Kidung yang nyaris terluka
Senja kemarin telah menyapaku muram
Merobek hatiku, mengelabui rasa bimbang
Menyayat sukma yang semakin melayang
Terbang bersama anai-anai kerinduan kala senja
Malam bersambung dengan rasa khawatir
Saat Adzan Maghrib menyapa nadi-nadi getir
Laksana sebuah sajak yang bernada satir
Menghujam derai tawa yang semakin terpelintir
Rembulan mulai mengunci diri dalam sepi
Saat kau membelai diriku dengan nyanyian emosi
Menyibakkan butiran air mata yang mencaci diri
Dengan luapan kata yang berintonasi tinggi
Kau
Memarahi diriku dengan harum surgawi
Mengajarkan diriku untuk mengerti
Menyayat kelopak mataku untuk membuka hati
Membaca cintamu yang telah kau laburi
Dengan ramuan tulus serta ikhlas untuk mengasihi
Jutaan airmata yang tak bisa aku hindari
Menari dipelupuk mata, lalu membanjiri
Saat malam satu syuro kau menikam hati
Nada halus beradu dengan derap emosi hati
Namun aku menangkap bila kau masih sayangi diri ini
Kau
Aku
Berputar dalam zona rinai malam yang menghiasi
Mengajakku untuk tetap bernyanyi dengan suka hati
Sebab aku masih sayang pada dirimu
Wahai bidadari
Mojokerto, 10 Januari 2008
Praktisi Waluya Reiki
+6285655467993
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ