Pacarku Seorang Pelacur Angkot itu meluncur di kesunyian malam. Kernetnya berteriak-teriak meneriakkan jurusan yang di tuju sambil sesekali menguap , mengantuk. Sopirnya pun kadang menguap namun ia mengusir rasa kantuknya dengan meneguk sebotol air mineral. Bahaya kalau ia sampai tertidur , angkotnya bisa menabrak dan pasti ia tidak dapat uang , dan yang lebih pasti lagi ia bisa kehilangan pekerjaannya sebagai sopir. Lantas anak istrinya mau makan apa ? makan batu ? Dua orang wanita di perempatan jalan terlibat percakapan yang cukup seru. Wanita berbaju merah itu berambut panjang dan sesekali menyibakkan rambutnya yang dimainkan angin malam. Wanita yang satunya memakai kaus ketat warna biru dan berambut pendek. Wanita berbaju merah itu kira-kira berumur 18 tahun tapi tampak lebih tua dari wanita sebayanya. Ina ,nama gadis itu. Barangkali karena riasan yang dipakainya yang membedakan ia dari wanita sebayanya. Aku kenal wanita itu karena aku pernah satu mobil dengannya. Waktu itu ia bercerita tentang dirinya , keluarganya dan pekerjaannya. Dan ku akui ia memiliki wajah yang cukup cantik yang merupakan modal utama untuk menjadi seorang pelacur. Mana mungkin seorang pelacur memiliki wajah yang jelek , tak laku ! Tetapi ada yang berbeda dari cerita wanita-wanita yang menjadi pelacur pada umumnya. Begini ceritanya. "Gimana ya , saya sendiri ndak tahu pasti lho , bagaimana mulanya saya jadi begini." "Lho kok ndak tahu , gimana sih ?" "Lha wong sudah dari kecil saya suka sekali dipegang-pegang orang , tapi bedanya saya ndak ngerti uang waktu itu. Pokoknya , waktu itu saya senang sekali. Kata orang-orang yang memegang saya , saya masih kecil begini udah cantik , montok lagi." "Ah yang benar ?" "Lho kok kamu ini ndak percaya." "Habis gimana gitu ?" "Gimana apanya ?" "Ya cerita kamu tadi itu nggak masuk akal." "Tapi benar lho , saya ndak bohong ." Aku hanya tersenyum kecil. Lantas ia melanjutkan ceritanya lagi. "Waktu saya kecil , saya belum kenal uang. Makanya saya cuma senang aja kalau ada orang yang memegang-megang saya , paling-paling cuma dikasih permen dan makanan." Ah , alangkah lugunya gadis ini. Cocok sekali dengan wajahnya yang ndeso , tapi sedap dipandang. Waktu itu kata orang badan saya lebih besar dari gadis sebaya saya. Ibu dan bapak saya juga bilang begitu. Badan saya lebih besar dari kakak perempuan saya yang tertua. Malah , orang-orang menyangka saya yang paling tua sedangkan kakak saya yang paling muda. Bapak dan ibu saya waktu itu ndak tahu kalau saya suka dibegituin orang-orang. Kakak saya tahu , tapi diam aja , soalnya dia juga sering ta' kasih permen. Dia juga sebenarnya iri sama saya , kok orang-orang cuma mau begituin saya bukan dia. Tapi dia udah pernah ngomong sama saya , cuma kadang- kadang kalau dia ngeliat saya lagi digituin orang , dia langsung pergi. Habis itu ta' samperin terus ta' kasih permen yang tadi dikasih sama orang. Suatu hari bapak saya tahu , saya terus dimarahi , katanya daripada cuma dikasih permen mendingan ke kota saja dapat uang. Ibu juga nambahin , daripada di sini nggak dapat apa-apa mending ke kota. Ya sudah , saya akhirnya jadi begini. "Memangnya , keluargamu ...." "Miskin maksud kamu ?" " Iya , ehÂ… " "Kalau dibilang miskin nggak , tapi dibilang kaya juga nggak." "Oooh.." "Terus kenapa nggak cari pekerjaan lain ?" "Pekerjaan apa ? Saya saja nggak lulus SMP." "Kenapa nggak lanjutin sekolah aja di sini ." "Buat apa sekolah tinggi-tinggi , kalau nanti cuma kerja di dapur dan di ranjang." "Ya nggak harus begitu 'kan." "Iya sih , tapi kebanyakan 'kan begitu , sudah sekolah tinggi-tinggi kalau nanti dikawini orang ya jadi ibu rumah tangga. Mending nggak usah sekolah tinggi-tinggi kalau cuma jadi begitu. Kata orang-orang tua di kampung saya , sekolah itu cuma punya orang-orang kaya saja , sekolah itu bukan milik kita-kita yang miskin ini , sekolah itu 'kan butuh biaya. Mana ada pendidikan yang murah untuk kita-kita yang miskin ." "Ya kalau begitu cari kerja yang lain , jangan kerja begini ." "Kerja apa ? Kamu ini gimana sih kerja 'kan butuh ijazah ." "Kan bisa kerja di pabrik. Banyak kok pabrik yang butuh tenaga kerja wanita kayak kamu , nggak butuh ijazah yang tinggi ." "Nggak ah , kerja di pabrik udah capek-capek , eh cuma dibayar Rp 3000,- , buat apa uang segitu , buat makan aja nggak cukup apalagi buat buat kontrak rumah dan beli baju baru. Mending kerja begini , paling-paling cuma nunggunya aja yang lama , tapi begitu "main" cuma sebentar , paling lama satu jam itu juga jarang. Biar bayarnya nggak gede-gede amat tapi cukuplah buat makan sehari-hari dan bayar kontrakkan. Kalau lagi dapat banyak tamu , bisa buat beli baju dan nonton sama teman ." "Kamu tiap bulan harus ngirimi ibumu di kampung ?" "Ya tidak , Ibu saya 'kan masih ada Bapak yang kerja , jadi tidak perlu dikirimi uang. Lha wong saya begini ini tidak terpaksa kok ." "Tidak terpaksa gimana ?" "Iya , sukarela , masa' kamu tidak tahu sih ." "Sukarela ?" "Iya , saya jadi begini ini karena saya memang senang jadi begini , nggak ada yang menyuruh saya apalagi maksa. Makanya saya nggak punya germo. Lagipula apa enaknya punya germo , kalau kerjanya cuma mintain uang anak buahnya , eh giliran kita yang susah dia nggak mau tahu. Waduh , repot kan jadinya. Kayak waktu itu teman saya si Marni nggak dibayar orang , malah dipukuli , disiksa , eh germonya malah kabur nggak tahu kemana , jadi kita yang susah ngurus si Marni ke kantor polisi. Di kantor polisi malah tambah ruwet lagi , katanya itu salah si Marni kenapa jadi wanita kayak gitu , resiko. Eh polisinya malah minta uang katanya buat biaya administrasi bikin laporan , laporan itu 'kan harus diketik,mesin ketik itu pakai pita , pita itu 'kan harus beli , jadi ya harus bayar , kalau nggak mau , si Marni harus meladeni polisi-polisi itu. Sialan. Masa' orang sudah susah malah dibikin susah lagi. Dasar polisi brengsek ." Ku hisap rokokku yang dari tadi belum ku hisap juga padahal tinggal setengahnya. Ina pun menghisap rokoknya dalam-dalam dan menghempaskan asapnya ke atas. Asap-asap itu mula-mula membentuk gumpalan kecil yang padat , namun lama kelamaan gumpalan itu membesar dan akhirnya pecah , menyatu dengan udara malam yang masuk ke dalam angkot. Rasanya , aku mulai tertarik dengan wanita ini. Tatapan matanya itu , hampa , kosong , tapi memiliki arti bagai lautan yang terhampar luas meenanti untuk diselami. Kau tak pernah tahu seberapa dalam lautan itu kalau tidak menyelaminya. Begitu juga wanita ini , ku takkan pernah bisa mengenalnya , kalau aku tidak berpikir dan menyelami pikirannya secara mendalam.Ada makna yang tersembunyi di tatapan matanya dan bibirnya yang mungil. Tetapi , apa kata orang nanti kalau ternyata aku benar-benar menyukainya dalam artian aku ingin menikahinya. Pastilah orang-orang akan melarangku dan bahkan akan mencibirku.. Aku sebenarnya tak mengerti ia pun seorang wanita. Dan wajar rasanya bila seorang laki-laki tertarik pada seorang wanita , sedangkan yang tertarik pada sesama jenis saja sudah wajar bahkan menjadi trend. Mungkin mereka memandang pekerjaannya tapi apa pun pekerjaannya ia cukup berarti di dunia ini. Daripada seorang pengemis yang hanya menengadahkan tangan di jalanan lantas mendapat uang. Melacur menurutku lebih baik daripada mengemis , setidaknya dalam melacur ada yang di jual walaupun kemolekan tubuhnya , dibandingkan dengan mengemis yang hanya mengharapkan belas kasihan orang lain. Setidaknya para pelacur ini mempunyai usaha yang jelas. Walau mungkin hal ini dilarang Tuhan dan dibenci masyarakat. Tetapi , bukankah Tuhan juga tidak menyukai orang yang menengadahkan tangannya. Dan masyarakat pun sudah risih dengan pengemis- pengemis ini. Bukannya apa-apa , zaman sekarang ini mengemis pun sudah menjadi ladang pekerjaan bagi orang-orang malas. Mereka tidak mau capek-capek kerja , cukup menengadahkan tangannya di jalan-jalan. Dan akhir-akhir ini , pengemis pun sudah ada yang mengoordinir. Tiap jam-jam tertentu mereka diturunkan di tempat- tempat tertentu pula. Setelah itu pada jam-jam tertentu pula mereka dijemput pulang. Tak aneh , kalau diantara mereka banyak yang mempunyai rumah bagus di kampungnya tapi tidur di kolong jembatan di kota-kota. Lantas , apakah pelacur lebih buruk dari pengemis ? Banyak cara yang dilakukan pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah ini. Namun , tak satu pun yang dirasa tepat , semuanya hanya menyelesaikan masalah sementara saja tidak tuntas. Pengemis dan gelandangan yang terjaring dipulangkan ke kampungnya masing-masing diberi modal. Tapi ironisnya , jika musim lebaran tiba mereka akan mengemis lagi ke kota-kota , mengharapkan belas kasihan orang-orang. Sialan , mereka memanfaatkan momen keagamaan untuk perutnya sendiri. Begitu juga dengan masalah pelacuran. Pemecahannya , hanya dengan memusatkan lokasi pelacuran pada satu daerah saja. Menertibkan , begitulah istilahnya. Sampai kapan pun pelacuran itu pasti akan tetap ada. Zaman Nabi saja sudah ada yang namanya pelacuran. Apalagi zaman sekarang yang gila-gilaan. Mungkin inti dari penanganan pelacuran ini adalah bukan bagaimana cara membasminya tapi bagaimana cara menguranginya. Untuk seorang gadis yang entah dimana sekarang: Selamat ulang tahun ke-18 tanggal 19 Mei kemarin. Masihkah kau ingat kontrakan ku tempat terakhir kita bercengkrama, bersama-sama memandangnya dalam kerinduan yang terus memuncak bersama sebersit kasih di dada. Semoga engkau lupa? Karena karya-karyaku akan terus mengingatkanmu kepadanya dan kepadaku. Yogyakarta (FSB-UTY,Sas Ingg), juni 2007.
