangkan, bahwa di usia pernikahan nyaris 30
tahun, justru terkotori oleh aib yang demikian memalukan. Kenapa suamiku
sampai terperosok ke lembah dosa itu?



Pagi, bersama Yos dan anak pertamaku, kami pergi ke penginapan itu. Di kamar
itu memang kutemukan Murni. Sendiri. Dia masih muda, mungkin 30 tahunan, dan
cantik. Lebih cantik dari anak perempuanku. Dan dia tidak takut. Di pipinya
masih kulihat bekas cakaran (Yos ternyata tak hanya menampar, juga
mencakar). Kutanyakan baik-baik, dan terungkaplah. Dari penuturannya, dia
mendapat cerita kalau suamiku itu kesepian. Sebagai istri aku tidak pernah
lagi mau diajak berhubungan badan. Dia iba, dari iba jadi cinta. Dan mereka
lalu melakukannya. Lalu, karena takut dosa, mereka menikah siri. "Saya
kasihan sama Bapak, yang tidak bisa lagi begituan karena ibu sudah tidak
mampu..."



Dunia rasanya berputar terlalu cepat. Aku pingsan. tersadar, aku sudah
sampai di rumah. Dan dari cerita Yos, aku tahu, Murni mendapat pukulan dari
anakku yang lelaki, dan cakaran lagi dari anakku yang perempuan. sampai
pihak losmen mengusir kami dengan taksi.



Malamnya, suamiku pulang. Dia marah. Dia maki-maki Leo anakku, tapi tak
berani dia memukul, karena Leo menantang pun dia diam. Dia lalu pergi.
Setelah itu, tak pernah ada lagi percakapan antara kami.



Kini, hanya akhir pekan suamiku datang. Menyerahkan uang, dan tidur semalam.
Lalu dia pergi lagi. Kata Yos, dia melihat bapaknya di daerah Demak. tapi
aku tidak peduli. Bagiku, kisah pernikahanku sudah selesai. Dalam hatiku,
telah kubuang nama suamiku. Tak ada lagi siapa pun, kecuali dua anakku. Aku
hanya merasa heran, kenapa di usia tua, justru dia tak mampu menahan godaan.
Kenapa?



(Cerita Ibu Yos kepada kami melalui e-mail)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke