Keberagamaan Mayoritas dan Minoritas

Oleh: KH. A. Mustofa Bisri


Saya pernah diterbangkan takdir keliling beberapa negara Eropa dan Jepang.
Tak perlu dijelaskan lagi bahwa mayoritas penduduk negara-negara itu adalah
non muslim. Kebetulan, saat saya ke negara-negara itu bertepatan pada bulan
Ramadan.



Pikiran kampung saya pada waktu akan berangkat pertama kali; saya akan ke
negara 'kafir'; bagaimana nanti salat saya, puasa saya, makan saya, dan
seterusnya. Begitu saya tiba di Frankfurt, lalu ke Hamburg , kemudian ke
beberapa negara lainnya di daratan Eropa ini, saya kaget. Ternyata banyak
sekali ajaran Rasulullah SAW yang berlaku di negeri mayoritas non muslim
ini. Pastilah mereka tidak dibiasakan disiplin azan dan salat pada waktunya,
tapi kelihatan sekali disiplin mereka dalam kehidupan. Tidak saya jumpai ada
tulisan *"An-nazhafatu minal Imaan" *(Kebersihan adalah bagian dari iman),
seperti banyak kita jumpai di pasar-pasar dan terminal-terminal di kita.
Namun, kota-kota begitu bersih. Mereka menghormati hukum, menghormati
manusia, menghargai perbedaan. (ketika diundang di Universitas Hamburg untuk
berdiskusi, saya dihormati sebagai tamu dan ditunjukkan buku-buku karangan
beberapa pengarang kita di perpustakaan mereka, seolah-olah mereka memang
ingin menyenangkan saya, tamunya ini).


Di sisi lain, saya mendapat informasi bahwa gereja-gereja di negeri-negeri
ini sudah tidak begitu laku. Terutama kalangan muda mereka sudah enggan ke
gereja di hari Minggu. Bahkan banyak gereja diiklankan untuk dijual. Di Den
Hag, ketika saya diundang kawan-kawan Indonesia untuk buka puasa dan teraweh
bersama di 'mesjid' mereka, saya diberitahu bahwa 'mesjid' mereka itu
dulunya adalah gereja yang mereka beli untuk kegiatan-kegiatan agama Islam.


Di Jepang apa yang saya saksikan kurang lebih sama. Maksud saya soal
disiplin, kebersihan, menghormati hukum, menghormati manusia, dan
sebagainya. Bahkan, begitu datang di bandara Narita dan bertemu pertama kali
dengan petugas imigrasi, saya betul-betul merasa dihargai sebagai tamu. Saya
sempat terbayang dan membandingakan dengan petugas imigrasi muslim Saudi
Arabia. Saya sering ketemu dengan petugas-petugas imigrasi yang menyambut
pendatang di bandara King Abdul Aziz di Jeddah dan belum pernah menjumpai
sekedar wajah yang ramah. Sering kali saya harus menunggu urusan hingga
jam-jaman, padahal –dengan keinginan membantu memperlancar dan mempercepat
urusan—saya selalu menyelipkan *boarding pass* atau kertas apa saja di
halaman passport yang ada dokumen visanya. Tapi, tetap saja saya harus
menunggu lama.


Di bandara Narita, hal yang sama saya lakukan. Dan apa sikap petugas
imigrasi yang melayani saya? Petugas yang ramah langsung membuka halaman
yang saya selip-tandai dan tahu maksud saya, terbukti dia langsung
mengucapkan "Arigatou gozaimashita!" (Terimakasih)


Di negeri-negeri asing itu, barulah ketika bertemu komunitas bangsa sendiri,
saya merasakan suasana yang hampir sama dengan di negeri kita. Meski tidak
seheboh di negeri kita, saya menyaksikan kegiatan ritual Islami diikuti
dengan semangat yang kurang lebih sama. Tapi dengan kekhusyukan yang menurut
saya lebih terasa. Tentu saja, mereka tidak bisa melakukan kegiatan
keagamaan dengan eforia yang berlebihan seperti di Tanah Air. Satu dan lain
hal karena mereka minoritas.


Apa yang saya pikirkan kemudian ialah seandainya kegiatan ritual kaum
Nasrani dan Sinto itu seheboh kegiatan ritual kaum mulimin di Indonesia
terutama di bulan Ramadan, kira-kira bagaimana 'nasib' saudara-saudara kita
kaum muslimin yang minoritas di sana? Mereka tentu saja tidak bisa berbuat
apa-apa sebagaimana kaum non muslim yang minoritas disini sampai saat ini.
Paling-paling mengusap dada menyabarkan diri. Untunglah, seperti yang saya
saksikan dan ceritakan, kaum non-muslim disana itu --entah sudah sejak
kapan-- membudayakan ajaran Rasulullah SAW dalam bidang sosial-
kemasyarakatan.


Dimana-mana pastilah ada pengecualiaan. Di negeri-negeri yang tatanan dan
penegakan hukumnya, penghormatan kepada manusianya, disiplinnya, tasamuh
atau toleransinya nya, dan lain sebagainya berjalan sebagaimana diajarkan
dan dicontohkan Nabi Muhammad SAW itu, ada saja oknum-oknum yang syadzdz,
berbeda dengan yang lain.


Ada saja yang tak dapat mengekang rasa suprioritasnya sebagai kelompok
mayoritas. Apalagi, bila yang bersangkutan mendengar berita tentang kondisi
kaum mereka yang minoritas di negeri-negeri lain.


Lalu saya pun teringat 'negara Islam' di Madinah pada zaman Rasulullah SAW
–pembawa agama ini—yang tentu saja mayoritas penduduknya kaum muslimin.
Teringat bagaimana Rasulullah SAW dan para sahabatnya menghargai dan
menghormati hak-hak penduduk yang beragama lain, hingga lahir dokumen
Watsiiqah Madinah yang terkenal itu.


*Alkhairu kulluhu fittibaa-'ir Rasuul shallaLlahu 'alaihi wasallam.* Yang
terbaik dan yang paling baik adalah mengikuti jejak Rasulullah SAW.
Bagaimana kalau kita yang mayoritas di negeri ini, mencontoh Rasulullah SAW
dan memberi contoh pihak-pihak lain, kaitannya dengan sikap kita terhadap
kaum minoritas?


Alangkah indahnya, alangkah mulianya, bukan?!



*(Tulisan ini juga dimuat dalam Majalah MataAir edisi ke-6 28 Oktober -28
November 2007, "Tanggap Darurat Islamisasi di Eropa")*


[Non-text portions of this message have been removed]



-----------------------------------------------***
Donasi Dana untuk Sarikata.com :

No Rek : 145-118-2990
Atas Nama : Yudhi Aprianto
BCA KCP : Gatot Subroto Jkt

Kami ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas donasi yang telah Anda 
berikan demi kelangsungan Sarikata.com di dunia maya ini.

-----------------------------------------------***
cara keluar dari milis ini :
kirim email kosong ke [EMAIL PROTECTED] 
dan REPLY email konfirmasi dari yahoogroups.

 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/sarikata/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke