Sisi Gelap Itu Jangan Ditutupi

*
*Kekuasaan, dalam bentuk apa pun, hampir selalu dibangun dengan kekerasan,
tidak terkecuali oleh mereka yang memakai jubah agama yang mengatasnamakan
Tuhan. Tidak ada satu agama pun yang bisa melepaskan diri dari kelakuan
penguasa yang amoral, tetapi sering didukung oleh fatwa ulama yang
membenarkan sang penguasa untuk bertindak kejam.


Adapun era Nabi Muhammad SAW tampaknya sebuah perkecualian. Perang memang
terjadi, tetapi semata-mata untuk mempertahankan diri, demi tegaknya
keadilan, keamanan, kebenaran, dan persamaan. Kebijakan Nabi selalu
diarahkan untuk terwujudnya nilai-nilai mulia sebagai cerminan rahmat Allah
untuk seluruh manusia, termasuk mereka yang tidak beriman.


Di era Al-khulafaa' al-raasyiduun (632-661), pilar-pilar moral itu sampai
batas-batas tertentu masih bertahan, khususnya sampai masa 'Umar ibn Khattab
(634-644). Era berikutnya, keadaan sudah mulai kacau, tetapi belum seburuk
era sesudah itu, era Umayyah (661-750) dan era 'Abbasiyah (750-1258).
Khalifah 'Usman bin 'Affan dan Khalifah 'Ali bin Abi Thalib sama-sama
berkuah darah di tangan umat kaum muslimin sendiri yang tidak puas dengan
kebijakan yang ditempuh.


Oleh sebab itu, saya sudah lama berpendapat agar umat Islam jangan
"memberhalakan" masa silam, seakan-akan semuanya itu bebas dari cacat.
Tampaknya sudah menjadi aksioma bahwa setiap kekuasaan sering benar
bersahabat dengan kekerasan. Agama dalam banyak kasus hanya dipakai untuk
menopang sistem kekuasaan yang korup sekalipun.


Dalam buku-buku sejarah muslim, kejahatan yang ditonjolkan adalah yang sudah
sangat keterlaluan. Misalnya, kepala Hussein dipersembahkan kepada Yazid bin
Mu'awiyah di Damaskus, dan Yazid bukan main senangnya karena saingannya dari
Bani Hasyim, musuh bebuyutan Bani Umayyah, telah dapat dilumpuhkan.
Sedangkan Hassan, abang Hussein, sebelumnya malah berdamai dengan Mu'awiyah
bin Abi Sufyan, pendiri dinasti, saingan ayahnya, 'Ali bin Abi Thalib,
dengan imbalan tertentu, mungkin demi menjaga keutuhan umat yang sudah
sangat sulit dipertautkan gara-gara kekuasaan.


Yazid yang juga dipanggil oleh pendukungnya sebagai *amir
al-mu'miniin*(pemimpin kaum beriman) dikenal sebagai pemabuk ulung
dalam pesta-pora, main
perempuan, dan sangat kejam. Tidak saja Hussein yang dibinasakan, siapa saja
yang tidak patuh kepadanya harus dipancung dengan pedang. Adalah penulis
Mesir, Faraj Fouda (dibunuh di kantornya pada 8 Juni 1992 karena dituduh
murtad), dalam karyanya, *al-Haqiiqa al-Ghaaibah* (*Kebenaran yang Hilang*)
--sebentar lagi penerbit Paramadina akan mengedarkan terjemahannya-- yang
dengan sangat berani membongkar sisi-sisi gelap sejarah Arab muslim di masa
lampau itu.


Fouda memusatkan perhatian pada era Al-khulafaa' al-raasyiduun, Umayyah, dan
'Abbasiyah. Tentu sisi positifnya tidak kurang, seperti semakin meluasnya
radius pengaruh Islam. Di era 'Abbasiyah, perkembangan ilmu pengetahuan,
kesenian, filsafat, sufisme, dan teknologi sungguh spektakuler, sehingga
dalam perspektif ini, dunia Islam adalah dunia yang paling maju ketika itu.
Tentang segi gemerlapan ini telah banyak ditulis orang, dan sebagian umat
Islam malah mengidolakannya.


Fouda menengok dari sudut yang buram, berdasarkan sumber-sumber Arab,
seperti Ibn Atsir, al-Mas'udi, Ibn Katsir, al-Thabari, al-Suyuthi,
al-Syaristani, al-Dinuri, dan banyak yang lain. Sumber-sumber Barat
dikesampingkan, sekalipun penulis Barat itu sebenarnya juga mengambil dari
sumber-sumber Arab, tentu dengan tafsirannya sendiri. Tentang Yazid, di sisi
keganasannya, Ibn Katsir mengungkapkan penyimpangan kelakuannya dengan
mencium mayat kekasihnya yang meninggal mendadak karena tercekik. Kita
kutip:


"Pada suatu hari, Yazid juga pernah mengutarakan hasratnya untuk tinggal
berdua saja dengan Habbabah di istananya, untuk selamanya, tanpa ada yang
lain tersisa. Ia pun mewujudkan impiannya itu. Di istananya yang megah,
didatangkanlah Habbabah seorang diri. Berbagai kasur nan empuk digelar,
permadani dibentang. Tatkala mereguk nikmat kebersamaannya dengan Habbabah
dan dalam suasana romansa dan cinta, ia melemparkan anggur ke mulut Habbabah
yang sedang tertawa. Kontan, ia tersedak, lalu mati. Selama berhari-hari,
Yazid tak putus mencium dan memeluk mayat Habbabah. Ketika mayat itu telah
membusuk, barulah ia memerintahkan penguburannya. Setelah mayat itu dikubur,
ia pun menginap di sana selama berhari-hari. Sejak itu, ia tidak keluar
rumah kecuali lembap kelopak matanya" (lihat Fouda, halaman 104-105).


Kecuali 'Umar bin 'Abdul 'Aziz, khalifah-khalifah yang lain, baik Umayyah
maupun 'Abbasiyah, hampir semua berkubang dalam kemewahan, kekejaman, dan
pesta-pora. Saya harap, pengusung bendera khilafah juga mau membaca karya
Fouda ini sebagai cermin untuk berkaca. Di mata Shah Wali-Allah,
kekhilafahan pasca-Al-khulafaa' al-raasyiduun hanya berbeda sedikit dari
kekaisaran Romawi dan kekaisaran Persi kuno.


Ahmad Syafii Maarif

*Guru Besar Sejarah, pendiri Maarif Institute*

[Perspektif, *Gatra* Nomor 38 Beredar Kamis, 31 Juli 2008]


[Non-text portions of this message have been removed]

Kirim email ke