Sewaktu kuliah aku punya teman wanita.Sungguh ga aku sangka wanita cantik itu 
seorang lesbian. Waktu bermain ke kosnya aku menemukannya sedang duduk santai 
di kursi panjang dengan seseorang yang aku kira laki-laki.Kulitnya 
putih,rambutnya tipis dipotong pendek.Dengan santainya Silvana temanku 
memperkenalkan Ema sebagai teman dekatnya.Aku ga bisa ngomong banyak melihat 
kemesraan itu.Tapi sewaktu Ema pulang tinggal aku dan Silvana,seluruh gemuruh 
di dada tumpah. Aku maki Silvana dengan kata kata kasarku. Silvana santai 
menghadapinya.Aku ga bisa melihat ia memeluk Ema,aku ga bisa melihat Silvana di 
cium mesra Ema.Aku ga bisa!
Seminggu kemudian hari sabtu malam aku di telpon Silvana yang mengabarkan kalo 
dia sekarang ada di rumah sakit polri.Bergegas aku kesana dan kudapati ia ada 
di ruang ugd dengan muka di perban bagian pipi kanannya.Dengan menahan sakit 
Silvana mengajakku pulang.Sampai di tempat kos barulah temanku bercrita 
banyak.Kalo semua ini adalah perbuatan Ema yang cemburu karna melihat Silvana 
pergi dengan laki-laki.Tampa sepengetahuan Sil,semua baju Silvana digunting 
sehingga tak satupun dapat dipakainya.Puncak dari semuanya ketika Silvana 
merayakan ulang tahunya dan Ema tampa diduga mengeluarkan silet langsung 
menghujani wajah Silvana.Kemudian Ema langsung melarikan 
diri.Duh....Sil,bukankah Ema itu kekasihmu?sayang padamu?kenapa ia tega 
melakukan ini semua padamu.
Kudekap temanku yang cantik ini ketika ia selesai bercrita.Rambutnya yang ikal 
panjang masih 
menyisahkan bau anyir darah.Apa yang harus kulakukan saat perempuan cantik ini 
menangis.
"Apakah jalanku salah hon?"tanya Silvana tiba-tiba.Aku tergagap mendengar 
pertanyaannya.Haruskah kusalahkan Silvana dengan semua kejadian yang menimpa 
dirinya.
Aku ga tahu?Yang pasti tidak ada yang namanya mencintai itu saling 
menyakiti.Tidak ada istilah kalo pasangan sesama jenis akan lebih besar rasa 
cemburunya,akan lebih kejam apabila
tersakiti.Semua manusia diberi rasa sayang,rasa kasih,rasa benci dan rasa rasa 
yang lain  oleh sang pencipta.Tinggal bagaimana kita menjaganya,sehingga kita 
bisa mengungkapkan rasa itu sebagaimana mestinya.Tidak ada yang namanya 
cemburu,tidak ada yang namanya sakit hati,tidak ada sikejam dan yang 
lainnya.Sekarang bagaimana kita memerima semua itu dengan ihklas.Kutatap wajah 
Silvana yang terlihat suram.Ia menunggu jawabanku.
"Sil....,tidak ada kejadian yang tidak bermakna.Kejadian yang kamu alami bisa 
dijadikan pelajaran tuk kamu bisa lebih menerima bahwa manusia itu penuh 
kekurangan tapi penuh juga dengan kelebihan.Manusia juga tidak bisa lepas dari 
kehendak sang pencipta dan kita tidak kuasa menghindarinya.Sama dengan dirimu 
jangan karna sakit hati dengan laki-laki,kau coba bermain dengan perempuan 
apapun alasanya.Jangan coba mengingkari dengan semua karunia yang telah Alloh 
tebarkan di dunia ini"jelasku pelan.Silvana mengusap air matanya.Sendu ia 
menatapku."Trimakasih sahabat!"ucap Silvana sambil menggenggam tanganku erat.



      

[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke