Jalan Hidup yang Membentukku


Membaca "Curhat" di sini, aku merasa tidak sendiri. Ternyata "keanehan" yang
kualami bukan hanya terjadi padaku. Barangkali memang sudah waktunya aku tak
lagi menyesali diri, dan menerima yang terjadi sebagai "kewajaran". Aku
yakin, apa pun ini, pasti telah menjadi bagian dari rencana Tuhan.



Sebut saja namaku Lily. Sengaja kupakai nama itu, karena beberapa kolega
memang menyebutku begitu, yang katanya berwajah lembut, manis, dan langsung.
Aku masih 24 tahun, dengan tinggi 170, dan berat 50. Jangan kaget, aku
memang seorang model. Dan namaku cukup terkenal di kota ini. Aku acap
berlenggak-lenggok memeragakan busana.



Awalnya, model memang telah jadi cita-citaku. Karena itu, sejak SMP dan
kulihat postur tubuhku mulai menjulang, aku mulai menjaga penampilan. Kelas
3 SMP aku sudah mulai menjajaki dunia model itu, atas bantuan seorang model
yang lebih senior, sebut saja namanya Mawar. Kupakai mawar karena dia memang
cantik, energik, tapi penuh duri. Soal itu nanti akan terungkap bersama
ceritaku ini.



Dari ajaran dan bantuan dialah, aku menapaki dunia yang gemerlap ini. Dari
bayaran kecil, sampai kini bayaranku termasuk jajaran teratas di kota ini.
Dan, kian lama aku hanyut pada dunia ini, membuatku gampang bergerak
memasuki lingkungan yang dulu terpikir pun tidak akan dapat aku jelajahi.
Tapi, memang, semua itu harus aku bayar dengan mahal. Sangat mahal.



Awalnya, ini dari tawaran Mawar. Ia mengajakku untuk menjadi model pakaian
dalam. Aku semula menolak. Waktu itu aku masih SMA kelas 2, dan belum berani
memakai pakaian dalam untuk tampil di depan banyak lelaki. Tapi, dengan
tertawa Mawar meyakinkanku bahwa pertunjukan itu bukan untuk umum, tapi
kalangan terbatas. Katanya, hanya ada 6 model, dan 10 penonton, semuanya
perempuan. "Ini show khusus. Tidak perlu malu.."



Aku pun mengiyakan ajakannya itu. Dan benar, show itu memang privat, di
rumah mewah di kota ini, rumah dengan banyak kamar, di daerah atas.
Penontonya ibu-ibu muda, dan setengah tua, tapi cantik-cantik. Dan aku
merasa nyaman. Kami hanya berlenggang di atas meja yang ditata bagus,
memakai lingerie dan bra transparan. Aku baru kali itu memakai pakaian
seperti itu, rasanya nyaris sama dengan telanjang. Tapi, sewaktu masih
mengenakan pakaian dalam itu, Mawar membisikiku. "Nanti, jika ada ibu-ibu
yang memuji dan memegang kamu, senyum aja... biar tipsmu bertambah." Aku
hanya tertawa.



Dengan lingerie putih, aku bergaya. Dan tepuk tangan pecah. beberapa ibu
memujiku. Tak ada yang menyentuhku. Tapi mata mereka, aku rasakan bukan
seperti penonton, karena menatap tanpa kedip. Meski perempuan, terasa risih
juga aku dipandang seperti itu. Ketika aku kembali ke ruang ganti, kulihat
Mawar yang tampil. Dan, aku melihat dia disentuh seorang ibu, dirangku, dan
Tuhan... bibirnya dicium ibu tersebut. Yang membuat tubuhku gemetar, Mawar
pun menyambut ciuman itu. Mereka kemudian bangkit dan hilang, menuju sebuah
kamar. Tubuhku lemas. Apalagi, kemudian kulihat model lain juga melakukan
hal yang sama, disentuh seorang ibu, dan berpagutan menuju kamar. Pikiranku
tidak konsentrasi. Panik, apakah akan terus mengenakan pakaian kedua, atau
pulang. Tapi, ingat semua bantuan Mawar, tak berani aku berontak. Aku harus
profesional. dan model keempat juga kulihat, berpagutan di atas meja, sambil
ditepuki para ibu-ibu. Mereka seperti lintah saling mengisap.



Dengan tergesa kukenakan lingerie hitam, dan berjalan ke panggung. Tapi,
ketika akan berbalik, seorang ibu muda menyentuh pinggulku, dan dengan
tersenyum, ditariknya tanganku. "Kamu cantik dengan yang hitam ini... luar
biasa," bisiknya. Dan tanpa sungkan, dia tarikkan aku ke kamar. Aku panik,
tapi tak tahu harus bagaimana, kakiku seperti diseret mengikuti tarikannya.
Dan ketika sampai di sebuah kamar, kulihat di sana Mawar tengah merintih,
bercumbu dengan seorang ibu. Darahku mendidih melihat pemandangan itu.
Tubuhku lemas. Dan beriktunya, tak perlulah kuceritakan. Aku seperti tak
sadar, dunia rasanya gelap. Selanjutnya aku hanya merasa nikmat. Kenikmatan
yang bahkan tak pernah aku dapatkan dari kekasihku.



Dari "pertunjukan" itu aku mendapat bayaran 3 juta. Honor terbesar sepanjang
karierku saat itu. Mawar yang memberikan mengatakan itu honor terbesar di
antara mereka. "Karena kamu yang paling muda, paling hijau," kikiknya.
Wajahku memerah saja, malu, bingung, mau marah tapi tak tahu apa yang harus
aku marahkan. Bukankah aku jadi seperti menikmatinya?



Begitulah pembaca, ternyata itu adalah komunitas "lesbian". Sengaja aku
pakai tanda petik, karena secara resmi ibu-ibu itu menikah dan punya anak.
Ibu yang mencumbuku misalnya, kelak aku tahu namanya ibu Ayu, istri seorang
pengusaha besar, punya dua anak balita. Aku tak tahu kenapa dia melakukan
hal semacam itu. Cuma dari beberapa pertemuan berikutnya, dia memberi alasan
yang aneh. Lebih menikmati jika bersama perempuan. Tapi dia merasa tidak
lesbian. "*Doyan* dua-duanya aja," katanya tergelak. Aku tak mengomentari.
Tak berani karena tanpa sadar bukankah aku telah menjadi "bagian" dari
komunitas itu?



Dan kini telah hampir 5 tahun aku menikmati hidup dengan jalan yang
demikian. Bukan pembaca, bukan seperti yang di atas. Maksudku, telah 5 tahun
itu aku merasa menjadi perempuan yang hanya bisa merasa indah jika
diperhatikan perempuan, dipuji dan dikagumi. Entah kenapa, kalau ada
perempuan yang memandang takjub pada tubuhku, seperti ada yang mekar di
dadaku. Sering jika aku naik panggung, yang kucari adalah mata-mata
perempuan yang kagum melihat penampilanku. Jika aku mengenakan pakaian yang
seksi atau transparan, dan melihat penonton perempuan memandang dengan
kagum, rasanya aku melayang. Ya, fantasiku adalah jenisku sendiri. Aku juga
diam-diam punya "kekasih" yang satu profesi denganku, seorang perempuan
juga. Kami saling mengagumi tubuh kami, saling mengelus dan memuji. Aku
semua benci dengan keanehan ini. Mengutuk dan ingin berkali-kali bunuh diri.
Bagiku ini aib, dosa, dosa, dan neraka. Apakah aku telah menjadi seorang
lesbi? Mengapa tak kurasakan lagi sensasi sentuhan lekaki atas tubuhku?
Mengapa perempuan menjadi begitu indah di mataku?



Tapi kini, semakin dewasa aku, semakin aku tahu, "penderitaan" ini bukan aku
sendiri yang tanggungkan. banyak yang senasib denganku, bahkan dengan
"jalan" yang lebih mengerikan. Maka, aku mulai menerima keadaan ini. Dan
dengan cara itulah aku merasa bisa menghargai diriku, lebih dari dahulu.
Mungkin ini jalan yang penuh dosa. Tapi, bukankah jalan ini datang dengan
sendirinya, membentukku, menciptakan "diriku"?



(Sebagaimana cerita Lily, kepada kami)


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke