Mencoba Memahami ke-Malaikat-an Saeful Badar
Oleh: Aguk Irawan MN*
MALAIKAT
Mentang-mentang punya sayap
Malaikat begitu nyinyir dan cerewet
Ia berlagak sebagai makhluk baik
Tapi juga galak dan usil
Ia meniup-niupkan wahyu
Dan maut
Ke saban penjuru.
(2007)
Sabtu, 4 Agustus 2007, KhazanahLembaran Khusus Budaya di koran
Pikiran Rakyat (PR) memuat sajak "Malaikat" yang saya kutip di atas
itu, dan sajak itu hanya salah satu dari tiga sajak Saeful Badar yang
lain, yang diberi judul "Pantai Cimanuk", dan "Penyair". Selasa, 7
Agustus 2007, DDII Jawa Barat, mengeluarkan statemen bahwa puisi
tersebut dinilai telah jauh dari nilai estetika seni sastra,
sekaligus tidak mengandung etika penghormatan terhadap agama,
khususnya agama Islam. Oleh karena itu, sajak tersebut dapat
dikategorikan menghina agama, khususnya Islam. Masih ada 9 pernyataan
lain dari DDII Jawa Barat yang intinya menyatakan "penistaan"
terhadap kepenyairan sekaligus "keislaman" Saeful Badar. Menyaksikan
kerasnya reaksi DDII Jawa Barat, redaksi Pikiran Rakyat dan Penyair
Saeful Badar segera meminta maaf dan menyatakan puisi "Malaikat"
karya Saeful Badar tidak pernah ada.
Terus terang, sudah hampir dua tahun ini saya malas membaca sajak.
Saya pun tidak membaca rubrik sajak di Khazanah 4 Agustus lalu.
Justru pernyataan pencabutan sajak itulah yang membuat saya membaca
dan berusaha menyimak baik-baik sajak "Malaikat" Saeful Badar yang
kontroversial itu. Dan saya, punya penafsiran "lain" atas sajak itu.
Rasanya, sebagai penikmat sajak, saya tak mendapatkan tuduhan yang
sertamerta itu ada dalam sajak Saeful Badar. Ia menggunakan
kata "Malaikat" sebagai salah satu judul puisinya, dalam puisi
tersebut, kata "Malaikat" dalam penafsiran saya, jelas dan tentu
berbeda dengan makna yang lazim kita temukan, yaitu makhluk suci,
yang bebas dari sifat kurang. "Malaikat" dalam puisi tersebut adalah
sebagai sebuah filsafat atau idiom, yang memandang bahwa tidak semua
yang terlihat suci, tetaplah suci, tetapi terkadang di balik jubah
kesucian itu ada noda yang tersembunyi. Oleh karena itu,
makna "malaikat" dalam sajak Saeful tentu berbeda dengan makna yang
formalistik. Saeful hanya meminjam nama "malaikat" untuk sebuah idiom
kesucian, atau malaikat adalah metafora untuk hal-hal yang baik,
luhur dan tulus, karena kata malaikat identik dengan semua itu. Dan
barangkali untuk memahami maksud yang lebih dari sajak itu, kita tak
cukup hanya berpijak dari satu sajak itu saja. Tapi, kita juga harus
menengok sajak-sajak Saeful yang lain. Sehingga kita tidak gegabah
menyimpulkan, bahwa sajak itu jauh dari nilai estetika. Karena
membaca sastra berbeda dengan membaca tulisan yang lainnnya! Dalam su-
sastra ada makna yang tersirat, dan terkadang makna itu ada dalam
kesenyapan 'rasa' kita sendiri dan susah untuk kita ungkapan.
Sekali lagi, tidak bisa kita membaca teks sastra, selalu mengkaitkan
dengan makna umum yang biasa berlaku di masyarakat, atau dalam
membaca sastra tak bisa kita memahami hanya sebatas bahasa yang
normatif. Untuk menikmati keindahannya mau tak mau, rela tak rela,
kita harus melepaskan makna yang normatif dan umum itu! Inilah teori
sastra itu. Karena itu, kemudian lahirlah pencetus-pencetus teori
atau alat untuk memahami teks sastra. Satu di antara sekian itu
adalah Paul Ricoeur yang banyak disebut sebagai pelopor ilmu tafsir
teks, alias hermeneutik. Sebab ketika karya telah disiarkan, baik
pengarang maupun pembaca punya kedudukan setara dalam praktek
pemaknaan. Si pengarang dipengaruhi berbagai faktor dalam merumuskan
ide dan mewujudkan karyanya, demikian pula pembaca dalam memirsa
karya. Tidak ada yang paling berhak memaknai karya seni? Bahkan
kritikus pun, tidak!. Persis di sini indahnya dunia seni, yaitu suatu
alur diskursif. Makna merupakan hasil negosiasi, melalui proses
diskusi. Semua orang setara.
Menurut Paul Ricoeur , ada tiga langkah untuk memahami karya sastra,
yaitu, pertama langkah simbolik yang berlangsung dari penghayatan
atas simbol-simbol ke gagasan tentang "berpikir dari" simbol-simbol,
kedua; langkah pemberian makna oleh simbol serta "penggalian" yang
cermat atas makna, ketiga; langkah yang benar-benar filosofis, yaitu
berpikir dengan menggunakan simbol sebagai titik tolaknya.
Pemahaman dengan langkah simbolik
Untuk menghidupkan lukisan dan memberikan gambaran yang jelas, dalam
puisi "Malaikat" karya Saeful Badar, ada pengggunaan simbol-simbol,
yang menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Judul puisi "Maliakat"
merupakan simbol kegelisahan sang penyair, pada gejala belakangan
ini. Betapa banyak orang mengaku suci, tulus, luhur tetapi di balik
jubah yang mulia itu, sesungguhnya adalah busuk belaka.
Saya menduga, simbolisme ujud dari kegelisahan Saeful ini ditujukan
pada banyaknya terorisme dengan kedok jihad. Saeful yang memang
sehari-harinya sebagai seorang guru madrasah diniyah di Tasik mungkin
merasa tidak cocok dengan gerakan jihad yang salah itu, dan ia
kebetulan juga sebagai penyair, maka tak heran kemudian, lahirlah
puisi di atas. Akanlah tidak mungkin atau sulit dibayangkan jika
Saeful bukan guru ngaji bisa menciptakan puisi `Malaikat' itu jika ia
berada di luar darinya.
Larik pertama; Mentang-mentang punya sayap, merupakan simbol
penggambaran seorang yang dengan mudah bisa mempengaruhi (calon
teroris baru), kata "sayap" adalah simbolik yaitu
kekuasaan/keterpengaruhan; Larik ini merupakan salah satu bagian
untuk menunjukkan bahwa bagaimana labil dan mudahnya anak-anak negeri
kita dipengaruhi. Kata "Mentang-mentang" digunakan pula untuk
menyatakan bahwa si pengaruh punya banyak dalil untuk menyakinkan
calon teroris, bahwa ia telah melakukan jihad. Ia meniup-niupkan
wahyu, larik ini menguatkan bahwa si pendoktrin tidak tangan kosong,
tapi ia sangat fasih dan hapal firman-firman Tuhan. Larik
kedua, "Malaikat begitu nyinyir dan cerewet" sebagai simbol bahwa
mereka terus mendoktrin dan larik "maut" sebagai ujung tombaknya,
bahwa jika mati, ia sudah mendapatkan jaminan masuk surga, karena
jihadnya. Ungkapan ini lebih menegaskan makna yang terkandung pada
larik pertama, yang berarti bahwa si "malaikat" seperti ini jangan
sampai dipercaya, karena ia malaikat palsu.
Larik ketiga; Ia berlagak sebagai makhluk baik, merupakan simbol dari
pemberontakan sang penyair, bahwa teroris sesungguhnya bukan
malaikat, yang bisa mengantar seseorang masuk surga, tapi ia adalah
racun bagi generasi muda, dan musuh kita bersama! Tampak di sini ada
ketegasan yang memperkuat makna larik kedua.
Larik terakhir; Ke saban penjuru. Sang penyair hendak mengatakan,
bahwa teroris itu betapa perkasanya dan kesemangatan yang tiada henti
untuk mendoktrin mati jihad, walaupun terhadang berbagai rintangan
yang membahayakan, termasuk mengorbankan jiwa si pelaku.
Penggalian dan pemberian makna
Puisi ini diawali dengan kalimat; Mentang-mentang punya sayap, yang
bermakna bahwa mereka memang mentang-mentang telah banyak hapal di
luar kepala Firman Tuhan, lalu menyalah gunakan Firman, atau ayat-
ayat suci itu demi sebuah tujuan tertentu yang justru bertentangan
dengan maksud ayat itu sendiri.
Dalam keadaan labil dan kehidupan yang serba susah, karakter dari
generasi muda kita, memang semuanya ingin serba instan, termasuk
bagaimana menuju ke surga, ia pun memilih jalan pintas, melalui
ledakan bom jihadnya.
Langkah filosofis
Macam-macam tafsiran telah dilakukan terhadap puisi "Malaikat" itu.
Tetapi penafsiran saya justru sajak "Malaikat" tidak lain dari
semangat ingin mengingatkan kita, bahwa hati-hati dengan orang yang
membawa-bawa nama Tuhan untuk kepentingan kekerasan, karena itu bisa
merugikan khalayak.
Manusia hidup harus memiliki tafsiran hidupnya sendiri, karena dengan
kekuatan itulah manusia tidak akan mudah terjebak dengan tawaran
jalan pintas masuk surga, dan justru sebaliknya untuk melayani sesama
dengan baik adalah jalan yang tepat untuk tujuan itu, sehingga akan
dapat mengendalikan tawaran yang naif ini. Mata dan hati harus dibuka
lebar-lebar agar tidak salah melihat dan memilih arah sehingga tetap
selamat dalam perjuangan yang berlandaskan cinta kasih antar sesama.
Atau dengan kata lain, bahwa jihad untuk hidup untuk zaman sekarang
mungkin lebih mulia, dari pada jihad untuk sekedar maut
***
Puisi atau karya pada umumnya setelah disiarkan adalah sebagai
keputusan akhir penulisnya, dan ia sudah memulai jalan hidup sendiri,
seperti halnya anak yang sudah berangkat besar. Ia tidak bisa kita
pahami hanya sebatas makna kosakata. Pengetahuan agama, antroplogi,
sejarah, politik, sosiologi, filsafat, psikologi, ekonomi, geografi
dan lain-lain termasuk latar hidup penciptanya perlu diketahui hanya
berguna untuk membantu menangkap pesan karya secara utuh atau sedekat
mungkin sesuai ruang dan waktu. Hubert Nyssen dan Octavio Paz dalam
karya-karya dan diskusi-diskusi sering menggarisbawahi hal ini.
Karena itu tak mengherankan, justru trilogi "Aulad Haratina", karya
Najib Mahfouz yang dianggap juga menghina suatu agama itu justru
mendapatkan hadiah nobel, atau cerpennya Taufik Al-Hakim "Asy-
Syahid", yang mengambarkan syetan masuk surga itu mendapatkan banyak
pujian dari rakyat Mesir atau juga karya monumental Dante "Divina
Comedia", yang terlihat seakan menyepelekan surga.Tapi sepanjang masa
selalu dikenang. Karya-karya ini tentu saja tak bisa disamakan begitu
saja dengan penulis Ayat-Ayat Setan, Salman Rusdhi.
Octavio Paz sastrawan dari Meksiko bahkan mengatakan: "Sesungguhnya
ide dari sebuah puisi tidak terdapat sebelum penyair menuliskannya
tetapi lebih banyak terdapat sesudah puisi itu ditulis" [lihat:
Octavia Paz, "Alternating Current", The Viking Press, New York, 1973,
hlm.6]. Statemen ini selain menunjukkan bahwa karya setelah disiarkan
sebagai keputusan akhir si seniman, ia akan mengarungi jalan hidup
sendiri dan untuk memahaminya kita bisa membatasi diri pada saat ia
ditulis. Juga tidak memadai jika mengurung diri pada arti harafiah
kosakata yang telah dipilih kalau kita tidak mau kandas seperti
sebuah kapal di daerah dangkal laut atau sungai yang dinamakan
gusung. Karena itu mari kita merdekakan puisi dari keterjajahan
segala kepentingan dan kosakata. Dan biarkanlah puisi menjadi dirinya
sendiri!
Yogyakarta, 17 Agustus 2007
[Non-text portions of this message have been removed]
-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :
No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt
Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.
-----------------------------------------------***
cara keluar dari milis ini :
kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED]
dan REPLY email konfirmasi dari yahoogroups.
Yahoo! Groups Links
<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/
<*> Your email settings:
Individual Email | Traditional
<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
(Yahoo! ID required)
<*> To change settings via email:
mailto:[EMAIL PROTECTED]
mailto:[EMAIL PROTECTED]
<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
[EMAIL PROTECTED]
<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/